Sabtu, 6 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Pelemahan Rupiah bukan Kasus Baru tapi Krisis yang Telah Lama Diperingatkan

Selama ini masyarakat diajarkan bahwa pelemahan Rupiah merupakan sesuatu yang wajar dalam mekanisme ekonomi global.

Tayang:
Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
Eva Herlina, Dosen dan Pegiat Literasi Islam 

Nilai mata uang bergantung pada kepercayaan pasar, kebijakan moneter, arus modal, dan berbagai dinamika ekonomi global. 

Akibatnya, stabilitas ekonomi menjadi sangat rentan terhadap perubahan sentimen dan kepentingan yang berada di luar kendali masyarakat.

Ketika modal asing masuk, perekonomian tampak kuat. Ketika modal asing keluar, mata uang melemah. 

Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat. Ketika harga energi dunia naik, biaya hidup masyarakat ikut terdorong naik. 

Rakyat akhirnya menjadi pihak yang paling dahulu merasakan dampaknya.

Padahal dalam pandangan Islam, uang bukan sekadar simbol kepercayaan yang nilainya dapat berubah mengikuti sentimen pasar. 

Islam mengenal emas dan perak sebagai standar nilai yang memiliki nilai intrinsik. 

Dinar dan dirham bukan hanya alat tukar, melainkan ukuran nilai yang memiliki dasar nyata.

Berbagai ketentuan syariah menunjukkan kedudukan khusus emas dan perak. 

Baca juga: Siap-Siap, Ini Jenis Barang yang Bakal Naik Jika Rupiah Terus Melemah, Saat Ini Rp18.034 per USD

Nishab zakat ditetapkan berdasarkan emas dan perak. Ketentuan-ketentuan muamalah klasik juga merujuk kepada keduanya sebagai standar nilai. 

Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang uang bukan sekadar instrumen transaksi, melainkan bagian dari mekanisme ekonomi yang harus menjaga keadilan dan stabilitas.

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam pembahasannya mengenai sistem ekonomi Islam menjelaskan, bahwa emas dan perak merupakan dasar sistem moneter Islam. 

Menurut Beliau, penggunaan standar emas dan perak memberikan kestabilan yang lebih kuat karena nilai uang tidak bergantung pada kepercayaan pasar semata, melainkan memiliki sandaran pada aset riil yang nyata.

Terlepas dari perbedaan pandangan yang ada di kalangan para ekonom dan ulama kontemporer, krisis nilai tukar yang berulang kali terjadi setidaknya menunjukkan bahwa sistem moneter saat ini memiliki kerentanan yang tidak dapat diabaikan. 

Ketika nilai mata uang dapat melemah drastis dalam waktu singkat akibat perpindahan modal, spekulasi pasar, atau konflik geopolitik, maka wajar jika muncul pertanyaan mengenai ketahanan sistem yang menjadi fondasinya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved