Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Makanan dan Pengawet Berbahaya

ACEH yang dikenal dengan Nanggro Syariat dalam urusan dagang masih ada yang menyimpang dari hukum syar’i.

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Yelli Sustarina

ACEH yang dikenal dengan Nanggro Syariat dalam urusan dagang masih ada yang menyimpang dari hukum syar’i. Di zaman Rasulullah saw, permasalahan jual beli yang sering terjadi yaitu pengurangan timbangan atau takaran. Namun, sekarang permasalahannya ialah penambahan bahan pengawet berbahaya dalam makanan, seperti formalin, boraks, zat pewarna tekstil dan sebagainya, yang dapat membahayakan kesehatan orang yang mengonsumsinya.

Makanan yang mengandung zat-zat berbahaya tersebut, belakangan kerap ditemukan oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPPOM). Mungkin sudah sekian lama makanan yang mengadung zat-zat berbahaya beredar di Aceh, namun baru sekaranglah sedikit demi sedikit terungkap.

Akan tetapi bayangkan berapa banyak orang yang telah membeli makanan tersebut? Tidak hanyak orang dewasa yang membelinya namun juga anak-anak yang menjadi korban oleh karena ulah para pedagang nakal yang menginginkan banyak untung tampa memikirkan nasib orang lain.

Maraknya makanan yang menggunakan pengawet berbahaya seperti yang diberitakan Serambi beberapa waktu lalu, telah meresahkan semua kalangan, tidak saja dari pihak konsumen, tetapi juga para pedagang lain yang tidak menggunakan barang-barang tersebut. Kepercayaan masyarakat nyaris hilang akibat ulah sebagian ‘pedagang jahil’ yang menambahkan bahan pengawet berbahaya seperti formalin, ke dalam makanan dagangannya supaya makanan tersebut awet dan tahan lama. “Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”, begitulah ungkapan yang diraskan oleh para pedagang lain yang dirugikan karena pemberitaan tersebut.

 Makanan berformalin
Makanan yang mengandung formalin sangat berbahaya dikonsumsi oleh tubuh kita. Formalin merupakan bahan yang biasanya digunakan untuk pembersih, antiseptic, pengontrol kecoa, pengawet kayu, termasuk untuk mengawetkan mayat. Biasanya zat ini hanya digunakan di rumah sakit atau di tempat-tempat tertentu, dan tidak bisa digunakan untuk pengawetan bahan makanan.

Akan tetapi ada sebagian pedagang yang menginginkan dagangannya tetap awet dan tahan lama, maka mereka menggunakan formalin sebagai bahan pengawet. Makanan yang biasa ditambahkan bahan pengawet formalin yaitu mie basah, tahu, buah-buahan, ikan segar, dan ikan teri. Bahan-bahan seperti ini sangat susah untuk bertahan lama karena proses pembusukannya berjalan lebih cepat. Jadi dagangan yang biasanya tidak habis terjual, oleh pedagang yang tidak mau rugi ditambahkannya bahan pengawet supaya barang tersebut bisa dijual lagi.

Ketidaktahuan tentang bahaya penggunaan formalin oleh sebagaian pedagang membuat mereka berani melakukan hal tersebut. Padahal jika ditelusuri lebih dalam mengenai dampak dan bahaya penggunaan formalin tentu mereka berpikir dua kali sebelum melakukannya. Formalin yang digunakan sebagai pengawet makanan akan berakibat pada gangguan fungsi tubuh.

Ketika zat tersebut masuk ke tubuh manusia, formalin bereaksi cepat dengan lapisan lendir dan saluran pernapasan. Dalam tubuh formalin cepat teroksidasi membentuk asam format terutama pada hati dan sel darah merah. Selanjutnya, masuknya formalin ke dalam tubuh ini bisa mengakibatkan keracunan.

Keracunan ini akan menimbulkan rasa sakit atau mual yang diikuti muntah-muntah. Timbul depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah.

Bahkan, menurut Kepala Bidang Sertifikasi dan Pelayanan Informasi Konsumen BPPOM Daerah Istimewa Yogyakarta, Dra Ari Astuti MKes Apt, dalam dosis yang lebih tinggi, formalin dapat menimbulkan kejang, kencing darah, tidak bisa kencing, muntah darah, dan sangat mungkin menimbulkan kematian (Radar Jogja, 8/1/2006).

Untuk mengetahui ciri-ciri dari makanan yang mengandung formalin dapat dilihat dari bentuk, warna dan bau yang tercium pada makanan tersebut. Dari segi bentuknya makanan yang mengandung formalin tidak mudah hancur dan terlihat bagus. Pada ikan warna insangnya merah tua, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih. Baunya lebih menyengat yaitu bau formalin, apalagi ketika dimasak.

Makanan-makanan yang mengandung formalin bisa bertahan lebih lama dan sangat jarang dihinggapi oleh lalat. Perlu bagi kita mengetahui ciri dari makanan yang mengandung formalin, supaya kita lebih waspada dalam memilih dan membeli makanan. Karena apa yang kita makan sangat berpengaruh oleh kesehatan tubuh.

 Makanan sehat
Kesehatan merupakan hal yang sangat berharga. Karena dengan sehatlah kita bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginan kita. Mengkonsumsi makanan sehat ialah sebuah keharusan untuk hidup sehat. Makanan sehat merupakan makanan yang bersih, tidak mengandung bibit penyakit, kandungan gizinya seimbang dan tentunya bebas dari bahan pengawet berbahaya. Bagi kaum muslim satu hal tambahan lagi yaitu makanan tersebut halal.

Terdapat hubungan yang erat antara makanan dengan kesehatan manusia. Makanan tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar untuk menghilangkan rasa lapar atau kenikmatan akan rasa saja, tetapi juga untuk memperthankan kesehatan dan berpengaruh terhadap kecerdasan serta produktivitas kerja manusia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved