Mitan Oplos Bensin Beredar di Tamiang
Jumat, 27 Januari 2012 08:48 WIB
Berita Terkait
- Triangle Produksi 2 Juta Kaki Kubik Gas Per Hari
- HET Elpiji Barat-Selatan Akan Ditetapkan
- Petugas Bea Dan Cukai Gagalkan Penyelundupan Heroin…
- Mitan Bertahan Rp 24.000/Bambu di Abdya
- Tiga Faktor Ancam Langkah City untuk jadi Sang Juara…
- Untuk Bisa Menang City Minta Bantuan Dukun "Voodoo"
- MU Punya Cara Buat City Panik
- Hadapi City Bukan Hanya Melawan Uang
- Selangkah Menuju Sejarah
- Semburan Gas Panikkan Warga di Kaway
KUALASIMPANG - Wakil Bupati Aceh Tamiang, H Awaluddin, meminta warga berhati-hati terhadap Minyak tanah (Mitan) yang dioplos bensin dan solar beredar di kabupaten tersebut. Sebab, jika menggunakan mitan oplosan itu sangat berbahaya bisa meledak kompor dan terbakar rumah.
H Awaluddin kepada Serambi Kamis (26/1) mengatakan, selisih harga yang tinggi antara minyak tanah dengan minyak bensin serta solar membuat sebagian orang tergiur mencampur minyak tanah dengan bensin dan solar untuk dijual dengan harga lebih tinggi.
Harga mitan di lapangan bisa mencapai Rp 10.000/liter sementara harga bensin Rp 5.000/liter. Sementara Mitan yang sudah dicampur harganya berkisar antara Rp 7.000-Rp 8.000/liter. Menurut Wabup Aceh Tamiang itu kejahatan itu dilakukan oleh orang-orang yang tak bertangungjawab, hanya memikirkan keuntungan pribadi, tanpa memperdulikan dampak dari pemakai minyak oplosan tersebut.
Pihaknya menduga indikasi peredaran mitan oplosan sudah berlangsung setahun terakhir sejak pemerintah mencabut subsidi harga mitan. Bisanya pelaku oplosan menjual Mitan di daerah yang jauh dari kota agar kegiatannya tidak terdeteksi.”Ada dugaan rumah warga yang terbakar di Aceh Tamiang akibat minyak tanah oplosan,”ujarnya.
Wabup meminta warga harus hati-hati jangan mudah tergiur dengan minyak tanah harga murah, biasanya yang mudah tergiur ibu rumah tangga. Informasi yang diperoleh Serambi, ciri-ciri minyak tanah oplosan, warnanya agak keruh, bau seperti oli, solar dan bensin. Kandungan olinya banyak sehingga licin, jika dibakar, asap terlihat hitam kebiru-biruan, cepat merusak sumbu kompor, terasa agak dingin. Sedangkan minyak tanah asli ciri-cirinya, warna lebih bening, bau khas minyak tanah, jika dirasakan dengan tangan tidak licin dan asap putih, tidak cepat merusak sumbu kompor.(md)
H Awaluddin kepada Serambi Kamis (26/1) mengatakan, selisih harga yang tinggi antara minyak tanah dengan minyak bensin serta solar membuat sebagian orang tergiur mencampur minyak tanah dengan bensin dan solar untuk dijual dengan harga lebih tinggi.
Harga mitan di lapangan bisa mencapai Rp 10.000/liter sementara harga bensin Rp 5.000/liter. Sementara Mitan yang sudah dicampur harganya berkisar antara Rp 7.000-Rp 8.000/liter. Menurut Wabup Aceh Tamiang itu kejahatan itu dilakukan oleh orang-orang yang tak bertangungjawab, hanya memikirkan keuntungan pribadi, tanpa memperdulikan dampak dari pemakai minyak oplosan tersebut.
Pihaknya menduga indikasi peredaran mitan oplosan sudah berlangsung setahun terakhir sejak pemerintah mencabut subsidi harga mitan. Bisanya pelaku oplosan menjual Mitan di daerah yang jauh dari kota agar kegiatannya tidak terdeteksi.”Ada dugaan rumah warga yang terbakar di Aceh Tamiang akibat minyak tanah oplosan,”ujarnya.
Wabup meminta warga harus hati-hati jangan mudah tergiur dengan minyak tanah harga murah, biasanya yang mudah tergiur ibu rumah tangga. Informasi yang diperoleh Serambi, ciri-ciri minyak tanah oplosan, warnanya agak keruh, bau seperti oli, solar dan bensin. Kandungan olinya banyak sehingga licin, jika dibakar, asap terlihat hitam kebiru-biruan, cepat merusak sumbu kompor, terasa agak dingin. Sedangkan minyak tanah asli ciri-cirinya, warna lebih bening, bau khas minyak tanah, jika dirasakan dengan tangan tidak licin dan asap putih, tidak cepat merusak sumbu kompor.(md)
Editor : bakri
