Jumat, 1 Mei 2026

RAMADHAN MUBARAK

Pendidikan sebagai Fondasi Peradaban

Ramadhan di bumi Serambi Mekkah selalu menghadirkan suasana religius yang sangat khas. Masjid terasa hidup sepanjang malam.

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO
Prof Dr Mirza Tabrani, SE, MBA, Rektor Universitas Syiah Kuala 

Prof Dr Mirza Tabrani, SE, MBA, Rektor Universitas Syiah Kuala

Ramadhan di bumi Serambi Mekkah selalu menghadirkan suasana religius yang sangat khas. Masjid terasa hidup sepanjang malam. Dipenuhi aktivitas ibadah dan tadarusan. Apakah Ramadhan dapat dijadikan sebagai momentum pembangunan peradaban manusia? Disrupsi teknologi termasuk percepatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan tekanan ekonomi global menuntut kualitas manusia. Selain cerdas secara kognitif dan teknis, tetapi juga tangguh, adaptif, berdaya juang, dan berintegritas. 

Ramadhan merupakan proses pendidikan untuk memperkuat modal diri. Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). 

Takwa mencerminkan kualitas diri yang utuh (insan kamil). Empat modal utama penentu ketangguhan seorang individu. Pertama, penguatan modal manusia. Manusia tidak cukup diukur dari apa yang ia ketahui (what he knew). 

Kemampuannya mengelola diri demi tujuan jangka panjang juga bernilai penting. Puasa juga melatih disiplin dan mengendalikan diri. Nabi Muhammad bersabda: “Puasa itu perisai” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Kedua, penguatan modal sosial. Ramadhan kaya dengan praktik sosial. Tradisi meugang, buka puasa bersama, termasuk pengelolaan zakat melalui Baitul Mal, cermin kuatnya ikatan sosial (bonding social capital). Rasulullah mengingatkan: “Mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” 

Lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Syiah Kuala berperan penting dalam mentransformasi energi sosial. Ramadhan menjadi ekosistem kolaboratif yang produktif.

Ketiga, penguatan modal psikologikal positif. Al-Qur’an sejak awal telah membangunnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-Insyirah: 5–6: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” 

Ramadhan memupuk harapan serta membangun keyakinan diri, optimisme, dan daya tahan. Nabi menegaskan: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Keempat, penguatan modal spiritual. Aceh diwarisi spiritual kolektif yang kuat. Warisan ini harus dikonversi menjadi etos kerja, kejujuran, dan budaya belajar tinggi agar menjadi mesin penggerak peradaban. 

Allah mengingatkan:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”(QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menegaskan transformasi struktural berakar pada transformasi manusia.

Pondasi peradaban

Kehadiran bulan Ramadhan harus sepenuhnya dimaknai. Ramadhan melatih disiplin, memperkuat empati sosial, dan memperdalam spiritualitas.

Ada empat langkah penting: Pertama, mengintegrasikan disiplin Ramadhan ke dalam budaya belajar dan etos kerja; Kedua, membangun semangat berbagi dan berkolaborasi sebagai basis untuk penguatan ekonomi gampong melalui pemberdayaan UMKM, koperasi merah putih, badan usaha milik gampong, dan lainnya.

Ketiga, membangun mental generasi muda yang tangguh lewat pendidikan; dan Keempat, menjadikan spiritualitas sebagai fondasi integritas dalam tata kelola birokrasi dan aktivitas berusaha. Jika keempat hal ini dikakukan secara konsisten, maka Ramadhan menjadi mesin sunyi pendorong pembangunan peradaban Aceh yang lebih cemerlang.

Sejarah menunjukkan, kebangkitan peradaban dimulai dari manusia yang beriman, berilmu, dan disiplin. Jika Ramadhan mampu melahirkan sedikit saja manusia Aceh yang tangguh, jujur, dan lebih peduli, sesungguhnya kita sedang menulis babak baru. Bukan hanya tentang pembangunan daerah, tetapi era kebangkitan peradaban Aceh.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved