• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Mengintip Adat Pernikahan Orang Mesir

Rabu, 8 Mei 2013 10:13 WIB
Mengintip Adat Pernikahan Orang Mesir
MAISURI DUHANI
OLEH MAISURI DUHANI, alumnus Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Penerima Beasiswa Pemerintah Aceh, melaporkan dari Kairo

SETIAP suku bangsa berbeda adat istiadatnya, demikian pula ritual pernikahannya. Di Mesir, pernikahan bisa dikatakan sesuatu yang terbilang sulit pelaksanaannya jika dibandingkan dengan tradisi perkawinan di Indonesia.

Soalnya, kalau lelaki Mesir ingin melamar seorang wanita ia harus punya mahar berupa emas perhiasan lengkap, mencakup gelang, kalung, cincin, dan kalau perlu gelang kaki. Mereka menyebut perangkat ini “Syabkah”.

Tak cuma itu. Lelaki Mesir juga harus mempersiapkan sebuah rumah beserta isinya agar bisa ditempati bersama sang istri setelah menikah.

Beberapa gadis Mesir malah minta disediakan kendaraan sebagai syarat menikah. Jadi, untuk mahar minimal harus tersedia pound kira-kira Rp 600 juta, barulah lamaran diterima. Sulitnya menikah tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di hampir semua negara-negara Arab. Sejauh yang saya amati, banyak remaja putra maupun putri Mesir yang baru mampu menikah pada usia yang sudah lumayan tua. Ini karena sulitnya persayaratan menikah dalam tradisi Mesir. Itu sebab, ketika satu pasangan berhasil mengatasi ketatnya persyaratan itu, mereka benar-benar merayakannya dengan penuh kemenangan.

Bandingkan dengan di Aceh yang biasanya setelah lamaran, acara pernikahan akan dilangsungkan selang tiga minggu, satu bulan, atau paling lama enam bulan. Tapi di Mesir, antara masa lamaran dengan akad nikah bisa dua tahun selang waktunya. Hal ini karena calon suami perlu waktu lama untuk mempersiapkan segala keperluan rumah tangga, seperti perhiasan emas, rumah (saah), dan lainnya.

Rumah yang disediakan biasanya dibeli kontan. Tapi ada juga yang membelinya secara kredit. Tergantung kemapanan ekonomi sang pengantin pria. Rumah itu nantinya harus atas nama sang istri.

Tunangan atau acara pernikahan dalam adat masyarakat Mesir benar-benar menjadi acara yang membahagiakan. Orang Mesir selalu menyebut acara pertunangan dan pernikahan dengan nama “farah” yang berarti “bahagia”, sehingga di sela-sela acara itu terlihat jelas kebahagiaan mereka.

Setelah akad nikah biasanya kedua mempelai dan rombongan naik mobil untuk keliling kampung. Klakson mobil dan sepeda motor dibunyikan secara bersamaan, kemudian mempelai menuju tempat dilaksanakannya pesta pernikahan.

Orang Mesir sering mengadakan pesta pernikahan di tempat-tempat terbuka, seperti di pinggir jalan dekat rumah mereka. Tak jarang pula mereka rayakan di pinggir Sungai Nil, sungai kebanggaan rakyat Mesir. Tapi mereka yang mampu biasanya menyewa gedung.

Sesampai di tempat pesta, kita jangan berharap ada aneka makanan seperti rendang, ayam goreng, rujak, acar, dan segala macam makanan seperti halnya di Aceh, sebab orang Mesir tidak menyediakan makanan berat apa pun. Mereka hanya menyuguhkan makanan ringan seperti molto (roti berisi cokelat) dan syibsi (sejenis kerupuk citato yang terbuat dari kentang). Disediakan juga minuman ringan bermerek.

Sambil menikmati snack-snack kecil yang disediakan, orang Mesir selalu menghidupkan musik Arab khas Mesir dari albumnya Sa’ad Shugoyyar yang terkenal untuk acara pesta. Mereka biasanya berjoget bersama, termasuk kedua mempelai.

Apabila orang Indonesia melihat acara pernikahan orang Mesir ini pastilah agak merasa aneh. Seakan kurang sakral dibandingkan dengan acara pernikahan di Indonesia. Tapi, aneh menurut kita, sudah cukup baik menurut mereka. Inilah yang namanya perbedaan budaya.

Hanya malam hari
Prosesi pernikahan di Mesir biasanya berlangsung pada malam hari, dimulai seusai magrib sampai tengah malam. Baju yang dikenakan kedua mempelai pun cukup satu setel saja, terlihat seperti pakaian selayar untuk mempelai wanita dan jas untuk mempelai laki-laki.

Mengintip adat pernikahan Mesir yang sangat jauh berbeda dengan adat kita di Indonesia dan di Aceh khususnya, patutlah kita bangga membayangkan tentang khidmatnya adat pernikahan di daerah kita. Dalam setiap acara pernikahan, ada tangis bahagia dan tawa gembira. Pengantinnya dibalut pakaian adat serta pelaminan khas Aceh yang ditata bak singgasana raja, dilengkapi dengan segala macam hidangan yang menambah meriahnya pesta pernikahan.

Tapi inilah kenyataannya. Allah menciptakan manusia dengan beragam suku dan bangsa yang berbeda-beda, untuk saling kenal-mengenal. Mengenal budayanya, mengenal karakternya.
[email penulis: mai_duha@ymail.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
188554 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas