Jumat, 8 Mei 2026

Mihrab

Ibadah Sebagai Penyatuan Jiwa Manusia Kepada Allah, Prof Muhibbuththabary: Bukan Sekadar Rutinitas

secara esensial ibadah merupakan bentuk penghambaan manusia yang mencerminkan kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Allah. 

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Nurul Hayati
YOUTUBE SERAMBINEWS
Wakil Ketua MPU Aceh Prof. Dr. H. Muhibbuththabary, M.Ag 

Ibadah Sebagai Penyatuan Jiwa Manusia Kepada Allah, Prof Muhibbuththabary: Bukan Sekadar Rutinitas

SERAMBINEWS.COM - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPU) Aceh Prof Dr Tgk H Muhibbuththabary M Ag, menegaskan pentingnya mengembalikan pemahaman masyarakat terhadap hakikat ibadah sebagai bentuk pengabdian sekaligus penyatuan jiwa manusia dengan Sang Pencipta, Allah SWT.

Ia menilai bahwa saat ini masih banyak umat yang memaknai ibadah secara sempit, yakni sebatas rutinitas formal seperti shalat, puasa, dan zakat. 

Padahal, menurutnya, esensi ibadah jauh lebih dalam dan menuntut kehadiran hati serta kesadaran spiritual.

“Padahal, esensi ibadah jauh lebih dalam dari itu. Ibadah sejati menuntut kehadiran hati, kekhusyukan, serta kesadaran penuh akan makna yang terkandung di dalamnya. Tanpa itu semua, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong yang kehilangan ruhnya,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini menjelaskan, secara esensial ibadah merupakan bentuk penghambaan manusia yang mencerminkan kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Allah. 

Dalam setiap doa, dzikir, dan sujud, manusia mengakui ketergantungannya kepada Tuhan, yang pada akhirnya melahirkan sikap rendah hati dan ketundukan yang tulus.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ibadah memiliki peran penting sebagai jembatan antara dimensi lahiriah dan batiniah manusia

Melalui ibadah, seseorang tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga meneguhkan identitasnya sebagai makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Ibadah juga menjadi sarana penyatuan jiwa manusia dengan Sang Pencipta. Ketika seseorang shalat dengan khusyuk, ia melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia dan memusatkan kesadaran kepada Allah. Di situlah hati menjadi tenang dan jiwa merasakan kedekatan yang mendalam,” kata Prof Muhibbuththabary.

Namun demikian, penyatuan jiwa tersebut, lanjutnya, tidak akan tercapai jika ibadah dilakukan secara mekanis tanpa keikhlasan. 

Ia menegaskan bahwa keikhlasan merupakan ruh utama dalam setiap amal ibadah.
Dalam Islam, kualitas ibadah tidak hanya diukur dari frekuensi pelaksanaannya, tetapi juga dari kedalaman penghayatan yang menyertainya. 

Karena itu, penting bagi setiap individu untuk memperkuat niat sebagai fondasi utama dalam beribadah.

Selain dimensi spiritual, ibadah juga memiliki implikasi sosial. Pengabdian kepada Allah SWT, kata Prof Muhibbuththabary, harus tercermin dalam hubungan antar sesama manusia melalui sikap jujur, amanah, dan kepedulian sosial.

“Nilai-nilai ini merupakan buah dari ibadah yang benar, yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya, yang juga Dewan 
Pembina Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved