Senin, 8 Juni 2026

Mihrab

Khutbah Jumat di Aceh Besar - Tgk Ridha: Orang Hasad Lebih Dulu Merasakan Petakanya Sendiri

Umat Islam harus mewaspadai penyakit hati, khususnya hasad atau iri dengki, yang dapat merusak kehidupan keislaman dan sosial seseorang.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO
Pengasuh Dayah Sabiilir Rasyad Ilal Jannah Al-‘Amiriyah Gampong Neusu Aceh, Tgk Ridha Fathahillah 

Khutbah Jumat di Aceh Besar - Tgk Ridha: Orang Hasad Lebih Dulu Merasakan Petakanya Sendiri

SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR - Umat Islam harus mewaspadai penyakit hati, khususnya hasad atau iri dengki, yang dapat merusak kehidupan keislaman dan sosial seseorang. 

Pengasuh Dayah Sabiilir Rasyad Ilal Jannah Al-‘Amiriyah Gampong Neusu Banda Aceh, Tgk Ridha Fathahillah, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di  Masjid Besar Al Ittihadiyah Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar (5/6/2026).

Tgk Ridha menjelaskan, hasad merupakan salah satu penyakit hati paling berbahaya. 

Mengutip pendapat Imam Al-Ghazali, ia menyebutkan hasad adalah sikap membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain serta berharap nikmat tersebut hilang.

“Hasad bukan sekadar rasa tidak suka, tetapi keinginan agar orang lain kehilangan nikmat. Ini sangat berbahaya bagi kebersihan hati seorang mukmin,” ujarnya.

Ia menegaskan, hasad dapat menghapus pahala amal kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw bahwa iri dan dengki dapat memakan pahala kebaikan seperti api yang membakar kayu bakar.

Selain itu, sifat hasad juga menjadi penghalang terkabulnya doa. 

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa di antara golongan yang tidak diijabah doanya adalah orang yang gemar memakan harta haram, suka menggunjing (ghibah), serta mereka yang di dalam hatinya terdapat sifat hasad.

Tgk Ridha turut mengutip nasihat para ulama (hukama) yang menyebutkan bahwa orang yang memiliki sifat hasad akan lebih dahulu merasakan dampak buruk sebelum keburukan itu menimpa orang yang ia dengki. 

Setidaknya ada lima petaka yang menimpa pelaku hasad, yaitu kegelisahan yang tiada henti, musibah tanpa pahala, kehinaan tanpa pujian, murka Allah, serta tertutupnya pintu taufik.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menjaga ketakwaan sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102 yang menyeru orang beriman agar bertakwa dengan sebenar-benarnya dan tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan Muslim.

Firman Allah Swt: “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim,” (QS. Ali Imran: 102)

Menurutnya, ketakwaan berpusat di hati. Rasulullah saw bahkan menegaskan hal tersebut dengan mengisyaratkan ke dada seraya bersabda, “Takwa itu di sini.”

“Hati merupakan pemimpin seluruh anggota tubuh. Jika hati baik, maka seluruh perbuatan akan baik. Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pula perilaku seseorang,” jelasnya.

Ia pun mengajak umat Islam senantiasa membersihkan hati dari sifat hasad agar amal ibadah yang dilakukan mendapat ridha dan pahala dari Allah Swt.

“Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit hasad, sehingga setiap amal yang kita lakukan diterima di sisi-Nya,” tutup pengajar di Dayah Ulee Titi Aceh Besar ini. (ar)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved