Sabtu, 6 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Menyingkap Bisnis Tepas Bambu dan Kurungan Ayam di Buket Teukuh

Saya berhenti di sebuah rumah untuk melihat langsung sembari berbincang-bincang dengan Alamsyah, salah seorang perajin kurungan ayam

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
M. ZUBAIR, S.H., M.H, pemerhati UMKM dan kearifan lokal Aceh, melaporkan dari Bireuen 

M. ZUBAIR, S.H., M.H, pemerhati UMKM dan kearifan lokal Aceh, melaporkan dari Bireuen

Pada Minggu pagi tanggal 17 Mei lalu saya joging untuk kebugaran tubuh  dari tempat saya tinggal sampai ke Desa Buket Teukuh, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen.

Di desa yang berjarak lebih kurang 5,4 km dari Kota Bireuen itu terlihat ramai warganya di depan rumah masing-masing pada pagi hari yang masih dingin menganyam kulit bambu untuk dijadikan tepas.

Di sudut lain ada bapak-bapak yang asyik memotong bambu untuk dibuat kurungan ayam berbentuk kerucut dan dibantu oleh anak-anak dan istrinya.

Saya berhenti di sebuah rumah untuk melihat langsung sembari berbincang-bincang dengan Alamsyah, salah seorang perajin kurungan ayam. 

Dalam perbincangan kami terkuak bahwa usaha rumahan itu telah mereka jalani secara turun-temurun dan menjadi mata pencaharian untuk kehidupan sehari-hari. Tetangganya yang sedang mengupas kulit bambu dari batangnya tiba-tiba nyelutuk, “Ya, Pak. Kegiatan ini telah kami lakoni dari kakek nenek kami dulu sampai sekarang, dan alhamdulillah masih mampu kami teruskan di zaman modern ini.”

Dalam perjalanan pulang jalan kaki ke rumah terngiang di pikiran saya bahwa di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, masih ada denyut ekonomi tradisional yang tetap bertahan dalam kesederhanaannya.

Hampir di setiap sudut Desa Buket Teukuh, masyarakat terus menjaga warisan leluhur berupa kerajinan tepas bambu dan kurungan ayam yang telah hidup turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Aktivitas itu bukan sekadar pekerjaan sambilan, melainkan menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian warga desa tersebut.

Kerajinan bambu di desa ini telah menjadi identitas masyarakat. Hampir di setiap lorong desa, suara irisan bambu dan ketukan palu memaku kurungan ayam terdengar dari rumah-rumah warga. Para lelaki biasanya bertugas membelah bambu dan membentuk rangka, sedangkan kaum perempuan membantu proses penganyaman hingga penyelesaian akhir. Tradisi ini diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka sejak usia dini.

Tepas bambu yang diproduksi masyarakat memiliki berbagai fungsi. Ada yang digunakan sebagai dinding rumah tradisional, penutup dapur, sekat ruangan, hingga kebutuhan kafe-kafe yang tumbuh marak saat ini bak jamur di musim hujan. Sementara, kurungan ayam menjadi barang yang tetap diminati masyarakat pedesaan dan perkotaan karena dianggap lebih kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan dibandingkan produk plastik atau besi pabrikan.

Menurut Pak Alamsyah, tiap kali selesai membuat produk tepas atau kurungan ayam, pasti datang agen untuk membeli dalam partai banyak dan umumnya dibawa untuk pemasaran di luar Bireuen. Menurutnya, tepas ukuran 4x2 meter dibeli dengan harga Rp80.000 per lembar, sedangkan kurungan ayam berkisar antara Rp70.000-80.000 per unit.

Bagi warga Desa Buket Teukuh, bambu bukan hanya tanaman biasa. Ia telah menjadi sumber kehidupan. Dari sebatang bambu, para perajin mampu menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi. Dalam sehari, seorang perajin dapat menyelesaikan lima lembar tepas bambu atau dua hingga tiga kurungan ayam. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya.

Namun, di balik ketekunan para perajin, terdapat persoalan besar yang mulai dirasakan dalam beberapa tahun terakhir, yakni semakin sulitnya mendapatkan bahan baku bambu. Dahulu, bambu mudah ditemukan di sekitar desa dan kawasan kebun warga. Kini, banyak rumpun bambu telah dibersihkan untuk kebutuhan pembangunan rumah, pembukaan lahan, maupun proyek infrastruktur. Akibatnya, para perajin harus mencari bambu hingga ke daerah lain di luar desa. Harga bambu pun semakin mahal. Jika sebelumnya bambu dapat diperoleh dengan biaya murah atau bahkan mengambil langsung di kebun sendiri, kini sebatang bambu berkualitas bisa dibeli dengan harga yang cukup tinggi. Kondisi tersebut tentu memengaruhi biaya produksi para perajin.

Berdasarkan informasi Pak Alamsyah, harga bambu sekarang berkisar antara Rp23.000-Rp 25.000 per batang. Dengan demikian, untung yang didapatkan sangatlah tipis, sehingga kaum bapak di desa ini harus berkerja lain untuk menutupi kebutuhan keluarga. Pak Alamsyah sendiri dan beberapa tetangganya, sekitar pukul 8 pagi berangkat keluar rumah menjadi kuli bangunan, sedangkan usaha bambu dilanjutkan oleh keluarganya. Semua itu dilakukan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya dengan harga beli yang semakin tinggi.

Tidak hanya itu, kehadiran produk modern berbahan plastik dan besi juga mulai mengurangi minat sebagian warga terhadap produk tradisional. Generasi muda pun banyak yang memilih pekerjaan lain karena menganggap kerajinan bambu kurang menjanjikan secara ekonomi dibandingkan pekerjaan modern di era digital.

Meski demikian, para perajin di Desa Buket Teukuh tetap bertahan. Mereka percaya bahwa kerajinan tradisional memiliki nilai seni dan budaya yang tidak dapat digantikan oleh produk pabrikan. Bahkan, di era digital saat ini, beberapa perajin mulai coba memasarkan produknya melalui media sosial dan platform daring.

Anak-anak muda desa mulai membantu orang tua mereka memotret hasil kerajinan, lalu mengunggahnya ke internet untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Perubahan pola pemasaran ini diharapkan perlahan membuka peluang baru. Jika dahulu penjualan hanya mengandalkan pasar tradisional atau pembeli lokal, kini produk kerajinan bambu mulai dikenal hingga ke luar daerah.

Teknologi digital memberi ruang bagi usaha tradisional untuk tetap hidup di tengah persaingan zaman modern.

Pada tahap ini juga sangat dibutuhkan peran pemerintah untuk memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat menghadapi tantangan perkembangan zaman yang terus melesat.

Kelompok-kelompok informasi gampong yang sudah terbentuk hampir di setiap gampong dalam Kabupaten Bireuen hasil binaan Diskominsa juga diharapkan dapat mempromosikan usaha kerajinan bambu tersebut melalui ‘website’ gampong sehingga diketahui publik secara luas.

Selain memiliki nilai ekonomi, kerajinan tepas bambu dan kurungan ayam juga menyimpan nilai budaya yang penting untuk dijaga. Anyaman bambu mencerminkan ketelitian, kesabaran, dan kearifan lokal masyarakat Aceh dalam memanfaatkan alam secara berkelanjutan. Penggunaan bahan alami menjadikan produk ini lebih ramah lingkungan dibandingkan produk sintetis.

Oleh karena itu, perhatian pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan agar kerajinan tradisional ini tidak hilang ditelan zaman. Dukungan berupa pelatihan pemasaran digital, bantuan modal usaha, hingga program pelestarian tanaman bambu dapat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para perajin.

Di balik kesederhanaan anyaman bambu di Desa Buket Teukuh, tersimpan cerita perjuangan ekonomi masyarakat yang terus bertahan dan berkelindan dari generasi ke generasi. Mereka bukan hanya membuat tepas bambu dan kurungan ayam, melainkan juga menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah kemajuan teknologi digital dewasa ini.

Kerajinan itu menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas sebenarnya dapat berjalan beriringan. Selama masih ada tangan-tangan yang tekun menganyam bambu, selama itu pula identitas budaya masyarakat desa akan tetap lestari di Kabupaten Bireuen.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved