Sabtu, 28 Februari 2015
Home » Opini

Aceh Krisis Identitas

Kamis, 18 April 2013 10:09 WIB

SAAT ini orang Aceh benar-benar kritis. Mereka galau dan lupa diri. Sudah sangat terkenal sampai ke luar negeri, orang Aceh adalah taat beribadah, bangga dengan dayah dan memiliki simbol bangsa yang unik. Semua itu merupakan kebanggaan dan identitas Aceh. Namun sangat ironis, pengesahan Qanun Bendera dan Lambang Aceh baru-baru ini malah menuai kritik tajam dan memicu demontrasi massa. Demikian pula insiden pemukulan terhadap guru dayah, penghentian paksa shalat Jumat dan ‘merampok’ mimbar Jumat di Bireuen baru-baru ini sudah turut mencederai image di atas.

Semua fakta di atas menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dengan masyarakat Aceh. Dari satu sisi mereka bangga dengan sejarah, namun dari sisi lainnya mereka mengutuk realitas masa lampau. Di masa sekarang, masyarakat Aceh bukan saja alergi dengan perbedaan pemahaman, bahkan mereka tidak memahami ‘kesamaan’ sehinga tidak mengenal dirinya sendiri.

Mereka menjadi masyarakat yang terjebak dalam ‘paradoks’. Itulah gambaran masyarakat kehilangan identitas. Tulisan ini akan menguraikan tentang kenapa mesti ada identitas Aceh, apa itu itu identitas dan bagaimana kaitannya dengan demokrasi sebagai sistem negara kita Indonesia.

 Klaim orang Aceh
Sebagai orang Aceh pernahkah Anda berfikir bahwa Anda telah menjadi orang Aceh? Siapa saja yang lahir dan menetap di Aceh atau keturunan Aceh dapat saja mengklaim bahwa ia dirinya sebagai orang Aceh, namun apakah dengan keadaan tersebut ia telah menjadi orang Aceh? Ternyata ‘sebagai’ orang Aceh berbeda dengan ‘menjadi’ orang Aceh.

Klaim diri ‘sebagai’ orang Aceh cukup saja dengan alasan-alasan biologis, seperti dilahirkan di Aceh, bertempat tinggal di Aceh dan berketurunan Aceh. Namun ‘menjadi’ orang Aceh tidak cukup dengan alasan-alasan determinisme (biologis) tersebut. Menjadi orang Aceh harus melibatkan potensi kemanusiaan diri dalam befikir tentang ke-Aceh-an.  

Ia harus secara terus menerus berfikir dan mengrefleksi diri dengan manusia disekelilingnya dengan mempertanyakan pertanyaan ini: Bagaimana ia menghadirkan atau menempatkan dirinya dalam komunitas dan kolektifitas Aceh. Sejauh mana ia merasakan dan sensitif dengan penderitaan masyarakat yang hidup disekelilingnya. Dan yang lebih penting lagi, sejauh mana ia berkontribusi mengatasi penderitaan komunitas sebagai wujud solidaritas atas keacehan.

Oleh karena itu, ‘menjadi’ orang Aceh, keadaan-keadaan biologis yang tertutup tidak lagi menjadi esensi dan mendasar. Tetapi kepedulian sosial dan solidaritas bersama menjadi faktor penentu. Demikian juga ‘menjadi’ orang Aceh terbuka kepada siapa saja dan sangat pluralitas.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas