Kabut Seulawah
Selepas Magrib, dingin semakin kentara meski tanpa rinai hujan. Menjalari pembuluh bersama aliran darah. Merasuk hingga ke sum-sum tulang
Agam menatap wajah Inong yang semerah mawar. Bukan karena perona pipi. Tapi amarah yang membuncah menciptakan merah alami di wajahnya. Inong menjadi lebih kaya kata saat amarah menguasainya. Agam harus mencari kata yang bersembunyi di balik ranting-ranting dan menghidangkannya ke pangkuan Inong.
“Bagaimana dengan pasangan yang lalu-lalang di hadapan kita? Mereka saling mencintai. Seharusnya kita juga bisa seperti mereka.” Agam mendengar desau angin membisikkan kata itu padanya, dan diantarkannya kata itu ke hadapan Inong.
“Tidakkah kamu menyadari bahwa mereka itu belum terikat dalam hubungan yang halal? Mengapa kita harus berbahagia melihat mereka merajut kemesraan di hadapan kita?”
Agam menghela napas. Ditatapnya Inong dengan wajah pias. Keindahan apa lagi yang bisa ia tawarkan pada Inong untuk menyejukkan hatinya?
“Dan sekarang mereka mendengungkan persamaan gender,” Inong melanjutkan katanya.
“Aku tak begitu mengerti dengan konsep persamaan gender,” Agam menegaskan.
“Aku akan membuatmu mengerti.”
Agam menyerah dengan pasrah. Tak ada lagi kata yang bisa dirangkainya menjadi untaian indah. Agam merindukan kenangan indah bersama Inong. Telah berjuta cerita yang terukir di antara mereka. Di sini, di tanah mereka lahir dan tumbuh dewasa. Bercengkrama bersama senandung burung. Bercinta bersama semilir angin. Merenda kasih di bawah langit lazuardi. Agam merindukan itu semua. Yang tersisa hanyalah malam-malam yang berongga dan berkabut.
Agam merasa Inong telah banyak berubah. Ia layaknya seorang perempuan yang mengikuti arus kemajuan zaman, lalu terbawa oleh derasnya arus itu. Puncak ketidaklogisan pikiran Inong adalah ketika Inong meminta Agam melakukan sesuatu yang mustahil.
“Aku ingin kamu saja yang mengandung. Semakin hari kita semakin tua, hari-hari kita akan semakin sepi tanpa kehadiran seorang anak.”
Agam terhenyak mendengar perkataan Inong. “Bagaimana aku bisa mengandung?”
“Entahlah. Aku hanya bosan mendengar cibiran yang dilontarkan untuk perempuan setiap kali pasangan suami-istri tak juga dikaruniai anak. Kenapa harus perempuan yang selalu disalahkan? Karena perempuan yang mengandung? Kalau begitu, seharusnya perempuan juga bisa menyalahkan laki-laki, kenapa laki-laki tidak mengandung sendiri saja?”
Agam terdiam. Perkataan Inong memang tak sepenuhnya salah. Ia juga melihat bagaimana perempuan di sekitarnya disudutkan.
“Persamaan gender….” Inong membiarkan ucapannya menggantung. Membiarkan Agam menyambungnya sendiri. Inong yakin Agam cukup pintar untuk memahami maksudnya.
Agam tak mengerti bagaimana Inong bisa memintanya melakukan sesuatu yang absurd. Entah apa yang telah memajalkan otak perempuan yang dicintainya itu. Hingga Inong tak dapat berpikir logis lagi. Inong seumpama menciptakan kamuflase, sehingga Agam seperti tak mengenalnya lagi setelah berkamuflase serupa itu. Karena cintanya yang dalam, Agam kehilangan kharismanya sebagai laki-laki. Otak Agam pun ikut majal.