Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Ketika Mimbar Menasihati Korban, tetapi Membisu kepada Pelaku

Yang salah adalah ketika nasihat hanya diarahkan kepada korban, sementara pelaku ketidakadilan tidak pernah disentuh.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Dai Muda, Alwy Akbar Al Khalidi 

Oleh: Alwy Akbar Al Khalidi

ADA satu fenomena yang terus berulang di negeri ini. Ketika rakyat kecil terjepit oleh keadaan, sebagian mimbar agama justru datang membawa nasihat kesabaran. Ketika harga kebutuhan pokok naik, mereka diminta qana’ah. Ketika lapangan kerja sempit, mereka diminta tawakal. Ketika hak-hak mereka dirampas, mereka diminta ikhlas.

Nasihat itu tidak salah.

Yang salah adalah ketika nasihat hanya diarahkan kepada korban, sementara pelaku ketidakadilan tidak pernah disentuh.

Kita sering mendengar ceramah tentang pentingnya zuhud bagi orang miskin. Tetapi jarang sekali terdengar khutbah tentang keserakahan orang kaya. Kita sering mendengar ajakan menerima takdir, tetapi sangat sedikit mimbar yang berani membahas tentang korupsi, monopoli, manipulasi kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap amanah publik.

Agama akhirnya berubah menjadi obat penenang sosial. Ia tidak lagi menjadi cahaya yang menerangi jalan keadilan, melainkan sekadar alat untuk membuat rakyat menerima keadaan apa adanya.

Padahal sejarah para nabi menunjukkan hal yang berbeda.

Nabi Musa tidak hanya mengajarkan sabar kepada Bani Israil. Ia juga menghadapi Fir’aun.

Nabi Ibrahim tidak hanya mengajarkan tauhid kepada rakyat. Ia juga menghancurkan simbol-simbol kesewenang-wenangan yang dipertuhankan oleh penguasa zamannya.

Nabi Muhammad SAW tidak hanya menghibur kaum dhuafa. Beliau juga mengecam para pembesar Quraisy yang menumpuk kekayaan dengan cara menindas yang lemah.

Dalam tradisi Islam, dakwah tidak pernah berhenti pada pembinaan moral individu. Dakwah juga berbicara tentang struktur ketidakadilan yang melahirkan penderitaan kolektif.

Karena itu, ada sesuatu yang terasa janggal ketika seorang khatib begitu fasih berbicara tentang kesabaran orang miskin, tetapi tidak pernah menyinggung pihak-pihak yang menyebabkan kemiskinan itu terus berlangsung.

Lebih janggal lagi ketika mimbar menjadi sangat berani mengoreksi rakyat kecil, tetapi mendadak kehilangan suara saat berhadapan dengan pemilik kekuasaan.

Mimbar yang seperti itu mungkin ramai. Mungkin disukai. Mungkin aman.

Tetapi belum tentu menjalankan fungsi profetiknya.

Sejarah mencatat bahwa para ulama besar tidak dibedakan oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh keberanian mereka menyampaikan kebenaran. Mereka tidak mengukur ucapan berdasarkan siapa yang akan tersinggung. Mereka mengukur ucapan berdasarkan apakah itu benar atau tidak.

Sebab kebenaran memang sering kali tidak nyaman.

Ia mengganggu kepentingan.

Ia mengusik zona aman.

Ia membuat sebagian orang kehilangan privilege.

Karena itu, suara kebenaran hampir selalu memiliki harga.

Hari ini kita membutuhkan lebih banyak mimbar yang berani berbicara tentang keadilan sosial, tata kelola yang bersih, amanah kekuasaan, hak-hak rakyat, dan perlindungan terhadap kelompok lemah. Bukan untuk menjadikan masjid sebagai arena politik praktis, tetapi untuk mengembalikan agama pada misi moralnya.

Sebab agama yang hanya menghibur korban tanpa menegur pelaku, lambat laun akan kehilangan daya transformasinya.

Ia mungkin tetap dipenuhi jamaah.

Tetapi gagal menghadirkan perubahan.

Dan ketika mimbar lebih sibuk mengajarkan rakyat miskin untuk menerima nasib daripada mengingatkan para pemegang kuasa agar takut kepada hisab Allah, saat itulah agama berisiko kehilangan salah satu fungsi terbesarnya: menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara.

Mimbar tidak dilahirkan untuk menyenangkan penguasa.

Mimbar juga tidak dibangun untuk meninabobokan rakyat.

Mimbar ada untuk menjaga nurani umat tetap hidup.

Walaupun pahit.

Walaupun berisiko.

Walaupun tidak disukai.

*) Penulis adalah Da’i Muda, Dosen STAI Nusantara Banda Aceh, Mahasiswa Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved