Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Antara Tsunami Aceh dan Jepang

ACEH dan Jepang merupakan dua wilayah yang pernah mengalami bencana yang mahadahsyat yaitu tsunami

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Yelli Sustarina

ACEH dan Jepang merupakan dua wilayah yang pernah mengalami bencana yang mahadahsyat yaitu tsunami. Walaupun banyak daerah lain yang juga pernah mengalami tsunami, namun dua daerah inilah yang paling dikenal jika menyebut kata tsunami. Aceh dikenal dunia Internasional akibat tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam, sedangkan Jepang merupakan negara yang paling sering mengalami bencana tsunami. Karena itu, tidak heran kalau berbicara mengenai tsunami sekarang ini, Aceh dan Jepang kerap menjadi rujukan peristiwa alam yang luar biasa itu.

Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti “gelombang air”. Orang jepang sudah familiar dengan kata ini, jauh sebelum kata ini menjadi populer setelah tsunami yang melanda Aceh. Dampak besar dari bencana stunami Aceh, mengejutkan semua orang yang melihat dan menyaksikan keganasan dari tsunami. Sebanyak 128 ribu orang meninggal dunia, di tambah dengan korban hilang dan luka-luka lainnya yang menibulkan kecacatan dan trauma yang luar biasa bagi banyak orang.

Banyaknya korban dan infrastruktur yang rusak akibat tsunami, tentunya harus ditanggapi dan dievaluasi supaya bencana ini tidak menibulkan dampak yang lebih besar bagi kehidupan masyarakat mendatang. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan kepedulian dan kesiapsiagaan dari seluruh lapisan masyarakat untuk mengurangi dampak dari risiko bencana.

 Gagal mitigasi bencana
Aceh kelihatannya gagal dalam mitigasi atau pengurangan risiko bencana, rumah-rumah dibangun kembali di lokasi bencana yaitu tempat zona rentan tsunami. Hal ini tentunya akan menyebabkan kerentanan yang tinggi bagi permukiman yang berada di pesisir pantai. Walaupun tsunami tidak datang setiap saat dan mempunyai jangka waktu yang lama, bencana ini akan merenggut banyak korban jiwa di masa yang akan datang.

Mereka yang hidup seratus atau ribuan tahun ke depan merupakan anak cucu kita nantinya, dan mereka tidak pernah tahu bahwa siklus tsunami pasti berulang. Sama halnya dengan kita yang tidak pernah tahu bahwa stunami pernah melanda Aceh sebelumnya.

Di sisi lain jepang yang juga mengalami bencana gempa dan tsunami, menyadari bahwa mendirikan rumah di tepi pantai mempunyai risiko tinggi terhadap tsunami, jadi mereka mempunyai batas atau zona aman dalam mendirikan bangunan. Teakhir tsunami Jepang terjadi pada Maret 2011 lalu, jumlah korban jiwanya hanya sekitar 10 ribu orang, kurang lebih 13 kali lipat lebih sedikit dibandingkan korban jiwa pada saat gempa dan tsunami Aceh. Akan tetapi kedahsyatan gelombang tsunaminya hampir sama dengan kejadian tsunami Aceh.

Dampak bencana sulit untuk dicegah, namun kita harus berusaha untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut. Perbedaan jumlah korban jiwa antara Aceh dan Jepang sangat signifikan, karena mitigasi atau pengurangan risiko bencana yang ada di Jepang jauh lebih baik dibandingkan Aceh. Orang Jepang menyadari betul bahwa daerahnya sering dilanda gempa dan tsunami, maka mereka membuat gedung yang tahan gempa dan membangun warning system (sistem peringatan) yang baik. Kalau 20 tahun yang lalu Jepang membutuhkan waktu 20 menit untuk mengeluarkan peringatan tsunami, namun sejak 2008 hanya butuh waktu 2 menit untuk mengeluarkan ada tidaknya tsunami.

Selain itu mereka juga tidak dibolehkan membangun bangunan di zona rawan tsunami dan dalam setiap pembangunan mereka harus berdasarkan riset dan tata ruang yang jelas, supaya bisa mengantisipasi bencana gempa dan tsunami. Sumber daya manusianya juga dilatih supaya tanggap terhadap bencana dan tidak panik saat menghadapi bencana. Mereka diajarkan kiat-kiat menghadapi bencana, mulai dari anak-anak hingga usia tua, sehingga mereka paham betul apa yang harus dilakukan saat bencana tersebut datang. Namun bagaimana dengan keadaan di Aceh?

 Menambah masalah
Gempa dan tsunami Aceh meninggalkan duka dalam dan trauma yang besar bagai masyarakat Aceh, mereka begitu fobia dan ketakutan saat terjadi gempa dan isu-isu tsunami. Ketakutan itu tidaklah dapat mengurangi risiko bencana, namun menambah masalah dan bencana lain yang tidak dapat diduga. Lihat saja saat terjadinya gempa, semua orang berlari menuju ke tempat yang tinggi tanpa memastikan dulu apakah peringatan tsunami sudah dikeluarkan oleh pihak berwenang, baik menggunakan sirine tsunami ataupun kentongan.

Akibatnya seluruh ruas jalan disesaki oleh banyak orang dan kenderaan bermotor yang menimbulkan kemacetan panjang. Kalau begini kejadiannya, dipastikan jika terjadi tsunami banyak korban jiwa yang tidak dapat diselamatkan. Begitu juga saat panik menghadapi gempa, kita sangat jarang mendapatkan pelatihan terkait kiat-kiat menghadapi gempa. Mungkin di awal-awal pascatsunami 2004 lalu, pelatihan-pelatihan ini sering dilakukan, namun sekarang kita seolah tidak peduli dengan hal itu.

Kenyataan sekarang saat menghadapi gempa, semua orang merasa panik dan berlari keluar meninggalkan rumah tanpa memastikan rumah mereka ditinggalkan dalam keadaan aman seperti memastikan kompor dalam keadaan tidak menyala, mematikan komputer, televisi, dan barang elektronik lainnya serta memastikan rumah yang ditinggalkan dalam keadaan terkunci. Akibatnya muncullah bencana lainnya yang tidak diduga sebelumnya seperti kebakaran, kemalingan dan kecelakaan lalu lintas. Siapakah yang patut kita persalahkan jika situasinya sudah begini?

Bukan maksud membandingakan antara Aceh dan Jepang, namun penulis hanya mengingatkan kita semua, bahwa bencana gempa dan tsunami bukanlah sesutu yang harus ditakuti dan dihindari. Sebab, daerah atau wilayah kita yang berada di kawasan cincin api (ring of fire) dunia merupakan daerah yang rawan terhadap bencana. Apa salahnya kita belajar dari Jepang yang begitu peduli dan tanggap terhadap bencana. Semoga!

Yelli Sustarina, Mahasiswi Fakultas Keperawatan, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: yellsaints.paris@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved