Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

‘Tiep Uroe’ Hari Ibu

IBU, Bunda, Ummi, Mama, Emak, Nyak, Mother, atau apa pun sebutannya ialah orang yang telah melahirkan kita ke dunia

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Yelli Sustarina

IBU, Bunda, Ummi, Mama, Emak, Nyak, Mother, atau apa pun sebutannya ialah orang yang telah melahirkan kita ke dunia dan mempunyai peran penting bagi kehidupan setiap orang. Oleh kerena besarnya jasa dan pengorbanan mereka, hampir semua negara di dunia menempatkan satu hari untuknya yang disebut Hari Ibu.

Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sedangkan di negara-negara lain seperti Amerika, Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu (Mother’s Day) dirayakan pada minggu kedua di bulan Mei.

Di saat Hari Ibu, banyak yang memberikan hadiah kepada ibu mereka, menggantikan pekerjaan rumah yang biasa dikerjaan ibu, berlaku baik kepadanya dan banyak hal-hal lain yang diperlakukan khusus untuk mereka. Namun selepas hari itu, banyak yang lupa atas jasa dan pengorbanan ibu yang diberikan kepada mereka. Apakah pantas ibu yang kita mengandung selama sembilan bulan, menyusui dan menyampih selama dua tahun, serta menjaga kita hingga dewasa, hanya di berikan satu hari untuk mereka? Sungguh ironis jika ada yang berpikir Hari Ibu hanya satu hari.

 Memberikan perhatian
Jarang seorang ibu yang mengatakan kepada anaknya: “Selamat hari anak, anakku!” Namun banyak anak yang memberikan ucapan: Selamat Hari Ibu di saat perayaan hari ibu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Itu tidak lain karena seorang ibu tidak pernah mengkhususkan satu hari untuk anaknya. Setiap hari (tiep uroe), bahkan setiap detik pun mereka selalu memberikan perhatian lebih kepada anak-anak mereka.

Tiada hari tanpa anak, ibu selalu memantau setiap pertumbuah dan perkembangan anaknya, memberinya makan, menjaga kebersihan tubuhnya, menemaninya bermain, mengajarinya berjalan dan ketika anaknya sakit ibulah yang rela tidak tidur demi menjaga buah hatinya. Bagaimana mungkin ibu bisa mengatakan selamat hari anak, karena setiap kehidupannya dicurahkan kepada anaknya.

Kemudian mengapa bisa tercetus Hari Ibu? Bukankah kita seharusnya setiap hari memberikan perhatian lebih dari apa yang diberikan kepadanya? Kanyataan pada hari ini, banyak anak yang menganggap ibu hanya tempat mengadu jika ada masalah, namun peran ibu sebagai teman, sebagai wanita yang harus kita sayangi dan kagumi terlupakan. Hari-hari dihabiskan dengan kegiatan kerja, kampus atau pun sekolah, sehingga waktu bersama ibu sangat sedikit diluangkan. Kita lupa bahwa ibu menginginkan perhatian dari anaknya, betapa sedihnya ia kalau kita hanya memberikan perhatian kepadanya satu hari di penghujung tahun.

Semua ibu pasti berharap yang terbaik untuk anaknya. Apapun dilakukan demi terpenuhinya kebutuhan dan keperluan si buah hati. Terkadang ibu sering dipusingkan dengan permintaan si anak yang bermacam-macam, meminta mainan setiap kali pergi ke pasar, minta di belikan ini, itu dan sebagainya. Dari kecil sampai dewasa permintaan demi permintaan sering kali kita ajukan kepada ibu, bahkan ada yang tidak mau tahu, apakah ibunya punya uang atau tidak, yang terpenting kebutuhannya harus dipenuhi oleh ibu.

Seseorang yang mempunyai naluri keibuan, tidak tega melihat anaknya dalam kesusahan dan kesulitan, mereka berusaha memprioritaskan kebutuhan anak-anaknya jauh dari keperluan mereka sendiri. Kerja keras yang dilakukan dan perhatian yang diberikan, tidak lain berharap anaknya bisa senang dan tersenyum. Kebanggaan bagi ibu jika anaknya bisa hidup bahagia dan tumbuh menjadi anak yang sehat.

Setelah semua yang diberikan ibu kepada anaknya, saatnya si anak membalas budi baik ibu. Ibu tidak pernah mengharapkan hadiah dan menggantikan semua tugas rumah tangga yang dibebankan kepadanya. Dia juga tidak pernah meminta dibelikan ini dan itu seperti yang kita minta dulu kepadanya, namun yang dia inginkan ialah perhatian dari si anak. Ibu berharap agar anaknya menyayanginya setiap waktu (tiep saat), bukan di saat Hari Ibu saja.

Dalam satu disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya oleh sahabatnya: “Siapakah orang yang berhak kulayani dan kuperlakukan dengan baik ya Rasulullah? Nabi saw menjawab: Ibumu. Sahabat pun kemudian bertanya lagi: Siapa lagi ya Rasulullah? Nabi pun memberikan jawaban yang sama: Ibumu, Ibumu, sampai tiga kali. Barulah pertanyaan yang keempat Rasullulah menjawab: Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Mulianya sang ibu
Begitu mulianya sang ibu sehingga Rasulullah benar-benar menyuruh umatnya untuk berbuat baik kepada ibu, karena surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Bertahun-tahun ibu menghabiskan waktunya untuk membesarkan anak-anaknya, hingga mereka menjadi orang-orang yang sukses. Sampai saatnya ketika anak tersebut menikah dan mempunyai istri atau suami, mereka pun pindah rumah dan meninggalkan ibunya. Alasan yang sering dikemukakan adalah karena pekerjaan.

Akan tetapi, seorang ibu sangat mengerti terhadap keputusan anaknya itu. Meskipun ibu sebenarnya tetap ingin bersama dengan anaknya, namun ia tutup keinginan itu rapat-rapat. Butuh waktu lebaran ke lebaran si anak baru sempat mengunjungi dan memohon ampunan kepada ibunya. Meskipun sebentar, tapi ibu sangat senang dengan kehadiran anaknya.

Saat si anak pergi, perasaannya kembali sedih dan khawatir jika sewaktu-waktu dia tidak dapat lagi bertemu dengan anaknya. Pantaskah waktu yang diberikan ibu bertahun-tahun kepada kita hanya digantikan dengan hari-hari tertentu? Ada 24 jam dalam satu hari dan 8.640 jam dalam setahun, selama itu ibu memberikan seluruh waktunya kepada kita. Lantas, cukupkah atau pantaskah hanya satu hari setiap tahun kita peruntukkan kepadanya?

Renungkanlah teman-teman, berapa banyak waktumu yang telah kau berikan kepada ibumu? Tidak hanya di Hari Ibu kamu berlaku baik kepadanya, karena mestinya tiep uroe (setiap hari) dan bahkan setiap detik ialah hari ibu. Mestinya setiap hari dan setiap saat kita berbakti dan berbuat baik kepada ibu kita. Dirgahayu Hari Ibu!

Yelli Sustarina, Mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Syiah

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved