Minggu, 7 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

South Andaman dan Nasib Aceh: Mengapa Sikap Mualem Harus Didukung Penuh?

Kita memiliki pengalaman, tetapi belum memiliki dominasi teknologi. Kita memiliki sejarah produksi energi, tetapi belum menjadi pusat inovasi energi

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Muhammad Fajri (Edo), Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (UNAS) 

Karena itu, South Andaman tidak boleh dikelola dengan paradigma lama.

Baca juga: Polemik Gas Blok Andaman, ForBINA Dorong Skema Win-Win Solution antara Pemerintah Aceh dan Mubadala

Aceh tidak boleh kembali puas hanya dengan menjadi wilayah penghasil bahan mentah. Aceh tidak boleh hanya menghitung besarnya dana bagi hasil atau nilai investasi yang masuk. 

Aceh harus mulai menghitung berapa banyak insinyur yang dilahirkan, berapa banyak tenaga ahli yang tersertifikasi internasional, berapa banyak pusat riset yang dibangun, dan berapa besar kapasitas teknologi yang berhasil diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam literatur ekonomi politik, fenomena ini dikenal sebagai perbedaan antara extractive development dan transformative development. 

Pembangunan ekstraktif hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Sebaliknya, pembangunan transformatif menghasilkan perubahan struktur ekonomi dan peningkatan kualitas manusia yang bertahan lintas generasi.

Baca juga: Terkait Gas Andaman, Presiden Forum Komunikasi Mahasiswa Pasee : Jangan Biarkan Aceh Jadi Penonton 

Pertanyaannya, model pembangunan mana yang sedang diperjuangkan Aceh?

Melalui sikapnya terhadap South Andaman, Gubernur Aceh sesungguhnya sedang mengirimkan pesan yang sangat jelas: bahwa Aceh tidak boleh lagi ditempatkan hanya sebagai lokasi eksploitasi sumber daya. 

Aceh harus menjadi bagian dari rantai nilai, pusat pengembangan SDM, pusat pertumbuhan industri, dan penerima manfaat utama dari kekayaan yang berasal dari wilayahnya sendiri.

Posisi ini patut didukung penuh.

Mengapa?

Karena tantangan terbesar Aceh hari ini bukanlah kekurangan sumber daya alam, melainkan keterbatasan kualitas SDM yang mampu mengelola sumber daya tersebut secara mandiri.

Data pembangunan menunjukkan bahwa daya saing tenaga kerja Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kualitas pendidikan, kompetensi teknis, produktivitas, hingga keterhubungan dengan kebutuhan industri global.

Baca juga: Tegas! KPA Mintas Gas Blok Andaman Selatan Diolah di Aceh, Jubir: Demi Rakyat dan Ekonomi Daerah

Ironisnya, tanpa keberpihakan kebijakan yang kuat, investasi besar justru dapat memperlebar kesenjangan tersebut. Perusahaan akan mendatangkan tenaga ahli dari luar karena kebutuhan kompetensi yang belum tersedia secara lokal.

Akibatnya, proyek berjalan, produksi meningkat, tetapi peningkatan kapasitas SDM Aceh berlangsung sangat lambat.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved