Pojok Humam Hamid
Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela?
Dalam konteks Barsela, peran tersebut berpotensi dimainkan oleh Universitas Teuku Umar.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Ketimpangan pembangunan antara Pantai Timur dan Pantai Barat Aceh bukanlah fenomena yang lahir dalam satu atau dua dekade terakhir. Ia merupakan produk sejarah panjang yang berlangsung selama berabad-abad.
Ketika kita berbicara tentang kesenjangan ekonomi, infrastruktur, investasi, dan kualitas sumber daya manusia antara kedua kawasan tersebut, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang warisan sejarah yang dibentuk oleh geografi, perdagangan, kekuasaan politik, dan arah pembangunan yang berlangsung lintas generasi.
Sejak masa awal pembentukan peradaban Aceh, pusat-pusat kekuasaan dan perdagangan tumbuh di wilayah yang menghadap Selat Malaka.
Baca juga: KPIA Laporkan Perkembangan Pengawasan Medsos Aceh ke Komisi I DPRA
Kesultanan Perlak, Samudra Pasai, hingga Kesultanan Aceh Darussalam berkembang karena kedudukannya yang strategis pada jalur perdagangan internasional yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Tiongkok.
Selat Malaka pada masa itu merupakan salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia. Siapa yang menguasainya memperoleh keuntungan ekonomi, politik, dan budaya yang sangat besar.
Dalam konteks tersebut, wilayah Pantai Timur dan Utara Aceh memperoleh keuntungan geografis yang luar biasa.
Pelabuhan berkembang, perdagangan tumbuh, penduduk terkonsentrasi, dan aktivitas pemerintahan berkembang di kawasan tersebut.
Baca juga: Bupati Abdya Safaruddin Jagokan Portugal dan Prancis di Piala Dunia 2026
Sebaliknya, wilayah Pantai Barat dan Selatan - Aceh Jaya hingga Singkil -yang menghadap Samudra Hindia relatif berada di luar arus utama perdagangan internasional.
Bukan berarti kawasan ini tidak memiliki sumber daya atau potensi ekonomi, tetapi posisinya berada di pinggiran jaringan perdagangan yang menjadi sumber kemakmuran Aceh pada masa itu.
Di sinilah akar ketimpangan wilayah mulai terbentuk.
Memasuki masa kolonial, pola tersebut tidak berubah, bahkan semakin menguat. Pemerintah kolonial membangun infrastruktur terutama untuk mendukung aktivitas ekonomi yang telah berkembang sebelumnya.
Jalan, pelabuhan, perkebunan ekspor, pusat administrasi, dan berbagai fasilitas ekonomi lebih banyak dibangun di kawasan timur. Investasi mengikuti pusat pertumbuhan yang telah ada.
Akibatnya, modal, tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi semakin terkonsentrasi di wilayah yang memang sudah lebih maju.
Tidak Setara
Sementara itu, Pantai Barat dan Selatan tetap berkembang lebih lambat. Wilayah ini kaya sumber daya alam, tetapi tidak memperoleh tingkat investasi infrastruktur yang setara.
Ketika ekonomi modern mulai tumbuh di berbagai kawasan lain, sebagian besar Barsela masih menghadapi persoalan konektivitas dasar.
Setelah Indonesia merdeka, ketimpangan tersebut belum sepenuhnya teratasi.
Bahkan hingga beberapa dekade lalu, banyak wilayah di Barsela masih menghadapi hambatan transportasi yang serius. Jalan lintas pantai barat belum tersambung secara memadai.
Baca juga: Satpol PP dan WH Banda Aceh Sidak Tempat Gym hingga Pedagang di Bahu Jalan, Ini Temuannya
Banyak sungai besar yang harus diseberangi menggunakan rakit. Mobilitas masyarakat berlangsung lambat dan mahal. Dalam kondisi seperti itu, sulit mengharapkan munculnya investasi besar atau aktivitas ekonomi yang dinamis.
Padahal sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa konektivitas merupakan syarat dasar bagi pertumbuhan ekonomi. Wilayah yang terisolasi akan sulit menarik investasi, sulit mengembangkan industri, dan sulit menciptakan pasar yang efisien.
Akibatnya, pemanfaatan sumber daya alam cenderung bersifat ekstraktif. Sumber daya diambil dan dijual keluar tanpa menciptakan pusat pertumbuhan baru di daerah asalnya.
Perubahan mulai terjadi ketika pembangunan infrastruktur mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Pada masa kepemimpinan Ibrahim Hasan, pembangunan jalan dan jembatan mulai mengurangi berbagai hambatan transportasi yang selama puluhan tahun membatasi perkembangan Barsela.
Mobilitas barang dan manusia menjadi lebih mudah. Pada saat yang sama, perkebunan kelapa sawit mulai berkembang dan menciptakan fondasi ekonomi baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam skala besar.
Baca juga: Polisi Ungkap Peran Tersangka Pembakaran Fakultas Pertanian USK, Ada yang Diduga Lempar Molotov
Namun momentum paling besar datang setelah tsunami 2004. Tragedi yang membawa penderitaan luar biasa bagi Aceh itu secara paradoks juga mempercepat pembangunan infrastruktur yang selama bertahun-tahun tertunda.
Rekonstruksi pascatsunami mempercepat penyelesaian jalan lintas Barat-Selatan dan meningkatkan konektivitas kawasan secara signifikan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Barsela memiliki akses darat yang relatif setara dengan kawasan timur.
Perubahan ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan jalan.
Sesungguhnya yang sedang terjadi adalah perubahan struktur ekonomi kawasan. Konektivitas yang lebih baik membuka ruang bagi munculnya berbagai aktivitas ekonomi baru. Perkebunan kelapa sawit berkembang pesat.
Industri pengolahan awal sawit mulai tumbuh. Potensi pertambangan batu bara semakin menarik perhatian. Eksplorasi berbagai mineral strategis mulai dilakukan. Di sisi lain, sektor perikanan dan kelautan memperoleh peluang baru karena akses pasar yang semakin terbuka.
Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur telah mengurangi hambatan historis yang selama berabad-abad membatasi perkembangan Barsela.
Baca juga: VIDEO Media Iran Klaim Serangan Iran Capai 70 Persen di Pangkalan Militer AS
Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah pembangunan jalan dan jembatan saja cukup untuk mengejar ketertinggalan yang telah berlangsung selama ratusan tahun?
Jawabannya kemungkinan besar tidak.
Sejarah pembangunan berbagai negara menunjukkan bahwa infrastruktur fisik memang penting, tetapi tidak cukup. Jalan raya dapat mempercepat arus barang.
Yang Lebih Penting dari Infrastruktur
Pelabuhan dapat memperlancar perdagangan. Bandara dapat membuka akses investasi.
Akan tetapi, pada abad ke-21, faktor yang paling menentukan daya saing suatu wilayah bukan lagi sekadar infrastruktur fisik. Yang semakin menentukan adalah kualitas sumber daya manusia, kemampuan inovasi, kapasitas penelitian, dan penguasaan teknologi.
Pada titik inilah peran universitas menjadi sangat penting.
Jika pada abad ke-19 pelabuhan menjadi simpul utama pertumbuhan ekonomi, maka pada abad ke-21 universitas berpotensi menjadi simpul utama pertumbuhan berbasis pengetahuan.
Baca juga: Orangtua tak Repot Lagi Urus KIA ke Dinas, Disdukcapil Gandeng 40 PAUD dan TK di Banda Aceh
Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan. Universitas menghasilkan ide, teknologi, inovasi, kepemimpinan, dan solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan.
Dalam konteks Barsela, peran tersebut berpotensi dimainkan oleh Universitas Teuku Umar.
Keberadaan UTU sesungguhnya memiliki makna yang jauh melampaui fungsi akademik biasa. Kampus ini berada di tengah kawasan yang sedang mengalami transformasi ekonomi.
Di satu sisi terdapat perkebunan sawit yang luas. Di sisi lain terdapat potensi pertambangan yang besar. Di sepanjang pesisir terbentang sumber daya kelautan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Seluruh potensi tersebut membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia agar dapat menghasilkan nilai tambah yang tinggi.
Baca juga: VIDEO - Rekaman Terakhir Elmi di Apparalang Bikin Merinding, Pernyataan Baim Wong Disorot
Tanpa dukungan pengetahuan, sawit hanya akan menjadi komoditas mentah. Tanpa dukungan penelitian, pertambangan hanya akan menjadi aktivitas ekstraksi yang meninggalkan kerusakan lingkungan. Tanpa inovasi, sumber daya kelautan hanya akan menghasilkan nilai ekonomi yang terbatas.
Karena itu, masa depan Barsela tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi pengetahuan, teknologi, dan industri bernilai tambah.
Tiga Pilar Penting
Dalam konteks ini terdapat setidaknya tiga pilar ekonomi yang dapat menjadi fondasi masa depan Barsela.
Pilar pertama adalah sawit dan hilirisasi industri. Selama ini sebagian besar manfaat ekonomi sawit masih berasal dari produksi bahan mentah. Padahal nilai tambah terbesar justru berada pada sektor hilir.
Industri oleokimia, bioenergi, produk pangan, kosmetik, farmasi, dan berbagai produk turunan lainnya dapat menciptakan lapangan kerja yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar produksi tandan buah segar.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penelitian, inovasi, dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan. Di sinilah peran universitas menjadi krusial.
Baca juga: UIA Bireuen Gelar Program KPM Terpadu Internasional, Ini Ketentuannya
Pilar kedua adalah mineral strategis masa depan. Dunia saat ini sedang bergerak menuju ekonomi berbasis teknologi tinggi yang membutuhkan berbagai mineral kritis.
Batu bara, emas, tembaga, logam tanah jarang, dan berbagai sumber daya lainnya memiliki nilai strategis yang semakin meningkat. Namun pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa kekayaan mineral tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan.
Bahkan tidak sedikit daerah kaya sumber daya yang tetap tertinggal karena tidak mampu mengelola kekayaannya secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, penelitian mengenai eksplorasi, hilirisasi, reklamasi pascatambang, dan pengelolaan lingkungan harus menjadi agenda penting pembangunan kawasan.
Pilar ketiga adalah ekonomi kelautan Samudra Hindia. Selama ini orientasi ekonomi Aceh lebih banyak tertuju ke Selat Malaka. Padahal Samudra Hindia menyimpan peluang ekonomi yang sangat besar.
Perikanan tangkap modern, budidaya laut, industri pengolahan hasil laut, hingga pengembangan ekonomi biru dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Barsela. Potensi tersebut memerlukan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Baca juga: Masuk Lewat Jalur Laut Tanpa Pemeriksaan Imigrasi, Dua WNA Tiongkok Diamankan Imigrasi Sabang
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa transformasi wilayah sering kali berawal dari kemampuan universitas menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan ekonomi lokal.
Pantai Barat Amerika Serikat tidak menjadi pusat teknologi dunia hanya karena memiliki sumber daya alam. Kawasan tersebut berkembang karena universitas seperti Stanford dan Berkeley berhasil melahirkan ekosistem inovasi yang kemudian berkembang menjadi Silicon Valley.
Di Malaysia, transformasi ekonomi Penang tidak dapat dilepaskan dari kontribusi Universiti Sains Malaysia yang menjadi sumber tenaga ahli dan inovasi bagi industri elektronik dan manufaktur.
Sebaliknya, pengalaman Italia Selatan menunjukkan bahwa keberadaan universitas saja tidak cukup. Ketika lulusan terbaik bermigrasi ke wilayah yang lebih maju, pembangunan daerah menjadi terhambat.
Fenomena brain drain menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi wilayah-wilayah yang sedang berkembang.
Baca juga: Jelang Piala Dunia, MPU Banda Aceh: Sepak Bola Hiburan, Bukan Alasan Tinggalkan Shalat
Pelajaran dari berbagai negara tersebut memberikan pesan yang sangat jelas bagi Barsela. Universitas harus menjadi bagian dari solusi pembangunan wilayah. Kampus tidak boleh berdiri terpisah dari persoalan masyarakatnya. Penelitian harus menjawab kebutuhan daerah.
Kurikulum harus mempersiapkan tenaga kerja yang relevan. Inovasi harus berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal.
Di sinilah letak pertanyaan penting bagi masa depan Universitas Teuku Umar.
UTU dan Tantangan Masa Depan
Akankah UTU menjadi universitas yang sekadar menghasilkan lulusan setiap tahun? Ataukah UTU akan berkembang menjadi institusi yang memimpin transformasi ekonomi dan sosial Barsela?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada arah kepemimpinan kampus, kualitas sumber daya akademik, dan kemampuan membangun kolaborasi dengan pemerintah serta dunia usaha.
Baca juga: Masih Tahap Survei Potensi Tambang, 6 WNA China di Aceh Selatan Kantongi Izin Keimigrasian yang Sah
Dalam perspektif pembangunan modern, kemajuan wilayah sering lahir dari kolaborasi tiga unsur utama: pemerintah, industri, dan akademisi. Model yang dikenal sebagai triple helix ini telah menjadi fondasi keberhasilan banyak kawasan di dunia. Universitas berperan menghasilkan pengetahuan.
Industri mengubah pengetahuan menjadi aktivitas ekonomi. Pemerintah menciptakan kebijakan yang mendukung kolaborasi keduanya.
UTU memiliki peluang besar untuk menjadi titik temu ketiga unsur tersebut di Barsela. Kampus dapat menjadi pusat diskusi kebijakan pembangunan, pusat penelitian strategis, sekaligus laboratorium inovasi yang menjawab kebutuhan kawasan.
Karena itu, peran rektor UTU tidak dapat dipandang semata sebagai jabatan administratif akademik. Dalam konteks pembangunan wilayah, rektor sesungguhnya memiliki posisi sebagai pemimpin intelektual regional.
Baca juga: Kejari Nagan Raya Musnahkan Barang Bukti Kasus Narkotika
Ia menentukan arah pengembangan ilmu pengetahuan, menetapkan prioritas riset, membangun jejaring kemitraan, dan mengarahkan kampus agar berkontribusi terhadap masa depan daerah.
Jika jalan lintas Barat-Selatan merupakan simbol berakhirnya isolasi fisik Barsela, maka Universitas Teuku Umar berpotensi menjadi simbol berakhirnya isolasi pengetahuan kawasan ini.
Dan jika itu terjadi, maka sejarah mungkin akan mencatat bahwa transformasi terbesar Barsela pada abad ke-21 bukan hanya lahir dari pembangunan jalan, jembatan, atau investasi sumber daya alam, melainkan dari kemampuan sebuah universitas mengubah kekayaan alam menjadi pengetahuan, inovasi, dan kesejahteraan.
Pada akhirnya, ketimpangan antara Pantai Timur dan Pantai Barat Aceh tidak akan hilang dalam waktu singkat. Ketimpangan tersebut merupakan warisan sejarah yang terbentuk selama berabad-abad.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang pernah berada di pinggiran dapat bangkit ketika mereka berhasil membangun institusi yang kuat, melahirkan kepemimpinan yang visioner, dan mengubah sumber daya alam menjadi sumber daya manusia.
Baca juga: Hampir 20 Tahun tak Dikembalikan, CekMidi Terus Berjuang Selamatkan Manuskrip Warisan Ulama Aceh
Di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Barsela, Universitas Teuku Umar memiliki peluang historis untuk memainkan peran tersebut.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah peluang itu ada, melainkan apakah UTU mampu mengambil peran sebagai transformator yang mempercepat lahirnya babak baru pembangunan Pantai Barat Selatan Aceh.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
pojok humam hamid
Prof Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
opini serambi
Universitas Teuku Umar
Barsela
opini serambinews
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-2.jpg)