Opini
Muslim Jahili vs Non-Muslim Islami
JUDUL tulisan ini terkesan agak ironis, memang. Namun, jika melihat kenyataan perilaku masyarakat kita sekarang
Oleh Mirnani Muniruddin
JUDUL tulisan ini terkesan agak ironis, memang. Namun, jika melihat kenyataan perilaku masyarakat kita sekarang, maka mau tidak mau atau suka tidak suka, patut diakui bahwa tema atau judul di atas ada benarnya. Muslim jahili adalah nama lain kepada orang Islam yang tidak mengamalkan ajaran Islam yang dianutnya. Salah satu konsekuensi seseorang menjadi Muslim adalah meninggalkan segala bentuk nilai-nilai yang tidak Islami atau yang jahili.
Karena itu setiap mukmin dituntut untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah atau menyeluruh agar tidak digolongkan kepada Muslim jahili. Seorang Muslim yang selalu melakukan hal-hal yang tidak diajarkan dalam ajaran Islam sendiri. Mengupat, ingkar janji, malas, kotor, suka berkelahi, berkata-kata kotor, bahkan hal-hal yang dianggap sepele oleh Muslim sekarang sungguh sudah bisa mencoreng nama baik orang Islam sendiri.
Padahal, tidak satu pun dari hal-hal buruk di atas diajarkan dalam Islam. Bahkan, hampir tidak ada negara Islam pada saat ini yang tidak mengalami kerusuhan, saling bunuh membunuh, perpecahan sesama Islam, bom bunuh diri, hal yang sudah biasa menghiasi hari-hari umat Islam dewasa ini.
Walaupun sebenarnya ini tidak bisa dijadikan tolok-ukur untuk memahami Islam yang sebenarnya. Seseorang tidak bisa menyamakan Islam dengan umat Islam, terutama dengan keadaan umat Islam pada suatu masa di suatu tempat, penjajahan Barat yang melanda umat Islam berabad-abad telah menyebabkan umat Islam berada dalam keadaan lemah, miskin, terkebelakang, terpecah-pecah dalam berbagai kelompok. (Mohammad Daud Ali: 2002).
Kepribadian jahiliyah
Meskipun demikian, tidak bisa bagi kita untuk tetap membiarkan Muslim-muslim lainnya yang mengaku beriman, tapi tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang jahiliyah. Sehingga kepribadiannya masih bercampur dengan kepribadian jahiliyah, karenanya orang seperti itu pantas kita sebut dengan Muslim yang jahili. Karena dengan melihat kenyataan seperti membuat orang lain bisa salah memahami Islam yang hakiki.
Nah, kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Lalu bagaimana dengan keadaan non muslim yang sudah bisa dianggap sangat Islami sekali. Non-muslim yang Islami bisa kita indentifikasi dengan melihat perilaku mereka sehari-hari, apa kaitannya dengan Islami?
Semua itu sudah diajarkan oleh agama Islam. Ini salah satu bukti Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Orang yang mengerjakan hal-hal tersebut atau mengamalkannya disebut Islami, dan Anda juga tidak perlu harus masuk Islam untuk melakukan hal itu. Cukup tanya hati nurani dan gunakan sedikit akal pikiran, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan seharusnya dilakukan, dan mana yang tidak.
Tetapi jika kita seorang Muslim, untuk memahami bahwa orang Islam itu seperti apa seharusnya memang dibutuhkan sedikit Ilmu. Ilmu malu mengaku Islam, tapi perilaku belum Islami, seperti malu untuk tidak jujur, tidak bersih hati, pikiran, dan jasmani, tidak menebarkan keselamatan dan kedamaian pada orang lain, tidak menjauhkan diri dari perilaku korup, perilaku hasad, rakus, kotor, dan yang paling parah adalah perilaku malas belajar yang sudah mendarah daging dalam diri seorang Muslim.
Mengutip pengalaman yang dialami dosen kami, Prof Yusni Saby ketika beliau berada di Amerika dan berjumpa dengan seorang mahasiswa Yahudi. Inti dari percakapan beliau dengan Yahudi tersebut adalah tentang alasan mengapa begitu semangatnya mereka belajar. “Kami dianggap sudah mati jika kami tidak lagi belajar dan menuntut ilmu”, itulah jawaban Yahudi tersebut. Satu jawaban yang seharusnya membuat kita malu dengan Yahudi tersebut.
Melihat kemajuan yang Yahudi alami sekarang bahkan membuat kita terkesima dengan perubahan yang mereka alami, terlepas dari kenyataan bahwa Yahudi dulu merupakan kelompok minoritas yang terkebelakang, miskin, kotor dan bodoh. Semangat belajar merekalah yang patut kita acungi jempol.
Padahal, bukankah jelas-jelas dalam Alquran, Allah Swt telah mengingatkan kita dengan firmanNya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” (QS. Al-Alaq: 1-6)
Dalam surat Al-Alaq ini Allah telah mengajarkan manusia dengan perantaraan tulis baca, dan ini merupakan penjelasan betapa perintah untuk belajar dalam hidup seorang Muslim sangatlah penting. Seharusnya bukan Yahudi, Muslimlah yang sepatutnya yang harus mengungkapkan seperti kata-kata Yahudi di atas dengan penuh antusias. Namun, fenomena ini juga ini mebuktikan bahwa ajaran telah banyak diadopsi oleh non Muslim yang bahkan kita sebagai orang Muslim telah banyak mengabaikannya. Inilah kemudian yang membuat saya sangat setuju dengan istilah “Muslim Jahili versus Non Muslim Islami”, seperti judul kita angkat di atas.
Satu lagi pertanyaan yang timbul dalam benak saya, mengapa Muslim tidak bisa melangkah maju, seperti pencapaian yang Negara-negara non-Muslim lainnya? Bahkan sekarang ironisnya kita melihat bahwa ternyata negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami dari pada orang Islam sendiri.
Hal ini dibuktikan dengan satu penelitian sosial yang dilakukan oleh Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University, AS. Penelitian bertema: How Islamic are Islamic Countries itu, menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luxemburg di urutan kedua. Padahal, kedua negara tersebut jelas-jelas bukan negara Islam. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. (Rahman dan Iskari, The Global Economy Journal, 2010).