Video
VIDEO - Jejak Pengabdian KH Mursyidin Ketua MUI Sulawesi Tenggara Dua Periode
elasinya luas, mulai dari politisi, pejabat, hingga pengusaha. Orang-orang terdekatnya menilai ia sebagai figur yang patut diteladani
SERAMBINEWS.COM - Perjalanan hidup Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs KH Mursyidin, M.HI, dipenuhi dedikasi pada pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kiai Mursyidin merupakan putra daerah Watampone, ibu kota Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia lahir pada 31 Desember 1957.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD 8 Watampone hingga 1970. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu agama. Sore hari diisi dengan sekolah Arab, sementara malamnya digunakan untuk mengaji dan menghafal Al-Qur’an.
Baca juga: Safari Ramadhan, Bupati Suhaidi Ajak Warga Putri Betung Bangkit Pascabencana dan Makmurkan Masjid
Tak lama kemudian berdiri Pondok Pesantren Ma’had Hadits Biru Watampone. Di pesantren inilah ia melanjutkan pendidikan dan menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Sekitar empat tahun menimba ilmu, ia berhasil menyandang predikat hafidz pada 1973.
“Jadi kami tidak pernah sekolah formal, empat tahun di pondok pesantren menghafal, lalu ikut ujian persamaan dua kali,” ujarnya kepada TribunnewsSultra.com.
Menempuh Pendidikan Tinggi
Setelah lulus pada 1976, ia melanjutkan studi di IAIN Watampone dan meraih gelar Sarjana Muda. Ia kemudian hijrah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di IAIN Makassar hingga memperoleh gelar Doktorandus (Drs) pada 1984.
“Saya selesai tahun 1984, jadi kita dulu tujuh tahun baru bisa selesai dapat sarjana itu termasuk cepat,” katanya.
Baca juga: Jumat Kedua di Bulan Ramadhan, Ini Daftar Khatib dan Imam Salat Jumat di Aceh Besar 27 Februari 2026
Pada 1985, ia memutuskan pindah ke Kendari untuk mendaftar sebagai pegawai negeri sipil. Keputusan itu diambil di luar rencana, sebab sebelumnya ia tidak berniat menjadi Aparatur Sipil Negara. Saat itu, ia aktif membina para penghafal Al-Qur’an di pondok pesantren.
Namun atas rekomendasi sang mertua, ia berangkat ke Kota Lulo. Dari sinilah perjalanan dakwah dan pengabdiannya di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara dimulai.
Pada 1986, ia resmi diangkat sebagai PNS di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia wilayah Sulawesi Tenggara.
“Dulu muncul niatan kurang baik, kalau nanti sudah 100 persen saya mau mutasi ke Bone, tetapi setelah ke masjid-masjid Kendari dan melihat, ternyata masih banyak yang belum bagus bacaannya,” tuturnya.
“Mungkin saya dibutuhkan di sini. Ini tugas kita, kalau tidak disampaikan nanti berdosa. Itu sebabnya saya tidak jadi kembali ke Watampone,” lanjutnya.
Baca juga: Perputaran Uang Ditaksir Capai Rp 2 Miliar di Pekan QRIS Ramadhan Pasar Aceh
Selama 27 tahun mengabdi, ia pernah menjabat Kepala Kantor Kemenag Kota Kendari (1999–2000), Kepala Bidang Haji, Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais), hingga Kepala Bidang Penerangan Kemenag Sultra.
Pada 2013, Gubernur Sultra saat itu, Nur Alam, memintanya bertugas di Pemerintah Provinsi Sultra. Ia kemudian menjabat sebagai Staf Ahli sebanyak tiga kali dan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
| VIDEO - IRGC Ancam Tindak Tegas Kapal Perang, Selat Hormuz Kembali Tegang |
|
|---|
| VIDEO - Trump Ancam China: 'Akan Hadapi Masalah Besar' jika Kirim Senjata ke Iran |
|
|---|
| VIDEO - Ratusan Murid TK Nusa Indah Bireuen Belajar Cegah Kebakaran di Markas Damkar |
|
|---|
| VIDEO -Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Iran Ancam Balasan Keras |
|
|---|
| VIDEO -Kampung Nelayan Senilai Rp 14 Miliar di Bireuen Rampung Dikerjakan |
|
|---|