Kupi Beungoh
Dulu Tamparan Jadi Pelajaran, Kini Jadi Laporan
Bukan hanya soal tamparan. Tapi tentang cara kita memaknai didikan. Tentang bagaimana masyarakat mengubah guru menjadi pihak yang selalu dicurigai.
*) Oleh: Alwy Akbar Al Khalidi, MH
TAMPARAN kecil. Tapi gegernya besar.
Seorang kepala sekolah di Lebak, Banten, menampar siswanya yang merokok di sekolah. Hanya sekali. Tamparan ringan. Tapi akibatnya berat. Ia dinonaktifkan. Dilaporkan ke polisi. Diperiksa. Dan seperti biasa, dibanjiri komentar dari segala arah.
Kita seperti kehilangan rasa proporsional.
Dulu, guru bisa menegur, bahkan menghukum, tanpa perlu takut apa pun. Murid tahu batas. Orang tua paham maksud. Karena semua punya tujuan yang sama: anak-anak yang lebih baik.
Sekarang, satu sentuhan saja bisa dianggap kekerasan. Satu teguran bisa berujung laporan. Guru tidak lagi berdiri di depan kelas dengan wibawa, tapi dengan rasa waswas. Setiap kalimat bisa jadi bumerang. Setiap tindakan bisa jadi perkara.
Ada yang salah dengan zaman ini.
Bukan hanya soal tamparan. Tapi tentang cara kita memaknai didikan. Tentang bagaimana masyarakat mengubah guru menjadi pihak yang selalu dicurigai.
Apakah guru boleh menampar? Tentu tidak ideal. Tapi apakah semua tamparan harus diadili? Itu pertanyaan yang lebih penting.
Karena tidak semua tamparan lahir dari kebencian. Ada yang lahir dari tanggung jawab. Ada yang muncul dari kelelahan mendidik murid yang tak lagi takut salah. Dari kegelisahan seorang kepala sekolah yang melihat anaknya merokok di seragam, di lingkungan belajar, di bawah atap tanggung jawabnya.
Tapi zaman ini memang mudah tersinggung. Orang tua cepat marah. Murid cepat merasa korban. Masyarakat cepat menghakimi. Kita lebih cepat memotret peristiwa, daripada memahami konteks.
Sampai akhirnya guru seperti berjalan di ladang ranjau.
Salah langkah sedikit, bisa meledak di media sosial.
Yang lebih tragis, kita sedang membangun generasi yang tidak tahan teguran. Generasi yang tumbuh dengan mental rapuh, karena setiap kesalahan selalu dibela, bukan diperbaiki.
Padahal hidup tak selalu lembut. Dunia kerja nanti tidak akan segan menampar mereka dengan kegagalan yang lebih keras. Tapi siapa yang mau menjelaskan itu, kalau sejak sekolah pun tamparan kecil sudah dianggap kekerasan luar biasa.
Kita lupa, mendidik bukan hanya menyalurkan ilmu. Tapi juga membentuk karakter. Dan karakter tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari benturan, dari teguran, dari rasa malu, dari disiplin, dari orang-orang yang berani menegur saat salah.
Kepala SMAN 1 Cimarga itu mungkin salah secara prosedur. Tapi niatnya tidak jahat. Ia tidak sedang memukul. Ia hanya sedang mendidik dengan caranya. Sayangnya, negara ini kini lebih cepat menghukum guru daripada memahami perannya.
Kalau setiap guru takut mendidik, maka siapa nanti yang berani menegur anak-anak kita.
Dan ketika guru berhenti menegur, maka tamatlah pelajaran paling penting dalam hidup: pelajaran tentang tanggung jawab.(*)
*) Penulis adalah Kandidat Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alwy-Akbar-Al-Khalidi-MH-010101.jpg)