Video
VIDEO - Lebih 500 Ton Bantuan Korban Banjir Aceh Masih Tertahan di Malaysia
Pihaknya belum menerima surat resmi yang mengizinkan pengiriman bantuan tersebut ke Indonesia,
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Lebih 500 ton bantuan kemanusiaan untuk korban bencana banjir dan tanah longsor di Aceh hingga kini dilaporkan masih tertahan di Malaysia. Bantuan tersebut merupakan bantuan dari masyarakat Aceh yang tersebar di berbagai wilayah Malaysia.
Ketua Sabena Komuniti Aceh Malaysia, Saiful Bahri alias Bospon, kepada Serambinews.com, mengatakan bantuan tersebut yang dikumpulkan dari berbagai wilayah Negeri Jiran itu sudah tertahan hampir sebulan di sana.
Bospon berharap bantuan tersebut dapat segera dikirim ke Aceh agar tidak tertahan terlalu lama. Pasalnya, sebagian besar bantuan berupa bahan kebutuhan pokok yang memiliki masa simpan terbatas.
Bospon mengungkapkan, pengiriman barang-barang tersebut masih terkendala izin. Sebab, hingga saat ini pihaknya belum menerima surat resmi yang mengizinkan pengiriman bantuan tersebut ke Indonesia, meskipun pemerintah sebelumnya menyatakan bantuan asing dapat disalurkan melalui organisasi non-pemerintah (NGO).
Selain itu, Bospon juga menyinggung janji Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian kepada pihaknya, bahwa akan ada kapal yang disiapkan untuk mengangkut bantuan dari Malaysia. Namun, hingga hampir satu bulan berlalu, kapal tersebut belum juga tersedia.
Ia menambahkan, jika kapal bantuan dari pemerintah tidak juga direalisasikan, pihaknya siap mencari cara untuk mengirim bantuan secara mandiri. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah ketiadaan izin resmi.
Diketahui, saat ini bantuan kemanusiaan tersebut disimpan di sekitar 20 titik pengumpulan, salah satunya di Gudang Sabena yang berlokasi di kawasan Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia. Adapun jenis bantuan yang terkumpul antara lain beras, pakaian, minyak goreng, air mineral, makanan ringan, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Narator: Syita
Video Editor: Muhammad Anshar