Rabu, 10 Juni 2026

Kabut Seulawah

Selepas Magrib, dingin semakin kentara meski tanpa rinai hujan. Menjalari pembuluh bersama aliran darah. Merasuk hingga ke sum-sum tulang

Tayang:
Editor: bakri

Karya Eramayawati

Selepas Magrib, dingin semakin kentara meski tanpa rinai hujan. Menjalari pembuluh bersama aliran darah. Merasuk hingga ke sum-sum tulang. Memaksa orang-orang untuk merapatkan kedua tangan di depan dada dan memeluk tubuh yang kedinginan. Kendati demikian, para pengemudi yang mencari nafkah di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan harus menjaga kedua tangannya tetap berada di kemudi. Alih-alih menyembunyikan sepasang tangan di balik dada, merasakan betapa dinginnya malam itu saja tak boleh mereka lakukan, atau dingin akan membekukan tubuh mereka dan memaksa sepasang mata mengatup. Lalu mereka akan berakhir di dasar jurang.

Di jalan meliuk itu, malam menjadi lebih pekat. Rembulan yang bersembunyi di balik awan kelabu menyisakan temaram. Malam semakin dingin tanpa kehangatan rembulan. Samar-samar tampak kabut yang keluar dari perut gunung. Kabut yang membawa uap dingin itu sedikit demi sedikit menempel di kaca mobil. Mengaburkan pandangan. Halimun mengisi ruang kosong dimana udara berada. Berbaur bersama udara yang tak tampak.  Hingga ruang kosong itu seolah hanya terisi oleh halimun.

Kabut semakin menyelimuti malam. Membaluri sepasang gunung yang menjulang perkasa di sisi jalan. Kadang, gemuruh di pelataran gunung memecah kabut. Memecah keheningan malam. Seperti para pengemudi itu, gunung pun tampaknya masih belum terlelap.

***

Di bawah langit yang lindap, Agam tercenung. Kembara pikirannya menembus awang-awang. Kerlip rama-rama yang selalu ia kagumi bersama Inong tak mampu membawa kembali pikiran yang berkelana menembus tirai malam. Agam tak dapat menahan perasaan yang mengharu biru. Segala rasa membahana. Desisnya sesekali terdengar seirama dengan desau sang bayu.

Sang bayu membelai wajah Inong. Ada garis-garis keriput halus di wajahnya. Ah, tak terasa ternyata sudah cukup lama mereka hidup bersama. Hingga mereka tak menyadari wajah mereka mulai merenta.

“Tuhan akan murka melihat makhluk-Nya saling bertengkar. Tuhan menciptakan kita untuk saling mencintai. Karena itulah kita diciptakan berpasangan,” kata Agam, memecah keheningan yang sedari tadi menjadi hijab di antara mereka.

“Apa aku harus tetap tersenyum walaupun hatiku menangis?” ucap Inong dengan ketus.

“Kadang hidup memang kejam. Memaksa kita tersenyum saat ingin menangis dan memaksa kita menangis saat ingin tersenyum,” Agam mematahkan pertanyaan Inong.

“Tapi aku tak akan membohongi diriku dan menjadi munafik dengan bersembunyi di balik senyum semu.”

Agam mencari kata-kata yang tepat. Mencomot kata-kata yang terbang bersama angin dan merangkainya menjadi kalimat yang utuh.

“Apa kamu akan membiarkan hari-harimu diselimuti kabut? Matamu berkabut, hatimu berkabut. Dan kemudian sekelilingmu menjadi berkabut. Kabut itu akan menghalangi pandanganmu, dan juga pandangan kita semua. Tidakkah kamu rindu melihat liukan dedaunan yang menari bersama angin? Cemara yang berembun di pagi hari, monyet-monyet yang mengemis di pinggir jalan, kendaraan yang lalu-lalang, tidakkah kamu rindukan itu?”

“Mengapa aku harus rindu melihat monyet-monyet yang mengemis makanan di pinggir jalan? Mereka layaknya seperti para pengemis di kota kita yang menyambangi warung-warung dengan orok bayi dalam gendongan mereka. Mengemis belas kasihan orang-orang.” Inong masih tak kalah ketus.

“Bagaimana dengan cemara dan tarian daun-daun?”

“Justru hatiku miris jika melihat mereka. Dulu mereka menaungi tanah ini dengan suka cita, sebelum tangan jahil membawa aroma ketakutan ke tanah kita. Menyayat tubuh mereka dengan mesin bermata tajam dan runcing, tanpa bisa mendengar rintihan kesakitan mereka. Api pun kerap membara, mengubah hijau menjadi kecokelatan. Apa yang harus kubanggakan tentang itu?”

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved