Opini
Pawang
DALAM tradisi nelayan pukat tradisional Aceh sebelum era 1990-an, ada tiga komponen yang tak dapat dipisahkan satu sama lain, yakni pawang
Oleh Azhari AR
DALAM tradisi nelayan pukat tradisional Aceh sebelum era 1990-an, ada tiga komponen yang tak dapat dipisahkan satu sama lain, yakni pawang (pimpinan), ngon (awak pukat) dan awak teumarek (penarik). Jika salah satu dari ketiga komponen ini tidak dapat menjalankan fungsinya, maka dipastikan operasional pukat akan mengalami hambatan atau bahkan gagal.
Dari ketiganya, yang paling memegang peranan adalah pawang. Sosok pawang bukan hanya dituntut punya wawasan tentang pukat semisal pengetahuan tentang layar, keadaan angin dan gelombang yang sewaktu-waktu dapat terjadi, atau mendeteksi keberadaan kawanan ikan. Tapi juga punya keahlian lain yang sepintas tidak ada hubungannya dengan urusan pukat, yakni ilmu kepemimpinan.
Seorang pawang tempoe doeloe sangat piawai memerankan perannya sebagai pemimpin. Kharismanya jauh melampaui habitatnya, sehingga tidak jarang nama mereka dihafal dan dikenang oleh masyarakat luas lengkap dengan nama pukat yang dipawanginya. Untuk pukat besar sebut saja nama Pawang Daod dan Pawang Hasyem. Atau Pawang Ali untuk ukuran pukat kecil di Aceh Utara, dan Pawang Din di Pidie.
Untuk menjadi pawang pada era itu bukan perkara gampang, setidaknya punya pengalaman tahunan sebagai awak pukat di samping beberapa kriteria di atas. Dan dapat dipastikan awak teumarek tidak mungkin mengisi posisi ini. Karena aturan memang tidak membenarkan seorang pawang dipilih langsung oleh awak teumarek. Mereka hanya dibenarkan memilih ngon pukat, ngon inilah kemudian memilih pawang yang umumnya berasal dari kalangan mereka sendiri, atau dari pukat lain. Tidak peduli apakah awak teumarek kenal atau tidak pawang terpilih. Pawang masa kini
Seiring perjalanan waktu, dimana teknologi mulai merambah setiap sisi kehidupan dan semua bidang pekerjaan, maka para nelayan tradisionalpun ikut merasakan nikmatnya. Para calon pawang tidak perlu lagi berpikir tentang tetek-bengek urusan layar atau bagaimana memberi aba-aba agar para awak bisa mendayung serentak alias tidak berat sebelah pada saat menyergap kawanan ikan. Keduanya sudah digantikan oleh kekuatan mesin.
Maka tidak heran setiap mendekati masa pemilihan pawang, para calon dengan berbagai latar belakang dan beragam propesi mulai bermunculan. Para petani, politikus, akademisi, pemburu. Juga para pawang incumbent, awak pukat, bahkan awak teumarek yang sama sekali tidak punya pengalaman memimpin pukat pun ikut mendaftar. Hitung-hitung kalaupun tidak terpilih, setidaknya akan dihormati di kalangan awak teumarek sebagai sosok yang pernah menjadi calon pawang.
Kriteria umum yang selama ini menjadi keharusan, pelan-pelan mulai ditinggalkan. Tidak perlu kredibilitas, kapabilitas dan akseptabelitas. Juga tidak perlu mampu menjadi imam shalat bagi para awaknya. Asal bisa membaca beberapa ayat Alquran sudah dianggap pantas menjadi calon pawang.
Satu-satunya yang perlu dipersiapkan atau dibutuhkan oleh calon pawang adalah bagaimana memberi kesan kepada awak pukat dan awak teumarek baik yang masih setia bersamanya atau yang telah menyeberang ke pukat lain, bahwa pukat yang dipawanginyalah yang mampu memberi kenyamanan dan keejahteraan.
Awak pukat yang dianggap sebagai “orang dalam” seringkali menjadi rebutan para calon. Mereka mampu membuat berbagai macam terobosan karena memang dekat dengan awak teumarek. Ada yang dengan cara bisik-bisik di warung kopi, membuat kalender dengan foto calon pawang lengkap dengan kegiatannya, sampai memasang baliho dengan ukuran raksasa di sepanjang bibir pantai.
Awak teumarek tidak saja bisa melihat wajah calon pawang dari pukat yang sebentar lagi akan ditariknya, tapi juga harapan-harapan yang umumnya ditulis sebagai motto di bawah gambar calon pawang. Ada yang mengajak melihat fakta bukan sekedar bicara. Ada yang menyuguhkan konsep eksistensi bahwa pukat inilah satu-satunya yang akan selalu berlabuh di sini, tidak akan berubah haluan dalam cuaca yang bagaimanapun juga.
Tujuan dari beragam motto di atas tidak lain, agar awak teumarek mau menarik pukatnya nanti pada saat pukat dilabuh. Karena yang menentukan terpilih tidaknya seorang calon pawang adalah mereka (awak teumarek), bukan ngon pukat.
Nasib awak teumarek
Ada tiga golongan awak teumarek yang biasanya dihitung keberadaannya, yaitu golongan tuha (tua), menengah, dan golongan pemula. Dalam komunitasnya, golongan yang disebut pertama biasanya dianggap profesional, karena di samping mampu mengatur keseimbangan tarikan, juga piawai meredam gejolak awak teumarek pemula yang kadang-kadang cenderung emosional.
Sedangan awak teumarek menengah umumnya berada pada dua alternatif, antara percaya dan tidak terhadap visi yang ditawarkan sang calon pawang. Di satu sisi janji dan strategi yang disampaikan calon pawang dan ngon pukat dapat diterima sebagai sebuah harapan yang realistis. Namun di sisi lain dari pengalaman beberapa kali mengikuti pemilihan pawang, janji-janji tersebut terbukti hanya berlaku untuk pawang sendiri dan ngon pukat-nya.
Sebaliknya bagi awak teumarek pemula standar kepemimpinan pawang justru dilihat dari janji-janji yang ditawarkan hari ini. Yakni, hari di mana sang calon pawang sedang mengerahkan segenap kemampuan untuk mancari dukungan. Setiap yel-yel lamat (saudara di sebelah kiri) dan reundok (saudara di sebelah kanan) disuarakan sang pawang akan disambut dengan gegap gempita oleh golongan ini dengan jawaban: Naaa pawang!
Sudah jamak diketahui dalam urusan tarek pukat, lambaian tangan sang pawang dan tutur kata santun dari ngon pukat hanya berlaku sesaat, yaitu ketika pukat masih mengambang di laut. Giliran kantung pukat mencapai daratan, di mana pawang dan ngon pukat sudah bisa memperkirakan hasil tangkapannya, saat itu juga semua berubah wujud. Tidak ada lagi panggilan saudara atau sapaan-sapaan lain yang menyejukkkan. Semua tergantikan dengan hardikan, bentakan dan sejenisnya.