Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Transformasi 5 Pilar Inovasi untuk Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera

Data dari Kementerian Desa menunjukkan bahwa hingga tahun 2025, masih ada sekitar 12.000 desa berstatus tertinggal.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

INDONESIA menyalurkan Dana Desa sebesar Rp71 triliun pada tahun 2025. Jumlah ini hampir sama dengan realisasi tahun 2024 yang mencapai Rp70,9 triliun.

Dengan alokasi sebesar itu, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah dana ini hanya dibagi habis kepada warga, atau dijadikan modal investasi pembangunan desa?

Data dari Kementerian Desa menunjukkan bahwa hingga tahun 2025, masih ada sekitar 12.000 desa berstatus tertinggal. Sebanyak 42.000 desa lainnya berstatus berkembang, dan hanya 8.000 desa yang mencapai status maju atau mandiri.

Angka ini menandakan bahwa transformasi desa masih menjadi pekerjaan besar. Konsep desa mandiri membutuhkan terobosan konkret.

Baca juga: Ketahanan Finansial Keluarga

Berdasarkan praktik di berbagai daerah, transformasi desa dapat dibangun di atas Lima Pilar Inovasi. Kelima pilar itu adalah: (1) Gampong Tangguh Bencana, (2) Bank Sampah dan Energi Terbarukan, (3) Lumbung Pangan dan Air Bersih, (4) revitalisasi Adat dan Syariat sebagai penyelesaian konflik, serta (5) digitalisasi dan kolaborasi.

Kelima pilar ini bukan sekadar wacana. Mereka telah terbukti mengangkat status desa dari tertinggal menjadi mandiri dalam kurun tiga hingga lima tahun.

Pilar Pertama: Gampong Tangguh Bencana

Desa tangguh bencana adalah desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi, menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri secara cepat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 1.210 bencana alam di Indonesia.

Banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung menjadi tiga jenis bencana paling sering melanda wilayah perdesaan.

Gampong Lamgugop di Banda Aceh menjalankan program tangguh bencana dengan tim siaga yang beranggotakan 25 orang. Mereka memiliki jalur evakuasi sepanjang 1,2 kilometer, lumbung pangan darurat, dan SOP yang terintegrasi dengan kearifan lokal smong.

Kearifan smong adalah sistem peringatan dini tradisional masyarakat Simeulue dan Aceh untuk tsunami. Data dari BPBD Aceh menunjukkan bahwa desa yang menerapkan sistem smong berhasil menekan angka korban jiwa hingga 90 persen saat gempa dan tsunami.

Kabupaten Semarang meningkatkan jumlah desa tangguh bencana menjadi 74 desa pada tahun 2025. Kabupaten Rembang menargetkan 100 desa tangguh bencana pada tahun 2026. Kabupaten Tuban telah menetapkan 152 desa berstatus Destana.

Angka-angka ini membuktikan bahwa kesiapsiagaan desa terhadap bencana bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Desa tangguh bencana dapat memotong waktu respons darurat dari yang biasanya 4 jam menjadi di bawah 1 jam.

Pilar Kedua: Bank Sampah dan Energi Terbarukan

Bank sampah mengubah limbah menjadi sumber ekonomi dan lingkungan yang bersih. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia menghasilkan 38,2 juta ton sampah.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved