Sabtu, 6 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

South Andaman dan Nasib Aceh: Mengapa Sikap Mualem Harus Didukung Penuh?

Kita memiliki pengalaman, tetapi belum memiliki dominasi teknologi. Kita memiliki sejarah produksi energi, tetapi belum menjadi pusat inovasi energi

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Muhammad Fajri (Edo), Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (UNAS) 

Inilah yang dalam ekonomi pembangunan disebut sebagai enclave economy, yakni ketika aktivitas ekonomi modern tumbuh di suatu wilayah tanpa menciptakan integrasi yang kuat dengan masyarakat lokal.

Kontrak Sosial Baru Investasi

Karena itu, sikap Gubernur Aceh harus dibaca sebagai upaya memutus mata rantai enclave tersebut.

South Andaman harus menjadi pintu masuk lahirnya kontrak sosial baru antara investasi dan pembangunan daerah.

Baca juga: Piala Dunia: Media Pembelajaran Modern Lintas Generasi

Setiap pengembangan lapangan migas harus disertai kewajiban yang jelas mengenai transfer teknologi, peningkatan kandungan lokal, penguatan pendidikan vokasi, kemitraan universitas dengan industri, program magang berskala besar, serta target penyerapan tenaga kerja Aceh yang terukur.

Jika syarat-syarat tersebut tidak diperjuangkan sejak awal, maka Aceh berpotensi kembali menjadi penonton di rumah sendiri.

Lebih jauh lagi, keberanian Gubernur Aceh dalam memperjuangkan kepentingan daerah sesungguhnya mencerminkan praktik developmental leadership yang semakin langka di tengah arus liberalisasi ekonomi global.

Kepemimpinan pembangunan bukanlah kepemimpinan yang sekadar mengejar realisasi investasi setinggi mungkin, melainkan kepemimpinan yang mampu memastikan investasi menghasilkan perubahan struktural bagi masyarakat.

Baca juga: Waspada, Ternyata Begini Bahaya Jika Sering Main HP Sebelum Tidur

Dalam konteks ini, keberhasilan South Andaman tidak boleh diukur dari berapa miliar dolar investasi yang masuk atau berapa triliun kaki kubik gas yang diproduksi.

Ukuran keberhasilannya harus lebih tinggi dari itu: apakah proyek ini mampu mengubah struktur ekonomi Aceh dan meningkatkan kualitas SDM Aceh secara signifikan.

Pada akhirnya, gas South Andaman akan habis. Cepat atau lambat, seluruh cadangan yang hari ini diperebutkan akan keluar dari perut bumi Aceh.

Namun ada satu hal yang seharusnya tetap tinggal setelah seluruh gas itu habis: manusia Aceh yang lebih unggul, lebih terampil, lebih inovatif, dan lebih siap bersaing di tingkat global.

Karena itu, dukungan terhadap sikap Gubernur Aceh bukan semata-mata dukungan terhadap sebuah kebijakan teknis.

Baca juga: Guru Besar UIN Ar-Raniry Dukung Gagasan Gubernur Minta Gas Blok Andaman Selatan Diolah di KEK Arun

Ini adalah dukungan terhadap visi pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat kemajuan.

Ini adalah dukungan terhadap gagasan bahwa kekayaan alam harus menjadi sarana membangun peradaban, bukan sekadar sumber pendapatan.

Jika South Andaman hanya menghasilkan gas, maka Aceh sedang menjual masa kini. Tetapi jika South Andaman mampu melahirkan SDM unggul, pusat inovasi, dan industri masa depan, maka Aceh sedang membangun abad berikutnya. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved