Sabtu, 6 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Pelemahan Rupiah bukan Kasus Baru tapi Krisis yang Telah Lama Diperingatkan

Selama ini masyarakat diajarkan bahwa pelemahan Rupiah merupakan sesuatu yang wajar dalam mekanisme ekonomi global.

Tayang:
Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
Eva Herlina, Dosen dan Pegiat Literasi Islam 

Karena itu, krisis Rupiah hari ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan kurs. 

Ia adalah alarm yang mengingatkan bahwa ada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar fluktuasi pasar harian. 

Pelemahan Rupiah menunjukkan betapa eratnya ketergantungan ekonomi nasional terhadap sistem keuangan global yang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan di luar negeri.

Masyarakat boleh saja terus disuguhi penjelasan mengenai perang, geopolitik, arus modal, maupun kebijakan suku bunga negara maju. 

Namun semua itu pada hakikatnya lebih banyak menjelaskan pemicu krisis, bukan akar persoalannya.

Akar persoalannya adalah sistem ekonomi yang menjadikan uang sebagai instrumen yang nilainya bergantung pada kepercayaan pasar dan pergerakan modal global. 

Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali

Selama fondasi tersebut tidak dikaji secara kritis, maka krisis serupa akan terus berulang dengan berbagai nama dan sebab yang berbeda.

Hari ini bernama pelemahan Rupiah. Besok bisa bernama inflasi. Lusa mungkin bernama krisis utang atau resesi ekonomi. 

Namun rakyat tetap menjadi pihak yang menanggung dampaknya.

Karena itu, sudah saatnya umat Islam memandang persoalan ekonomi tidak hanya dari sudut kebijakan jangka pendek, tetapi juga dari sudut pandang sistem yang menjadi fondasinya. 

Ketika krisis terus berulang dan ketergantungan terhadap mata uang asing semakin besar, maka kajian terhadap sistem ekonomi Islam bukan lagi sekadar wacana akademik, melainkan kebutuhan yang layak dipertimbangkan secara serius.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap krisis selalu melahirkan pertanyaan besar tentang sistem yang melahirkannya. 

Ketika Rupiah terus melemah dan rakyat kembali diminta menanggung dampaknya, mungkin sudah saatnya pertanyaan itu diajukan dengan lebih berani.

Apakah sistem ekonomi yang ada saat ini benar-benar mampu menghadirkan stabilitas dan keadilan, atau justru menjadi bagian dari persoalan itu sendiri?

Sebab selama akar persoalan tidak disentuh, krisis hanya akan berganti nama, sementara beban yang ditanggung rakyat tetap sama.(*)

  • Penulis Adalah Dosen dan Pegiat Literasi Islam

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved