RAMADHAN MUBARAK
Ramadhan Bulan Peningkatan Kualitas Ibadah
MESKIPUN setiap Muslim menunaikan puasa pada bulan Ramadhan, pengalaman spiritual yang dirasakan tidaklah seragam.
Prof. Dr. Muntasir Abdul Kadir, MA, Pimpinan Dayah Jamiah Al-Aziziyah/Dosen FISIP Unimal
MESKIPUN setiap Muslim menunaikan puasa pada bulan Ramadhan, pengalaman spiritual yang dirasakan tidaklah seragam. Ada yang merasakan kedalaman ruhani yang melembutkan hati, menjernihkan pikiran, dan menenteramkan jiwa. Namun, tidak sedikit pula yang menjalani Ramadhan sebatas rutinitas ritual tahunan, tanpa menghadirkan perubahan batin yang signifikan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa puasa di bulan Ramadhan bukan formalitas semata, kualitas turut menyertainya, yang terlihat pada perubahan sikap, pengendalian diri, serta peningkatan empati terhadap sesama.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi distraksi media sosial, ritme kerja yang cepat, dan budaya konsumtif yang gila-gilaan, Ramadhan yang berkualitas memang sedikit sulit diwujudkan. Namun, dengan kesadaran beragama yang mendalam, peluang tersebut dapat dicapai dengan tiga rukun agama, yaitu iman, islam, dan ihsan.
Dengan fondasi iman, puasa menjadi latihan pengendalian hawa nafsu sekaligus sarana memperkuat kesadaran ketuhanan, bahwa seluruh praktik ibadah harus ditujukan kepada-Nya semata, bukan karena ingin mendapatkan hal-hal duniawi.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini secara tersirat menunjukkan bahwa puasa sulit disusupi ria sehingga potensi ikhlas lebih terjamin.
Yang kedua, dengan fondasi Islam, kualitas puasa dapat dilihat dari tata cara pelaksanaannya. Jika pelaksanaannya sesuai dengan konsep fikih, puasa dapat dianggap berkualitas. Bukan hanya puasa, Ramadhan juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah yang lain.
Jika biasanya kita berwudu dengan membasuh yang penting-penting saja, dan itu pun masing-masing sekali saja, di bulan suci ini kita dapat meningkatkannya dengan membasuh tiga kali dan menyempurnakannya. Hal ini sesuai anjuran Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa dan meninggikanderajat?”
Para sahabat menjawab: “Tentu, wahaiRasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang tidak menyenangkan (seperti cuaca dingin), banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath (perjuangan di jalan Allah).” (HR. Muslim)
Dan yang ketiga dengan fondasi Ihsan, ibadah seseorang akan berkualitas karena seolah-olah ia melihat Tuhannya, yang lazim dikenal dengan musyahadah. Atau pada maqam yang lebih rendah, ia menyadari Allah SWT pasti melihatnya dalam setiap ibadahnya, yang dikenal dengan muraqabah.
Dua kondisi ini dapat dipahami dari hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Umar ra, “…Dia berkata lagi, “Beritahukan aku tentang ihsan.” Nabi bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu…,” (HR. Muslim)
Sebagai penutup, Ramadhan seharusnya menjadi ruang kontemplasi yang melahirkan transformasi, bukan sekadar perulangan seremonial tanpa arti. Ketika iman meneguhkan keyakinan, Islam menata praktik ibadah sesuai tuntunan, dan ihsan menyempurnakan kualitas batin, maka puasa tidak lagi berhenti pada lapar dan dahaga, tetapi menjelma menjadi energi perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia.
Untuk ini dan rutinitas ibadah lainnya, ketiga fondasi tersebut sejatinya telah dirumuskan secara sistematis dalam pengajian Tastafi (Tasawuf, Tauhid, dan Fikih) yang digagas oleh Abu Syekh H. Hasanoel Bashry HG, yang akrab disapa Abu MUDI. Ihsan diwujudkan dengan Tasawuf, iman diwujudkan dengan Tauhid, dan Islam diwujudkan dengan Fikih.
Melalui pendekatan tersebut, umat diajak untuk memahami hukum-hukum ibadah secara lahiriah, meneguhkan tauhid dan menyucikan hati. Karena ketiga fondasi itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Wallahu a’lam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muntasir-Abdul-Kadir.jpg)