Citizen Reporter
Pembelajaran Mendalam di Sydney Ternyata Aceh Sudah Sangat Siap
Australia memang terkenal sebagai negara dengan sistem pendidikan yang kuat, terutama dalam bidang teknologi dan sains.
SARLIVANTI, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Sydney, Australia
Sebagai guru, saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari Program Kunjungan Belajar Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, yang membawa saya ke Sydney, Australia, pada 25 Mei hingga 1 Juni 2025.
Siapa sangka, perjalanan ke Sydney yang awalnya saya bayangkan hanya sebagai petualangan belajar, ternyata jadi pengalaman hidup yang begitu berkesan.
Australia memang terkenal sebagai negara dengan sistem pendidikan yang kuat, terutama dalam bidang teknologi dan sains. Sydney sendiri menjadi magnet bagi pelajar internasional karena universitas-universitasnya yang top, pendekatan pembelajaran yang praktis, serta akses ke industri teknologi yang berkembang pesat. Belajar pembelajaran mendalam di tengah kota yang modern, multikultural, dan dekat dengan pantai sungguh menjadi pengalaman yang tidak hanya mengasah otak, tapi juga memperkaya perspektif hidup saya.
Saya menyaksikan secara langsung transformasi pendidikan yang relevan dengan tuntutan abad 21. Kunjungan ini membuka mata saya tentang betapa krusialnya pendekatan pembelajaran mendalam bagi kita, para pendidik, dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi kompleksitas dunia modern.
Dalam konteks ini, lulusan sekolah tidak hanya dituntut untuk menghafal fakta, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memecahkan masalah secara kreatif, berkolaborasi secara efektif, dan belajar secara mandiri sepanjang hayat.
Sepenting apa pembelajaran mendalam?
Presentasi Jenny Lewis dan Lynn Davie yang menjadi Trainer Deep Learning selama di Sydney sungguh memukau, menguraikan konsep pembelajaran mendalam dengan cara yang begitu interaktif dan mudah dipahami sehingga saya menemukan banyak pencerahan yang menguatkan 'mindset' saya. Pembelajaran mendalam bermula dari kebutuhan unik setiap anak, menuntut guru untuk menjadi arsitek pembelajaran yang cermat, memikirkan profil lulusan, dan membuka wawasan tentang praktik pedagogis, lingkungan, kemitraan belajar, hingga pemanfaatan teknologi digital. Ini bukan tentang mengganti kurikulum, melainkan menguatkan pencapaian kurikulum sesuai dimensi profil lulusan yang kita harapkan.
Penting juga untuk memiliki pemahaman yang sama tentang pembelajaran mendalam itu sendiri serta menerapkan diferensiasi karena "berbeda belum tentu salah" sehingga keterbukaan sangat diperlukan untuk pembelajaran yang mendalam. Konsep "less for me and more for you" benar-benar menginspirasi. Artinya, guru harus memberi murid lebih banyak kesempatan untuk aktif mengolah pengetahuan mereka dalam pengalaman belajar baru, mengubah peran guru menjadi aktivator, pembangun, dan fasilitator yang mendorong agensi murid.
Implementasi di Sydney
Saya juga berkesempatan melihat bagaimana sekolah mengintegrasikan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam dalam praktik sehari-hari. Observasi pertama 26 Mei 2025 dilakukan di Birrong Girls School, khususnya pada pembelajaran IPA kelas 9. Selama observasi, saya terkesima melihat bagaimana proses pembelajaran dirancang dengan sangat efektif. Setiap sesi dimulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, lalu guru tak lupa meminta setiap murid untuk mengutarakan tujuan belajarnya sendiri, sebuah pendekatan yang langsung melibatkan siswa. Selanjutnya, guru menjelaskan tahapan kegiatan dengan terperinci, diselingi pertanyaan untuk mengukur pemahaman awal murid, dan tentu saja, memberikan umpan balik yang konstruktif. Bagian paling dinamis terjadi saat guru meminta murid bekerja dalam kelompok, mendampingi mereka berdiskusi pembuatan projek STEAM tentang mikroba, dan pada akhirnya, meminta setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya beserta kriteria keberhasilan pembelajaran yang mereka capai.
Observasi kedua 27 Mei 2025 ke Auburn Public School menjadi pengalaman observasi terbesar dan paling berkesan bagi saya, jauh melampaui kunjungan-kunjungan sebelumnya. Setiap pagi, tepat pukul 09.00, seluruh komunitas sekolah, termasuk para orang tua, berkumpul dalam majelis (assembly) yang penuh kehangatan, menandai dimulainya hari pembelajaran. Suasana di Auburn sungguh unik. Sekolah ini adalah potret nyata inklusi dan multikulturalisme, dihuni oleh siswa dari 50 negara berbeda dengan 45 bahasa ibu yang bukan bahasa Inggris. Tak heran jika lebih dari separuh orang tua murid di sini menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.
Visi sekolah adalah fondasi utama yang mendasari setiap langkah, tercermin dalam 'school excellence framework cycle' yang meliputi 'learning', 'teaching', dan 'leading'. Keberhasilan Auburn dalam merangkul keragaman dan memfasilitasi pembelajaran yang efektif didukung oleh enam kondisi pendorong (six enabling conditions) yang kuat: 'Wellbeing and emotional support, collaborative practice, growth mindset, professional learning, proactive leadership, and routines'. Berdasarkan hasil penilaian berbasis data, para guru di Auburn dengan cermat menyusun projek pembelajaran melalui 'explicit teaching' yang menjadi fondasi dasar 'deep learning'. Mereka merancang pembelajaran menggunakan ANPS Instructional Model, sebuah model instruksional yang mengintegrasikan 'scaffolding' dengan instruksi yang sangat jelas, dimulai dari asesmen, penetapan 'success criteria', hingga 'hook and prior knowledge' melalui pertanyaan-pertanyaan memancing.
Kunjungan ke Al-Noori Muslim School memberikan gambaran yang kaya tentang pendidikan di Australia, khususnya dalam konteks sekolah independen atau swasta. Dengan sekitar 2.400 siswa yang tersebar dari jenjang kindergarten hingga year 12, sekolah ini menawarkan program pendidikan yang komprehensif. Yang menarik adalah bagaimana Al-Noori tidak hanya fokus pada kurikulum akademis standar, tetapi juga secara cerdas mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur'an ke dalam kerangka 6C (keterampilan abad 21) yang menjadi profil lulusan mereka. Ini menjadikan ajaran agama sebagai tuntunan hidup yang relevan dengan kebutuhan masa depan siswa.
Untuk memastikan siswa memiliki pemahaman yang jelas tentang target pembelajaran, Al-Noori berinovasi dengan membuat "passport" yang berisi kriteria keberhasilan untuk setiap siswa. Paspor ini terdiri atas enam buku kecil, masing-masing merepresentasikan satu kriteria dari 6C profil lulusan (character, citizenship, collaboration, communication, creativity, and critical thingking), membantu siswa melihat dengan jelas apa yang harus mereka penuhi dan kuasai.
Pada jenjang pendidikan dasar (kindergarten – tahun 6), fokus utama sekolah adalah pengembangan keterampilan dasar seperti literasi, numerasi, dan pemikiran kritis. Namun, yang membedakan adalah tambahan pelajaran Studi Islam, bahasa Arab, dan studi Al-Qur'an, yang secara integral membangun identitas Islam siswa sejak dini. Melangkah ke pendidikan menengah (tahun 7–12), kurikulum mencakup mata pelajaran inti seperti bahasa Inggris, matematika, sains (fisika, kimia, biologi), sejarah, geografi, dan seni. Siswa di tahun 11 dan 12 secara khusus dipersiapkan untuk Sertifikat Sekolah Menengah Atas (HSC), kualifikasi penting untuk masuk universitas di Australia, sedangkan pelajaran Studi Islam dan Al-Qur'an tetap menjadi bagian tak terpisahkan. Secara keseluruhan, Al-Noori Muslim School menampilkan sebuah model pendidikan yang holistik, di mana keunggulan akademis berpadu harmonis dengan pengembangan karakter dan spiritualitas.
Aceh sudah sangat siap
Konsep pembelajaran mendalam yang berfokus pada pemahaman konseptual, kolaborasi, dan penerapan nyata sangat relevan untuk diterapkan di berbagai konteks pendidikan, termasuk di Aceh. Apalagi saat ini, para guru di Aceh sudah semakin akrab dengan pendekatan berbasis projek, teknologi pembelajaran makin mudah diakses, dan semangat kolaborasi antarsekolah terus tumbuh. Dengan dukungan kebijakan pendidikan daerah, pelatihan berkelanjutan bagi guru, serta kemauan untuk berinovasi, saya percaya pendekatan pembelajaran mendalam seperti yang saya pelajari di Sydney sangat mungkin dikembangkan di Aceh, demi mendorong kualitas pendidikan yang lebih bermakna dan kontekstual bagi generasi masa depan Aceh.
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SARLIVANTI-CR.jpg)