Video
VIDEO - Sosok KH Mohammad Luthfi Ditempa Sejak Dini: Ngaji Itu Harga Diri Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya, ia menyebut keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter.
SERAMBNEWS.COM - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Buntet Cirebon, K.H. Mohammad Luthfi, tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan dan pembentukan karakter santri sejak usia dini.
Ia menuturkan bahwa sejak kecil dirinya telah dididik langsung oleh keluarga di lingkungan pesantren yang dikenal sebagai lingkungan ngaji.
Selain diasuh orang tua, ia juga dititipkan kepada saudara-saudaranya untuk memperdalam pendidikan agama.
Baca juga: 5 Khasiat Air Kelapa saat Berbuka Puasa, Bantu Pulihkan Energi Tubuh
Pola pengasuhan di Buntet pada masa itu, menurutnya, memang membentuk anak-anak kiai dengan karakter santri yang kuat, baik dalam pola pikir maupun sikap hidup.
Sebagai putra dari keluarga pesantren, ia mengungkapkan bahwa dirinya sejak awal diarahkan untuk mampu meneruskan perjuangan orang tua.
Ayahnya menanamkan prinsip bahwa setiap anak harus mampu mengaji, karena ketidakmampuan dalam membaca dan memahami ilmu agama dianggap mencederai kehormatan keluarga.
Karena itu, selain menempuh pendidikan formal, ia juga menekuni pengajian dengan kesungguhan penuh demi memenuhi harapan keluarga.
Dalam perjalanan hidupnya, ia menyebut keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter.
Ia kehilangan ayah saat masih berusia sangat muda, sehingga peran ibunya menjadi dominan dalam membimbingnya.
Baca juga: Ulama Aceh Kecam Penyerangan AS-Israel ke Iran, Minta Pemimpin Muslim Bantu Teheran
Dari sang ibu, ia belajar tentang disiplin, penghormatan terhadap guru, serta pentingnya menjunjung tinggi ilmu.
Terkait pendidikan, ia mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah menyeimbangkan dua dunia sekaligus, yakni pendidikan formal dan pendidikan kepesantrenan.
Kepala Bidang Kepesantrenan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren itu, menempuh pendidikan dasar hingga menengah di lingkungan Buntet, kemudian melanjutkan studi ke IAIN Cirebon dengan mengambil jurusan Bahasa Arab agar semakin memperkuat kemampuan memahami kitab.
Setelah merampungkan pendidikan S1, ia melanjutkan studi S2 pada tahun 2000 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Meski menempuh pendidikan tinggi, ia menegaskan tidak pernah meninggalkan tradisi mengaji Al-Qur’an dan kitab kuning.
Ia juga menyebut sosok Kiai Adib sebagai figur yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya, khususnya dalam kajian kitab.
Ia belajar hampir satu dekade bersama sang guru yang juga merupakan kerabat dekatnya.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan 2026, Cukup Sekali untuk Sebulan atau Harus Tiap Malam? Ini Penjelasan Ulama
Menurutnya, tantangan terbesar saat muda adalah membagi waktu antara belajar ilmu agama dan pendidikan formal, terlebih di usia yang masih gemar bermain.
Namun ia meyakini bahwa keduanya harus dikuasai secara seimbang.
Di tengah perkembangan zaman, ia memandang perpaduan ilmu agama dan ilmu umum sebagai sebuah keharusan.
Ia berpendapat bahwa manusia harus mampu mengikuti perkembangan zaman, bukan sebaliknya.
Ia menilai perubahan karakter generasi dan kemajuan teknologi menuntut pendekatan dakwah yang lebih adaptif dan kontekstual.
Dalam perjalanan dakwahnya, ia membagi aktivitas tersebut ke dalam dua bentuk, yakni dakwah internal dan eksternal.
Dakwah internal dimulai sejak ia duduk di kelas dua Aliyah dengan mengajar santri yang lebih muda.
Sementara dakwah eksternal mulai aktif ia jalankan sekitar tahun 2010-an melalui berbagai kajian dan seminar keagamaan.
Baca juga: Jalan Panjang Abu Sibreh: Dari Keluarga Biasa hingga Jadi Ulama Aceh
Ia menilai tantangan dakwah di era digital semakin kompleks karena generasi saat ini lebih kritis dan berani menyampaikan pendapat.
Oleh sebab itu, menurutnya, seorang pendakwah harus menyertakan rujukan dan data yang kuat dalam setiap penyampaian materi agar pesan dapat diterima secara meyakinkan.
Dalam strategi dakwah, ia menekankan pentingnya memahami karakter audiens.
Ia meyakini bahwa seorang dai harus menyesuaikan bahasa, kedalaman materi dan pendekatan sesuai dengan latar belakang orang yang diajak bicara agar pesan yang disampaikan efektif.
Ia juga mengisahkan pengalaman berdakwah di Yogyakarta, ketika harus menyampaikan materi di hadapan jemaah yang secara organisasi memiliki latar belakang berbeda.
Dengan pendekatan yang egaliter dan penuh penghormatan, ia menilai perbedaan tersebut justru menjadi ruang dialog yang produktif.
Sebagai pengasuh pesantren, ia memandang bahwa nilai kebangsaan telah lama menjadi bagian dari tradisi Buntet.
Ia menjelaskan bahwa hubungan antara ulama dan pemerintah harus berjalan beriringan dan saling menghormati.
Baca juga: Di Depan Ulama, Kasatgas Tito Tegaskan Pentingnya Dukungan Spiritual bagi Korban Bencana Aceh
Sejak awal berdiri, pesantren disebutnya telah menunjukkan komitmen kebangsaan, termasuk melalui pendirian lembaga pendidikan bernama MI Watoniyah yang merefleksikan semangat nasionalisme.
Karena itu, ia menegaskan bahwa prinsip NKRI harga mati menjadi sikap yang dipegang teguh pesantren.
Kontribusi pesantren, menurutnya, kini tidak lagi terbatas pada pendidikan agama.
Pesantren Buntet disebut telah berkembang menjadi institusi sosial yang turut menangani berbagai persoalan masyarakat, mulai dari ekonomi hingga pendidikan karakter.
Ia juga menyampaikan bahwa pihak pesantren aktif berkolaborasi dengan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas sosial.
Dalam kepemimpinan, ia memegang prinsip penghormatan terhadap santri sebagai manusia yang setara.
Ia meyakini bahwa hubungan yang egaliter antara kiai dan santri akan melahirkan rasa hormat yang tulus dan memperkuat pendidikan karakter.
Menyinggung dinamika sosial dan politik, ia berpandangan bahwa pesantren dan politik memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan, selama dijalankan dengan prinsip tasamuh, tawasut dan tawazun agar tercipta keseimbangan.
Baca juga: Waled Kiran Nahkodai Dewan Syura PKB Aceh 2026–2031, Ulama Dayah yang Konsisten Mengabdi untuk Umat
Kepada generasi muda Cirebon, ia berpesan agar menjadikan membaca sebagai fondasi membangun karakter.
Ia merujuk pada pemikiran dalam buku Membumikan Al-Qur'an karya Quraish Shihab, yang menjelaskan makna mendalam dari perintah Iqra sebagai landasan pengembangan diri.
Sebagai pelajaran terpenting dari perjalanan hidupnya, ia menegaskan bahwa akhlak merupakan fondasi utama dalam kehidupan.
Ia meyakini bahwa kecerdasan dan kehebatan tanpa akhlak akan runtuh, sedangkan akhlak dan adab akan mengangkat derajat seseorang serta membawa kemuliaan dalam hidup.
(tribun-video.com)
| VIDEO Penemuan Bunga Bangkai di Objek Wisata Kolam Ratu Lembong Subulussalam Timur |
|
|---|
| VIDEO China Soroti Isu Wilayah Udara Indonesia Bebas Diakses Militer AS |
|
|---|
| VIDEO Negara Teluk Anggap Iran Musuh Utama Dibanding Israel |
|
|---|
| VIDEO Houthi Sebut AS Gagal Gulingkan Pemerintah Iran hingga Puluhan Pesawat Hancur |
|
|---|
| VIDEO SAKSI KATA - Data Bermasalah, Korban Banjir Peusangan Banyak Masuk TMK dan Belum Terdaftar |
|
|---|