Sabtu, 1 Agustus 2015
Home » Opini

Menyongsong Idul Fitri

Selasa, 14 Agustus 2012 09:27

TANPA terasa Ramadhan yang sedang kita jalani tahun ini akan segera berlalu. Itu berarti sebentar lagi kita akan menyongsong hari raya Idul Fitri. Berbahagialah orang-orang yang beribadat di dalamnya karena mendapat keampunan dari Allah serta  mendapat pahala yang berlipat ganda. Alangkah ruginya orang-orang yang menyia-nyiakan Ramadhan ini karena kesempatan ini belum tentu berulang di tahun-tahun yang akan datang, sekarang tinggallah kesedihan, penyesalan dan air mata, karena sesungguhnya kita belum layak untuk berhari raya.

Hari raya yang disebut id berasal kata aud (dari bahasa Arab) yang berarti perulangan. Hal ini dikarenakan kedua hari raya ini selalu berulang setiap tahun atau karena kembalinya rasa senang dalam hati kaum muslimin, bisa juga karena ‘awaid (karunia) Allah yang sangat banyak pada hari raya. Maka wajar kaum muslimin di seluruh dunia menyambut hari raya ini dengan suka cita. Namun tidak lengkap rasanya bila hari raya ini tidak kita isi dengan ibadah shalat Id yang hanya ada dua tahun sekali. Untuk itu, saya ingin mengulas sedikit catatan tentang shalat Id dan hal-hal lain yang berkenaan dengan hari raya.

Pada hari raya ini Allah mensyariatkan shalat Id yang merupakan suatu keistimewaan bagi umat Muhammad saw dan ibadah ini belum pernah ada pada umat sebelumnya. Shalat Id pertama kali dilakukan oleh Rasulullah pada tahun ke-2 Hijriyah di mana pada bulan Syakban Allah telah mensyariatkan puasa. Hukumnya sunat muakkad, walaupun ada pendapat dhaif yang menyatakan bahwa hukum shalat Id merupakan fardhu kifayah. Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan shalat Id ini tidak menjadi wajib karena ada hadis: “Adakah shalat wajib selain 5 waktu? Rasulullah menjawab: Tidak, kecuali shalat sunat.”

Shalat Id disunatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah kerena lebih afdhal kecuali bagi orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Pelaksaan shalat Id sebaiknya dipimpin oleh seorang imam, karena makruh hukumnya bila pada tempat yang sama terdapat kelompok jamaah yang berbeda-beda dan bagi seorang pemimpin berhak untuk melarangnya. Waktu pelaksanaannya adalah mulai terbit matahari hingga matahari tergelincir. Namun disunatkan untuk menundanya hingga matahari terangkat kadar segalah (6 hasta) untuk keluar dari perbedaan pendapat ulama yang menganggap batas inilah yang menjadi awal waktu pelaksanaan shalat Id.

 Shalat Id
Shalat Id ini dilakukan sebanyak dua rakaat. Shalat Id diawali takbiratul ihram dengan niat shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Kemudian dilanjutkan dengan takbir sebanyak 7 kali di mana di antara dua takbir dibaca tahlil, takbir dan tahmid seperti subhanallah, walhamdulillah, wa lailaha illahu wallahu akbar, dibolehkan juga menambah bacaan lain selama perselangan di antara dua takbir tidak terlalu panjang secara urfi. Sebagian dari tambahan yang dibolehkan yaitu la haula wa la quwwata illa billahi al-aliyyi al-azhimi. Takbir sunat dibaca secara jihar, termasuk untuk makmum, sedangkan zikir sunat dibaca secara sir.

Setelah itu baru dilanjutkan dengan ta’awwuz dan al-fatihah. Pada rakaat kedua disunatkan takbir sebanyak lima kali sebelum membaca al-fatihah. Apabila di dalam shalat seseorang ragu tentang bilangan takbir, maka dia hendaknya memilih bilangan yang lebih sedikit. Dan bagi makmum disunatkan mengikuti jumlah takbir imam meskipun melebihi atau kurang dari batas yang ditentukan. Semua takbir ini disunatkan untuk melakukannya sambil mengangkat kedua tangan.

Takbir yang telah disebutkan di atas bukan termasuk rukun atau pun sunat ab’adh. Oleh karena itu jamaah tidak perlu risau bila imam lupa melakukan takbir atau tidak cukup bilangannya, karena hal ini tidak membatalkan shalat dan tidak disunatkan untuk sujud sahwi. Hukum takbir ini sama dengan sunat hai’at yang lain yang makruh bila ditinggalkan. Apabila seseorang lupa atau sengaja meninggalkan takbir dan sudah membaca ta’awwuz, ia masih memiliki kesempatan untuk bertakbir. Namun bila orang itu atau imamnya sudah mulai membaca al-fatihah, maka tidak disunatkan lagi baginya untuk melakukannya pada rakaat itu atau pun rakaat berikutnya karena bukan lagi pada tempatnya.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas