Rabu, 15 April 2026

Video

VIDEO - Sosok KH Mohammad Luthfi Ditempa Sejak Dini: Ngaji Itu Harga Diri Keluarga

Dalam perjalanan hidupnya, ia menyebut keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter.

SERAMBNEWS.COM - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Buntet Cirebon, K.H. Mohammad Luthfi, tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan dan pembentukan karakter santri sejak usia dini.

Ia menuturkan bahwa sejak kecil dirinya telah dididik langsung oleh keluarga di lingkungan pesantren yang dikenal sebagai lingkungan ngaji.

Selain diasuh orang tua, ia juga dititipkan kepada saudara-saudaranya untuk memperdalam pendidikan agama.

Baca juga: 5 Khasiat Air Kelapa saat Berbuka Puasa, Bantu Pulihkan Energi Tubuh

Pola pengasuhan di Buntet pada masa itu, menurutnya, memang membentuk anak-anak kiai dengan karakter santri yang kuat, baik dalam pola pikir maupun sikap hidup.

Sebagai putra dari keluarga pesantren, ia mengungkapkan bahwa dirinya sejak awal diarahkan untuk mampu meneruskan perjuangan orang tua.

Ayahnya menanamkan prinsip bahwa setiap anak harus mampu mengaji, karena ketidakmampuan dalam membaca dan memahami ilmu agama dianggap mencederai kehormatan keluarga.

Karena itu, selain menempuh pendidikan formal, ia juga menekuni pengajian dengan kesungguhan penuh demi memenuhi harapan keluarga.

Dalam perjalanan hidupnya, ia menyebut keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter.

Ia kehilangan ayah saat masih berusia sangat muda, sehingga peran ibunya menjadi dominan dalam membimbingnya. 

Baca juga: Ulama Aceh Kecam Penyerangan AS-Israel ke Iran, Minta Pemimpin Muslim Bantu Teheran

Dari sang ibu, ia belajar tentang disiplin, penghormatan terhadap guru, serta pentingnya menjunjung tinggi ilmu.

Terkait pendidikan, ia mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah menyeimbangkan dua dunia sekaligus, yakni pendidikan formal dan pendidikan kepesantrenan. 

Kepala Bidang Kepesantrenan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren itu, menempuh pendidikan dasar hingga menengah di lingkungan Buntet, kemudian melanjutkan studi ke IAIN Cirebon dengan mengambil jurusan Bahasa Arab agar semakin memperkuat kemampuan memahami kitab.

Setelah merampungkan pendidikan S1, ia melanjutkan studi S2 pada tahun 2000 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Meski menempuh pendidikan tinggi, ia menegaskan tidak pernah meninggalkan tradisi mengaji Al-Qur’an dan kitab kuning.

Ia juga menyebut sosok Kiai Adib sebagai figur yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya, khususnya dalam kajian kitab.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved