Serambi Ramadhan
Falsafah Lapar dalam Puasa, Menumbuhkan Empati Sesama
“Ketika berpuasa tubuh memberi sinyal bahwa beginilah rasanya kekurangan. Dari pengalaman itu kita diingatkan bahwa masih banyak saudara-saudara
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nurul Hayati
Falsafah Lapar dalam Puasa, Menumbuhkan Empati Sesama
SERAMBINEWS.COM – Rasa lapar dan haus yang dirasakan saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai menahan makan dan minum, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan empati terhadap sesama.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustazah Nauratul Islami, M.Pd dalam program Serambi Ramadhan yang tayang di kanal YouTube Serambinews, Sabtu (7/3/2026) dengan mengangkat tema “Falsafah Haus dan Lapar: Menanamkan Empati kepada Sesama yang Tertimpa Musibah”, dipandu host Sri Anggun Oktaviana.
Program ini merupakan kerja sama Serambi Indonesia bersama Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh dan didukung Bank Aceh Syariah, yang tayang setiap hari pukul 14.30 WIB selama bulan Ramadhan.
Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari manusia sering merasa kebutuhan hidup selalu terpenuhi tanpa banyak memikirkan bagaimana kondisi orang lain yang hidup dalam keterbatasan.
Baca juga: 7 Makanan Tinggi Serat dan Rendah Karbohidrat untuk Buka Puasa, Bikin Kenyang Lebih Lama
Namun ketika menjalankan puasa, tubuh secara alami merasakan lapar dan haus sehingga memberi gambaran tentang bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan.
“Ketika berpuasa tubuh memberi sinyal bahwa beginilah rasanya kekurangan. Dari pengalaman itu kita diingatkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang merasakan hal tersebut setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa salah satu hikmah terbesar dari ibadah puasa adalah meningkatnya rasa empati terhadap orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup.
"Dengan menahan lapar dan haus, umat Islam diingatkan akan keadaan saudara-saudara mereka yang tidak bisa menikmati makanan dan minuman dengan mudah," tambahnya.
Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi seseorang untuk merasakan penderitaan orang lain sekaligus menumbuhkan dorongan untuk berbagi dan membantu mereka yang membutuhkan.
Merujuk pada pandangan ulama Syekh Izzuddin bin Abdissalam, Ustazah. Nauratul Islami menjelaskan bahwa puasa memiliki manfaat sosial yang sangat nyata dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: 5 Makanan yang Disarankan dr Boyke agar Tetap Bertenaga Saat Puasa Ramadhan
Menurutnya, seseorang yang merasakan kelaparan saat berpuasa akan teringat pada orang lain yang juga mengalami kelaparan sehingga hal tersebut dapat mendorongnya untuk memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan.
“Orang yang berpuasa ketika merasakan kelaparan akan teringat dengan rasa lapar yang dialami orang lain, sehingga hal itu mendorongnya untuk memberi makanan kepada sesama,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa puasa tidak hanya melatih seseorang untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga mengajarkan kesabaran serta membentuk sikap peduli terhadap sesama.
"Jika beberapa jam menahan lapar saja sudah terasa berat, maka hal tersebut seharusnya membuat manusia lebih mudah memahami penderitaan orang-orang yang setiap hari hidup dalam keterbatasan," tambahnya.
| I’tikaf Akhir Ramadhan Jadi Momentum Penyucian Jiwa dan Penguatan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Ciri Jiwa Bersih Usai Ramadhan, Tgk Darmawan Sebut Istiqamah Beribadah hingga Menjauhi Kecurangan |
|
|---|
| Tak Hanya Ibadah, Zakat Fitrah Dinilai Mampu Menguatkan Solidaritas Sosial Masyarakat |
|
|---|
| Memasuki Fase 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kuantitas Ibadah Harus Seimbang dengan Nilai Ihsan |
|
|---|
| Surga Juga Merindukan Manusia, Tgk Wahyu Mimbar: Ini 4 Golongan yang Disebut dalam Hadis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SERAMBI-RAMADHAN-Tgk-Nauratul-Islami-MPd.jpg)