Senin, 8 Juni 2026

Video

VIDEO - Bahan Baku Meroket, Pengusaha Warkop Terhempit Antara Modal dan Loyalis Pelanggan

Kelangkaan susu di pasaran salah satunya dipicu oleh tingginya permintaan susu untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: m anshar

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Maulidi Alfata | Aceh Timur 

SERAMBINEWS.COM, IDI – Kenaikan harga sejumlah bahan baku utama dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan para pelaku usaha warung kopi (warkop) di Kabupaten Aceh Timur. Biji kopi, susu, gula, hingga kemasan plastik kompak merangkak naik, sementara harga minuman dan kopi belum berani disesuaikan kepada para pelanggan.

Pemilik Cotta Kupi di Idi Rayeuk, Ikbal Farabi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku terasa signifikan, terutama pada dua jenis bubuk kopi yang menjadi andalan racikan di Aceh Timur. Kopi Robusta bubuk yang sebelumnya ia dapatkan seharga Rp115.000 per kilogram kini melonjak ke kisaran Rp125.000 hingga Rp135.000.

Sementara kopi Arabika mengalami kenaikan lebih tajam, dari Rp185.000 menjadi Rp230.000 per kilogram, atau naik sekitar 24 persen. Ikbal menyebut harga lama tidak lagi diberikan oleh pemasok.

Tekanan tidak berhenti di kopi. Ikbal juga mengeluhkan kelangkaan susu di pasaran yang turut mendorong harga naik drastis. Susu per kotak yang sebelumnya ia peroleh seharga Rp580.000 per dus kini naik menjadi Rp680.000, dengan kenaikan mencapai Rp100.000 per dus. Menurutnya, kelangkaan susu di pasaran salah satunya dipicu oleh tingginya permintaan susu untuk kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan. 

Ia menyatakan bahwa hukum ekonomi akan bermain jika permintaan banyak dan suplai bermasalah, tetapi ia berharap setelah harga mahal, suplainya tetap tersedia agar pengusaha bisa mendapatkan barang.

Di tengah tekanan biaya yang terus membesar, Ikbal mengaku belum menaikkan harga jual minuman di warungnya. Ia memilih bertahan sambil mengamati pergerakan harga bahan baku, meski sudah mulai menghitung ulang Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk antisipasi jangka panjang. Dalam komunitas pengusaha warkop setempat, pembahasan soal penyesuaian harga jual sudah ramai diperbincangkan. 

Sejumlah warung lain bahkan telah lebih dulu menaikkan harga. Ikbal menyatakan belum menaikkan harga kopi meski di beberapa warkop lain sudah mulai menaikkan dan dalam grup komunitas sudah banyak pembicaraan. Ia memutuskan menunggu dulu, dan jika tidak ada penyesuaian harga bahan pokok, maka ia terpaksa akan menaikkan harga. Keputusan itu, menurutnya, semata untuk menjaga kepercayaan pelanggan yang telah setia.

Kondisi serupa dirasakan Hasas, pemilik SOB Kopi yang juga berlokasi di Idi Rayeuk. Ia mengaku terpaksa merogoh kocek lebih dalam dari biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku harian. Berbeda dengan Ikbal yang masih menahan diri, Hasas sudah mengambil sikap bahwa kenaikan harga jual hanya soal waktu. Ia menyatakan dengan pasrah bahwa semua sudah naik, sehingga mau tidak mau harga jual akan tetap dinaikkan nanti. (*)

Narator: Syita

Video Editor: Muhammad Anshar

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved