Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Dzulhijjah, Bulan Pendidikan: Belajar dari Nabi Ibrahim Mendidik Anak dan Keluarga

Dzulhijjah pada dasarnya bukan sekadar bulan ritual, tetapi bulan yang menyimpan kurikulum pendidikan keluarga yang sangat kaya.

Tayang:
Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/HO/serambinews
Dr. Muhammad Haikal, Lc., M.H.I adalah Dosen Unisai Samalanga dan Guru Dayah Jeumala Amal Lueng Putu 


Oleh: Dr. Muhammad Haikal, Lc., M.H.I. *)

BAGI banyak orang, Dzulhijjah identik dengan haji, kurban, takbir, dan hari raya. Semua itu benar. Namun, ada satu sisi penting yang sering luput dibicarakan: Dzulhijjah juga dapat dibaca sebagai bulan pendidikan. 

Pada bulan inilah umat Islam tidak hanya diajak mengenang perjalanan spiritual Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail, tetapi juga diajak mempelajari bagaimana sebuah keluarga dibentuk melalui iman, dialog, keteladanan, kesabaran, dan pengorbanan.

Dzulhijjah pada dasarnya bukan sekadar bulan ritual, tetapi bulan yang menyimpan kurikulum pendidikan keluarga yang sangat kaya. Manasik haji, ibadah kurban, pembangunan Ka’bah, hingga kisah penyembelihan Ismail, semuanya menunjukkan bahwa keluarga Nabi Ibrahim adalah keluarga yang dididik langsung dengan nilai-nilai tauhid. 

Karena itu, bila Ramadan sering disebut bulan tarbiyah ruhiyah, maka Dzulhijjah sangat layak disebut sebagai bulan pendidikan keluarga.

Dalam perspektif sejarah Islam, hubungan Dzulhijjah dengan pendidikan keluarga Nabi Ibrahim sangat jelas. Ka’bah yang menjadi pusat ibadah umat Islam dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail. Al-Qur’an merekam momen itu dalam firman Allah, “Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah [2]: 127). 

Ayat ini bukan hanya bicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan generasi. Ismail tidak ditempatkan sekadar sebagai anak yang melihat dari jauh, tetapi dilibatkan dalam kerja suci ayahnya. Dari sini kita belajar bahwa pendidikan terbaik tidak lahir dari ceramah yang panjang, melainkan dari keterlibatan anak dalam amal saleh yang nyata.

Pendidikan tauhid

Dalam kacamata pendidikan Islam, pelajaran pertama dari Nabi Ibrahim adalah pendidikan tauhid. Ibrahim tidak memulai pendidikan keluarga dari urusan duniawi, tetapi dari penanaman iman. Ia berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim [14]: 35). 

Doa ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terbesar seorang ayah saleh bukan semata-mata soal kemiskinan, pendidikan formal, atau status sosial anak, tetapi keselamatan iman keluarganya.
Di sinilah letak kekuatan pendidikan Islam. Pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan orientasi hidup. 

Anak harus tahu siapa Tuhannya, untuk apa ia hidup, dan nilai apa yang harus dijaga. Nabi Ibrahim memberi teladan bahwa keluarga harus dibangun di atas akidah yang kokoh. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa Ibrahim mewasiatkan agama ini kepada anak-anaknya agar tetap hidup dan mati dalam kepasrahan kepada Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 132). 

Dengan kata lain, keluarga yang kuat adalah keluarga yang memiliki arah spiritual yang jelas.
Pelajaran kedua adalah pendidikan ibadah. Ketika Nabi Ibrahim menempatkan sebagian keluarganya di lembah tandus dekat Baitullah, beliau menjelaskan tujuannya dengan sangat tegas: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan salat” (QS. Ibrahim [14]: 37). Ini sangat penting. 

Nabi Ibrahim tidak mendidik keluarganya hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk hidup dalam ibadah. Artinya, dalam pandangan pendidikan Islam, rumah tangga bukan sekadar tempat makan, tidur, dan mencari nafkah. 

Rumah tangga adalah tempat lahirnya manusia yang mengenal salat, doa, syukur, sabar, dan tawakal. Orang tua bukan hanya penanggung biaya hidup anak, tetapi juga penanggung jawab tumbuhnya iman di dalam rumah. Maka, Dzulhijjah mengingatkan para orang tua bahwa pendidikan anak tidak cukup dengan menyekolahkan, tetapi juga harus menanamkan ibadah sebagai denyut kehidupan keluarga.

Pendidikan dialogis

Pelajaran ketiga yang sangat kuat adalah pendidikan dialogis. Kisah paling agung dalam Dzulhijjah tentu adalah perintah penyembelihan Ismail. Yang menarik, Nabi Ibrahim tidak menyampaikan perintah itu secara otoriter. Beliau berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu” (QS. Ash-Saffat [37]: 102). Kalimat ini sangat mendidik. Ibrahim tidak memaksa dengan bahasa kekuasaan, tetapi mengajak anak berdialog, memahami, dan ikut memiliki keputusan moral itu.

Dalam sudut pandang psikologi pendidikan, cara ini sangat modern. Anak yang diajak berdialog akan lebih mudah menginternalisasi nilai daripada anak yang hanya dibiasakan taat secara mekanis. Nabi Ibrahim memberi ruang pada Ismail untuk menjawab, dan jawaban Ismail menunjukkan kematangan luar biasa: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Saffat [37]: 102). 

Di sini kita melihat bahwa pendidikan yang berhasil bukan pendidikan yang menghasilkan anak penurut semata, tetapi anak yang paham, sadar, dan rela menempuh kebenaran.
Psikologi pendidikan modern juga menekankan pentingnya keteladanan. Albert Bandura, dalam teori social learning, menjelaskan bahwa anak belajar banyak hal dengan cara mengamati model yang dekat dengannya. 

Dalam konteks ini, Nabi Ibrahim tidak hanya menyuruh, tetapi memberi contoh. Ia sendiri taat, sabar, tawakal, dan konsisten. Ismail tumbuh menjadi anak saleh bukan karena nasihat semata, tetapi karena ia menyaksikan nilai itu hidup dalam diri ayahnya. Maka benar, pendidikan keluarga paling efektif bukanlah banyaknya kata-kata, melainkan kuatnya teladan.

Selain itu, kisah Ibrahim juga memperlihatkan pentingnya rasa aman dalam pendidikan anak. Nabi Ibrahim berdoa untuk keamanan negeri, kecukupan rezeki, dan keberlangsungan ibadah keluarganya (QS. Ibrahim [14]: 35-41). Dalam psikologi pendidikan, lingkungan aman sangat menentukan perkembangan emosi dan kepribadian anak. John Bowlby dalam teori attachment menegaskan bahwa anak memerlukan rasa aman, kedekatan emosional, dan stabilitas relasi agar tumbuh sehat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim, selain menanamkan iman, juga memikirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya iman itu.

Karena itu, Dzulhijjah semestinya tidak hanya dipahami sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum membenahi pendidikan keluarga. Orang tua perlu belajar dari Nabi Ibrahim bahwa mendidik anak memerlukan lima hal pokok: tauhid, ibadah, doa, dialog, dan keteladanan. Anak tidak cukup disuruh salat, tetapi harus melihat ayah-ibunya menjaga salat. 

Anak tidak cukup dinasihati agar sabar, tetapi harus melihat bagaimana orang tua sabar menghadapi ujian. Anak tidak cukup diberi larangan, tetapi harus diajak memahami nilai di balik larangan itu.

Bagi masyarakat Aceh, pesan ini sangat relevan. Dzulhijjah jangan hanya ramai pada takbir dan pembagian daging kurban, tetapi juga harus hidup di dalam rumah-rumah sebagai bulan pendidikan. Orang tua dapat menjadikan kisah Nabi Ibrahim sebagai bahan didik keluarga: menceritakan sejarah Ka’bah kepada anak, mengajak mereka memahami makna pengorbanan, membiasakan doa bersama, melibatkan anak dalam ibadah sosial, dan menanamkan bahwa keluarga yang kuat bukan keluarga yang kaya, tetapi keluarga yang taat.

Pada akhirnya, Dzulhijjah mengajarkan bahwa keluarga besar dalam Islam tidak dibangun oleh kenyamanan semata, melainkan oleh pendidikan iman yang konsisten. Nabi Ibrahim tidak mewariskan istana, tetapi mewariskan tauhid. Ia tidak hanya membangun Ka’bah, tetapi juga membangun jiwa anak dan keluarganya. Di situlah makna terdalam Dzulhijjah sebagai bulan pendidikan: bulan yang mengajarkan kita bahwa rumah tangga yang benar-benar kokoh adalah rumah tangga yang dibimbing oleh iman, diperkuat oleh ibadah, dihangatkan oleh dialog, dan dijaga dengan keteladanan.

*) PENULIS adalah Dosen UNISAI Samalanga dan Guru Dayah Jeumala Amal Lueng Putu

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved