Jumat, 4 September 2015

Mengintip Adat Pernikahan Orang Mesir

Rabu, 8 Mei 2013 10:13

Mengintip Adat Pernikahan Orang Mesir
MAISURI DUHANI

SETIAP suku bangsa berbeda adat istiadatnya, demikian pula ritual pernikahannya. Di Mesir, pernikahan bisa dikatakan sesuatu yang terbilang sulit pelaksanaannya jika dibandingkan dengan tradisi perkawinan di Indonesia.

Soalnya, kalau lelaki Mesir ingin melamar seorang wanita ia harus punya mahar berupa emas perhiasan lengkap, mencakup gelang, kalung, cincin, dan kalau perlu gelang kaki. Mereka menyebut perangkat ini “Syabkah”.

Tak cuma itu. Lelaki Mesir juga harus mempersiapkan sebuah rumah beserta isinya agar bisa ditempati bersama sang istri setelah menikah.

Beberapa gadis Mesir malah minta disediakan kendaraan sebagai syarat menikah. Jadi, untuk mahar minimal harus tersedia pound kira-kira Rp 600 juta, barulah lamaran diterima. Sulitnya menikah tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di hampir semua negara-negara Arab. Sejauh yang saya amati, banyak remaja putra maupun putri Mesir yang baru mampu menikah pada usia yang sudah lumayan tua. Ini karena sulitnya persayaratan menikah dalam tradisi Mesir. Itu sebab, ketika satu pasangan berhasil mengatasi ketatnya persyaratan itu, mereka benar-benar merayakannya dengan penuh kemenangan.

Bandingkan dengan di Aceh yang biasanya setelah lamaran, acara pernikahan akan dilangsungkan selang tiga minggu, satu bulan, atau paling lama enam bulan. Tapi di Mesir, antara masa lamaran dengan akad nikah bisa dua tahun selang waktunya. Hal ini karena calon suami perlu waktu lama untuk mempersiapkan segala keperluan rumah tangga, seperti perhiasan emas, rumah (saah), dan lainnya.

Rumah yang disediakan biasanya dibeli kontan. Tapi ada juga yang membelinya secara kredit. Tergantung kemapanan ekonomi sang pengantin pria. Rumah itu nantinya harus atas nama sang istri.

Tunangan atau acara pernikahan dalam adat masyarakat Mesir benar-benar menjadi acara yang membahagiakan. Orang Mesir selalu menyebut acara pertunangan dan pernikahan dengan nama “farah” yang berarti “bahagia”, sehingga di sela-sela acara itu terlihat jelas kebahagiaan mereka.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas