Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Rupiah Jatuh karena Ikut Kabur  

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 
Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026.
  • Penurunan nilai rupiah dipicu oleh faktor risiko domestik dan rendahnya kepercayaan pasar terhadap kepastian hukum serta stabilitas politik.
  • Data menunjukkan lonjakan transfer dana dari Indonesia ke Singapura sebesar 187,7 persen pada semester I/2024.
  • Investor cenderung memindahkan aset ke luar negeri karena mencari keamanan dan kredibilitas kebijakan yang lebih stabil.

 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid

Rupiah sedang menulis salah satu halaman paling muram dalam sejarahnya. Pada Juni 2026, nilainya sempat menembus kisaran Rp18.188–Rp18.209 per dolar AS, level terlemah secara nominal.

Pemerintah boleh berkata ini bukan 1998, dan itu benar: sistem kurs berbeda, perbankan lebih kuat, cadangan devisa masih tersedia.

Tetapi rekor tetap rekor. Ia bukan sekadar angka di papan kurs, melainkan bahasa pasar yang sulit dibantah: ada sesuatu dari rumah bernama Indonesia yang sedang diragukan.

Di sinilah ironi #KaburAjaDulu menemukan makna ekonominya. Tagar itu lahir dari keresahan anak muda atas pekerjaan yang sempit, upah yang tertinggal, pendidikan yang mahal, dan masa depan yang terasa makin berat.

Ketika sebagian kekuasaan menjawab dingin, “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi,” pasar seolah ikut mendengar.

Kini, yang ikut kabur bukan orang saja, tetapi juga kepercayaan yang menopang rupiah: lewat pembelian valas, transfer dana, pemindahan aset, portofolio yang mencari tempat aman, dan devisa yang enggan pulang. 

Maka pertanyaan paling tajam bukan sekadar mengapa rupiah jatuh, melainkan mengapa ia merasa lebih tenang berada di luar daripada tinggal di rumah sendiri?

Rupiah Jatuh Sendiri

Alasan paling mudah selalu sama: dolar sedang kuat, harga minyak naik, pasar global bergejolak, investor mencari aset aman. Semua benar, tetapi tidak cukup.

Menyalahkan dolar terlalu nyaman. Ia seperti menyalahkan hujan saat atap rumah sendiri bocor.

Data global menunjukkan kebocoran itu. Indeks dolar AS hanya naik sekitar 1,67 persen sejak awal tahun. Pada periode yang sama, nilai dolar AS terhadap rupiah naik sekitar 7,33 persen, bahkan secara tahunan sekitar 10,24 persen.

Artinya, rupiah jatuh jauh lebih dalam daripada penguatan dolar itu sendiri. Rupiah bukan sekadar terseret arus global; ia membawa beban risikonya sendiri.

Di ASEAN, luka itu lebih terang. Nilai dolar AS terhadap rupiah naik sekitar 7,33 persen, jauh di atas kenaikannya terhadap baht Thailand sekitar 4,62 persen, peso Filipina sekitar 4,17 persen, ringgit Malaysia sekitar 0,30 persen, dolar Singapura sekitar 0,15 persen, dan dong Vietnam sekitar 0,08 persen.

Jika dolar benar-benar satu-satunya biang masalah, semua mata uang kawasan semestinya jatuh dengan luka yang hampir sama. Faktanya tidak. Pasar sedang membedakan Indonesia dari tetangganya.

Data exchange rate International Monetary Fund memberi pesan serupa. Rupiah bergerak dari sekitar Rp16.162 per dolar AS pada akhir 2024 menjadi Rp16.782 pada akhir 2025, lalu melemah ke sekitar Rp17.789 pada Mei 2026.

Dalam hitungan kasar, rupiah kehilangan sekitar 10 persen nilainya sejak akhir 2024 dan sekitar 6 persen hanya dalam lima bulan pertama 2026. Ini bukan sekadar pelemahan kurs. Ini sinyal bahwa Indonesia sedang dibaca lebih rentan dibanding banyak negara sekitar.

Secara teori, gejala ini dekat dengan pendekatan portfolio balance dan risk premium. Investor tidak hanya mengejar bunga; mereka membaca risiko.

Ketika risiko fiskal, kelembagaan, dan arah kebijakan dianggap meningkat, investor meminta premi lebih tinggi atau memindahkan dana ke tempat yang lebih aman. Kalimatnya keras, tetapi datanya jelas: pasar tidak sekadar membeli dolar; pasar sedang menjual risiko Indonesia.

Rupiah Lebih Nyaman di Singapura

Dolar Singapura menjadi salah satu mata uang paling tangguh di ASEAN. Kuatnya bukan karena Singapura besar, tetapi karena ia dipercaya.

Ketika rupiah melemah, sebagian dana Indonesia justru lebih nyaman menyeberang ke negeri tetangga. Ini bukan sekadar cerita kurs. Ini cerita tentang rasa aman yang pindah alamat.

Data PPATK menunjukkan transfer dana dari Indonesia ke Singapura pada semester I/2024 mencapai Rp3.595,95 triliun, jauh di atas transfer ke Amerika Serikat sebesar Rp781,8 triliun dan China sebesar Rp466,1 triliun.

Dibanding semester I/2023 yang sekitar Rp1.249,5 triliun, lonjakannya mencapai 187,7 persen. Tentu tidak semua transfer itu berarti pelarian modal ilegal.

Singapura juga mitra bisnis dan sumber investasi penting bagi Indonesia. Tetapi angka sebesar itu tetap berbicara: banyak pemilik dana merasa Singapura lebih pasti untuk menyimpan, mengelola, dan memutar aset.

Secara sederhana, kurs bergerak mengikuti permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap rupiah turun, sementara permintaan terhadap dolar AS, dolar Singapura, atau valas lain naik, rupiah tertekan.

Ketika investor melepas aset rupiah, eksportir menahan devisa, masyarakat membeli valas untuk berjaga-jaga, dan dana domestik mencari parkiran yang lebih aman, pelemahan rupiah bukan misteri. Itu harga dari kepercayaan yang keluar.

Di sinilah kalimat “uang juga bisa kabur” menemukan bentuk paling nyata. Uang tidak hanya mengejar imbal hasil; uang mengejar ketenangan.

Singapura menawarkan apa yang sering mahal di negara berkembang: kepastian hukum, tata kelola, stabilitas politik, pasar keuangan yang dalam, dan kebijakan moneter yang kredibel. 

Monetary Authority of Singapore bahkan menjadikan nilai tukar sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga. Pesannya terang: stabilitas dijaga, inflasi dikendalikan, kredibilitas tidak dinegosiasikan.

Karena itu, penguatan dolar Singapura terhadap rupiah bukan semata cerita tentang Singapura yang kuat. Ia juga cerita tentang Indonesia yang sedang digelisahkan. Pasar tidak membeli potensi; pasar membeli kepastian.

Indonesia punya pasar besar, sumber daya alam, bonus demografi, dan posisi geopolitik strategis. Tetapi potensi tanpa kredibilitas hanya menjadi brosur indah. Uang akan tinggal di tempat yang membuatnya tenang, bukan di tempat yang hanya memintanya percaya.

Rupiah Dihukum Risiko Domestik

Mata uang bukan sekadar angka ekonomi; ia adalah suara kepercayaan. Dalam teori nilai tukar modern, kurs tidak hanya digerakkan oleh inflasi, suku bunga, cadangan devisa, neraca perdagangan, atau pertumbuhan ekonomi. Kurs juga dibentuk oleh ekspektasi, persepsi risiko, dan keyakinan pasar.

Angka makro yang tampak rapi tetap bisa kalah jika arah kebijakan dianggap kabur.

Di situlah rupiah terluka. Pasar tidak hanya membaca data; pasar membaca gelagat. Belanja negara yang makin ambisius, beban subsidi energi, defisit yang mendekati batas psikologis, proyek besar seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, Danantara, serta perdebatan independensi Bank Indonesia membentuk satu keraguan: apakah kebijakan ekonomi Indonesia masih disiplin, transparan, dan dapat dipercaya?

Program-program itu tidak otomatis salah. Tetapi pasar tidak menilai niat; pasar menilai risiko. Dari mana uangnya? Siapa menanggung bebannya? Seberapa bersih tata kelolanya?

Apakah ia memperkuat produktivitas, atau justru membuka lubang fiskal baru? Ketika program besar dibayangi dugaan mark-up, jual beli titik dapur, kontroversi figur pengelola, dan pertanyaan transparansi, rupiah ikut menanggung diskonnya.

Titik paling sensitif tetap Bank Indonesia. Pasar tidak hanya bertanya berapa suku bunga hari ini, tetapi siapa yang sebenarnya memegang setir kebijakan moneter.

Isu burden sharing, mandat tambahan untuk menopang pertumbuhan, dan kekhawatiran intervensi politik melahirkan pertanyaan tajam: apakah BI masih penjaga stabilitas, atau mulai digeser menjadi kasir fiskal negara? Rupiah tidak hanya butuh intervensi; rupiah butuh penjaga yang dipercaya bebas dari tekanan politik.

Maka tekanan kurs bukan lagi sekadar cerita dolar, minyak, atau perang. Itu hanya angin dari luar. Yang membuat rupiah mudah goyah adalah fondasi kepercayaan di dalam negeri yang retak. Rupiah tidak hanya dihukum karena defisit transaksi berjalan atau mahalnya impor energi. Rupiah dihukum karena defisit yang lebih dalam dan lebih mahal: defisit kepercayaan.

Jangan Salahkan Dolar, Benahi Rumah Sendiri

Rupiah tidak akan pulang hanya karena dolar disalahkan. Minyak, perang, dan gejolak global memang memberi tekanan, tetapi bangsa yang serius tidak merawat alasan. Tim besar yang kalah tidak terus memaki wasit, hujan, atau rumput lapangan.

Ia menonton ulang permainan, mengakui lubang pertahanan, lalu membenahi diri. Negara juga begitu. Jika rupiah jatuh lebih dalam daripada tetangga, yang pertama harus diperiksa adalah rumah sendiri.

Pasar tidak kekurangan pernyataan; pasar kekurangan keyakinan. Karena itu, pemerintah harus membangun ulang disiplin fiskal, kepastian hukum, tata kelola program besar, transparansi belanja, kredibilitas Danantara, dan independensi Bank Indonesia. Rupiah tidak butuh slogan agar dicintai. Rupiah butuh alasan agar dipercaya.

Jalan pulang rupiah adalah kredibilitas. Pangkas pemborosan, tutup celah rente, jelaskan pembiayaan program prioritas, jaga Bank Indonesia dari tarikan politik, dan pastikan belanja negara melahirkan produktivitas, bukan sekadar panggung kekuasaan. Uang tidak bisa dimarahi agar tinggal. Ia hanya bisa diyakinkan.

Pada akhirnya, tugas pemerintah bukan sekadar menahan rupiah agar tidak jatuh, tetapi membuat Indonesia layak menjadi rumahnya kembali. Jika rumah ini rapi, pasti, dan dipercaya, rupiah tidak perlu dipanggil pulang. Ia akan tahu sendiri jalan pulangnya.

 

Penulis adalah Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Email: mshabri@usk.ac.id

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved