Kabut Seulawah
Selepas Magrib, dingin semakin kentara meski tanpa rinai hujan. Menjalari pembuluh bersama aliran darah. Merasuk hingga ke sum-sum tulang
Agam tak tahu bagaimana caranya ia bisa mengandung. Ia tidak diciptakan dengan kemampuan itu. Namun, ia tetap mengerahkannya semua tenaga dan pikiran untuk mewujudkan keinginan Inong. Hingga suatu hari, ia merasakan perutnya membesar. Bertambah hari, ia merasakan sesuatu bergerak-gerak di dasar perutnya.
Agam tak menyadari bahwa ia telah mengandung segala rasa yang tertanam di benaknya. Sedih, amarah, menyatu dalam dirinya, dan bersemanyam di dalam perutnya. Semakin hari semakin bertambah. Seiring dengan perutnya yang semakin membesar. Kadang, hawa panas keluar dari mulutnya. Air mata yang juga terasa amat panas menjelma menjadi kawah berlumpur. Terlalu panas malah, hingga jadi mendidih.
Agam mendengar sayup-sayup orang berkata, “Seulawah Agam berstatus waspada.”
Agam menutup telinga. Ia tak harus mendengar apa-apa. Ia selalu percaya bahwa Allah menciptakan mereka berpasangan untuk saling mencintai. Ia tidak diciptakan sendiri dan kesepian seperti Fujiama. Dan ia harus bersyukur untuk itu. Karena itu, ia akan selalu berusaha menjadi semesra merapi dan merbabu. Mungkin ini adalah manifestasi cintanya untuk Inong. Ia hanya perlu menanti, kapan ia melahirkan.
Bireuen, 4 Februari 2013
* Eramayawati, anggota FLP Aceh