Selasa, 28 April 2026

RAMADHAN MUBARAK

Ramadhan, Empati, dan Solidaritas Sosial

Ramadhan adalah universitas yang menggembleng orang-orang beriman melalui aktivitas “puasa” untuk meraih gelar kesarjanaan berupa Takwa

Editor: mufti
For Serambinews.com
Prof  Dr Danial, M.Ag, Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe 

Prof  Dr Danial, M.Ag, Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Ramadhan adalah universitas yang menggembleng orang-orang beriman melalui aktivitas “puasa” untuk meraih gelar kesarjanaan berupa Takwa. Sepanjang hemat penulis, ayat yang paling lengkap melukiskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa adalah QS. al-Baqarah: 177. Ayat ini mengungkapkan 10 ciri orang bertakwa, 5 di antaranya berkaitan dengan kemampuan empati, mengelola emosi dan solidaritas sosial. 

Kelima ciri tersebut adalah perintah menegakkan shalat (termasuk shalat berjamaah), menunaikan zakat, membelanjakan harta yang paling dicintai kepada pihak lain, menepati janji, dan sabar. Sampai di sini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya mengandung dimensi vertikal-spiritual, melainkan juga dimensi horizontal-sosial. 

Pertama, membangun harmonisasi hamba dengan Allah swt, sementara kedua bertujuan untuk mewujudkan harmoni antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungannya. Tulisan ini ingin menjelaskan bagaimana puasa mewujudkan harmoni antar sesama manusia melalui upaya menumbuhkan empati dan membangun solidaritas sosial.

Dalam QS. al-Baqarah: 183 tentang perintah puasa terkandung 3 (tiga) kata kunci, yaitu iman, puasa, dan takwa. Di sini hanya akan diurai kata kunci kedua yaitu puasa. Apa itu puasa? Dalam perspektif fikih puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri serta hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. 

Menahan diri untuk makan melahirkan kelaparan, menahan minum menghasilkan kehausan, dan menahan hal lain yang membatalkan puasa membuahkan kontrol terhadap keinginan diri. Kelaparan dan kehausan yang dialami pelaku puasa di siang hari selama sebulan, diharapkan mengalirkan empati terhadap pengalaman yang sama, bahkan lebih buruk yang dialami kaum dhu’afa dan mustadh’afin. 

Empati merupakan kemampuan intelektual dan emosional untuk memahami, merasakan, dan berbagi perspektif dengan orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri. Dalam menumbuhkan empati membutuhkan kemampuan melihat situasi dari sudut pandang korban/ orang lain, mengenal emosi orang lain, dan mampu merasakan dengan terlibat secara emosional terhadap apa yang dirasakan orang lain. 

Puasa mentransformasikan pengetahuan menjadi pengalaman. Pengetahuan tentang kelaparan dan kehausan menjadi pengalaman yang menghujam dalam kesadaran terdalam manusia. Dalam konteks Aceh, puasa mengedukasi kita untuk berempati dan menginternalisasikan terahadap apa yang menimpa sebagian saudara kita yang fakir, miskin, dan tertimpa bencana alam. 

Di bulan suci dan mulia ini, saat kita menetap dan berkumpul dengan anggota keluarga di rumah mewah dengan segenap fasilitas yang ada, sebagian sudara kita masih tidur di bawah tenda, fasilitas apa adanya, serta dengan sebagian anggota keluarga tercinta tenggelam bersama banjir bandang. 

Saat sebagian anak-anak menikmati proses belajar di sekolah dan lembaga pendidikan dengan baik dan serba kecukupan, kita merasakan sebagian anak-anak yang lain bukan hanya kehilangan tempat tinggal, fasilitas belajar, tempat bermain, melainkan juga terancam kehilangan masa depannya. 

Melampaui ini semua, di luar sana kita masih menemukan betapa banyak saudara kita yang masih bergelut dengan problem psikologi, sosial, dan ekonomi. Puasa mengajarkan kita untuk memahami, berempati dan peduli mulai dari fenomena budaya, sosial, dan ekonomi sampai nomena yang tersembunyi jauh di bawah lapisan sosial, budaya dan ekonomi rakyat kita. 

Dengan demikian, kita akan mengerahkan segenap daya (daya intelektual, emosional, ekonomi, sosial, dan politik) untuk membantu satu sama lain keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. 

Dengan empati kita membangun hubungan sesama yang lebih kuat dan erat serta pada saat yang sama mengasah kepekaan atau solidaritas sosial. Solidaritas sosial melahirkan integrasi sosial, menfasilitasi kehidupan bersama, dan mencegah lahirnya disintegrasi sosial. 

Akhir kalam, puasa mengalirkan energi pembelajaran bukan hanya bagaimana kita menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan sebagian harta dan sumberdaya yang kita miliki untuk membantu dan menguatkan sumber daya mereka yang membutuhkan. 

Puasa bukan hanya tentang menahan hasrat seksual suami-isteri di siang hari, melainkan juga terkait dengan bagaimana menahan syahwat menumpukkan harta untuk diri kepada hasrat untuk berbagi kepada sesama. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bukan umatku, jika ia tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved