Selasa, 5 Mei 2026

Video

VIDEO - Jejak Pengabdian KH Mursyidin Ketua MUI Sulawesi Tenggara Dua Periode

elasinya luas, mulai dari politisi, pejabat, hingga pengusaha. Orang-orang terdekatnya menilai ia sebagai figur yang patut diteladani

Tayang:

“Jadi pindah total dari Kementerian Agama ke Pemda, makanya pensiun kami di Pemerintahan Provinsi,” ujarnya.

Memimpin MUI Sultra

Sebelum pensiun, ia aktif di berbagai organisasi keagamaan, termasuk MUI. Saat itu, Ketua MUI Sultra dijabat KH Marwan. Setelah KH Marwan wafat sekitar setahun masa jabatan, dilakukan penggantian antarwaktu melalui musyawarah wilayah luar biasa.

Dalam pemilihan tersebut terdapat tiga calon, termasuk KH Mursyidin. Ia terpilih dengan perolehan suara terbanyak.

Baca juga: Teuku Iqbal Djohan: Peukan Raya Ramadhan Dorong Perputaran Uang dan Kebangkitan UMKM

Tiga tahun kemudian, pada 2015, digelar musyawarah daerah pertama untuk memilih ketua definitif MUI Sultra, dan ia kembali dipercaya memimpin. Pada musyawarah daerah kedua tahun 2021, ia kembali terpilih untuk masa jabatan lima tahun.

“Tahun 2026 ini sudah berakhir, aturan dari MUI maksimal dua periode. Insya Allah kita akan mengadakan musyawarah daerah,” katanya.

Prestasi dan Kiprah di Dunia Tilawah

Sebagai hafidz, ia mencatat sejumlah prestasi di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Ia meraih juara III tahfidz remaja tingkat Sulsel (1979), juara II tahfidz tingkat provinsi (1982), serta juara I tahfidz 30 juz tingkat Sultra (1986).

Pada 1987, 1988, dan 1991, ia dipercaya menjadi pelatih tahfidz untuk Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) dan MTQ tingkat nasional bagi kafilah Sultra. Sejak 1992 hingga 2021, ia kerap ditunjuk sebagai dewan hakim STQ dan MTQ tingkat nasional di berbagai provinsi.

Selain menjabat Ketua MUI Sultra, ia juga menjadi Wakil Ketua I LPTQ Sultra, Ketua Jam’iatul Qurro wal Huffadz (JQH) Sultra, serta Pembina IPQAH/IFQAH Sultra.

Baca juga: Bupati Bireuen Santuni Anak Yatim Dalam Safari Ramadhan di Masjid Abu Hamid Arongan Simpang Mamplam

Teranyar, ia dilantik sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sultra. Ia juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Al Kautsar atau Masjid Agung Kendari.

Tak hanya di masjid tersebut, ia aktif berdakwah di Masjid Al Alam, Masjid Ummushabri, dan Masjid Nurul Huda.

Masa Kecil dan Awal Menghafal

Sejak kecil, Mursyidin tumbuh dalam lingkungan religius. Meski orang tuanya berlatar belakang pengusaha dan bukan penghafal Al-Qur’an, suasana agamis sangat kuat dalam kesehariannya.

Rumahnya yang berada dekat Masjid Raya Watampone menjadi titik awal perkenalannya dengan dunia mengaji. Di masjid itu, anak-anak rutin mengikuti pembinaan dasar dan hafalan Al-Qur’an.

Sumber: Tribun sultra
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved