RAMADHAN MUBARAK
Puasa dan Filosofi Niat Ikhlas
Islam menghubungkan antara alam ruh dan alam fisik. Niat adalah eksperimen jiwa, sementara perbuatan eksperimen di alam fisik.
Dr. Tgk. Amri Fatmi, Lc. MA, Imam Besar Masjid Agung Al-Falah Sigli
RASULULLAH bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan itu bersamaan niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah demi Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang berhijrah untuk mencari dunia atau demi wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang dia kehendaki itu." (H.R. Bukhari)
Puasa memiliki rukun penting yaitu niat. Semua amal ibadah dalam Islam harus dimulai dengan niat. Dan niat tidak sembarangan, ia harus niat kerena Allah bukan karena yang lain. Niat jadi pembeda antara aktivitas ibadah dengan aktivitas adat kebiasaan.
Inilah posisi niat dalam konsep dasar Islam. Erat hubungan antara niat dan perbuatan. Maknanya, Islam menghubungkan antara alam ruh dan alam fisik. Niat adalah eksperimen jiwa, sementara perbuatan eksperimen di alam fisik.
Dari mana dasar niat? Niat bersumber dari zat dan kesadaran. Kesadaran juwwani dan kesadaran barrani. Kesadaran juwwani adalah saat zat menyadari keberadaannya, dan kesadaran barrani tatkala zat sadar dengan alam sekitarnya. Maka niat adalah hubungan zat dengan kesadaran terhadap dirinya dan alam sekitar.
Prinsip niat ini mengabarkan bahwa Islam mengakui entitas keberadaan manusia sebelum pekerjaannya. Entitas manusia itu lebih berharga dari pekerjaan itu sendiri. Niat membuktikan keberadaan diri dan batin manusia yang berbicara, sedang pekerjaan atau amalan adalah terjemahan dari bahasa batin manusia yang bisa dinilai dari luar.
Puasa ibadah yang menyelaraskan kembali batin manusia dan zahirnya. Saatnya sisi jawwani lebih diperhatikan dari hanya sekedar sisi jawwani. Dalam hadis qudsi Allah berfirman: Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman,: ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dan Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa “puasa itu untuk Allah” maknanya bahwa amalan puasa tidak dirasuki oleh penyakit riya sebagai lawan dari ikhlas. Puasa mereset kembali batin manusia yang selama ini dirasuki riya zahir mabuk apresiasi dari manusia. Puasa menghubungkan kembali batin dengan Allah pencipta yang semua amalan akan diganjari oleh-Nya.
Karenanya Allah menjanjikan ganjaran puasa dengan ganjarann tak terhingga : “Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”(HR. Muslim).
Jangan sampai niat ikhlas menjadi nista, dan penampakan menjadi dusta. Nabi mengajarkan pada umatnya bahwa pribadi muslim itu adalah pribadi yang seimbang zahir batin. Pribadi yang konsisten dan kukuh. Pribadi yang tidak menimbulkan salah sangka dan persepsi berbeda pada orang lain. Bukan sosok kontradiksi.
Bila kita bisa melihat kaca yang bening dari luar nampak bersih, maka kelihatan pula isi dalamnya yang bersih. Itulah muslim wahai saudaraku. Dengan niat ikhlas dalam ibadah, terkhusus puasa, Islam menyatukan antara alam ruhi dengan alam fisik, menyatukan alam fana dengan alam baqa. Sebab dengan niat, amalan bisa memasuki dimensi alam kekal.
Makanya amalan dengan niat tertentu--baik niat abadi atau niat untuk hal yang sementara-- bisa dihisab suatu saat nanti. Maka kita bukan hanya menyatakan pekerjaan yang ikhlas, tapi sebenarnya adalah niat yang ikhlas.
Firman Allah : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5).(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Tgk-Amri-Fatmi-Lc-MA.jpg)