Jurnalisme Warga

Dari Lumpur ke Harapan, Aceh Tamiang Bangkit

Enam belas guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Aceh berangkat dengan satu tujuan: hadir dan membantu saudara-saudara

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/IST/IST
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok, Ketua IGI Aceh Timur, dan sukarelawan, melaporkan dari Aceh Tamiang 

FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok, Ketua IGI Aceh Timur, dan sukarelawan, melaporkan dari Aceh Tamiang

Perjalanan itu dimulai pada pukul 09.00 pagi dari Banda Aceh. Enam belas guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Aceh berangkat dengan satu tujuan: hadir dan membantu saudara-saudara kami di Aceh Tamiang yang baru saja dilanda banjir bandang.

Tidak ada atribut berlebihan, tidak pula ada agenda seremonial. Yang dibawa hanyalah niat, tenaga, dan rasa tanggung jawab sebagai pendidik yang percaya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti meski bencana datang silih berganti.

Perjalanan darat yang panjang menguji kesabaran. Saat rombongan tiba di Bireuen, arus kendaraan tersendat di Jembatan Awe Geutah, jalur utama penghubung menuju Aceh Utara.

Antrean kendaraan mengular panjang. Waktu berjalan lambat, matahari perlahan condong ke barat, sementara rombongan masih terjebak tanpa kepastian.

Baru sekitar pukul 16.00 WIB, setelah berjam-jam menunggu, rombongan akhirnya berhasil melewati jembatan tersebut.  Perjalanan dilanjutkan hingga malam. Rasa lelah mulai terasa, tetapi semangat untuk sampai ke lokasi terdampak tetap terjaga.

Sekitar pukul 01.30 WIB, rombongan singgah sejenak di Peureulak, Aceh Timur. Di sana, kami disambut di rumah Babe Nurdin, sesepuh IGI yang dikenal sebagai figur panutan dan tempat bertanya bagi banyak guru di Aceh. Meski waktu telah larut, Babe Nurdin menyambut dengan hangat. Makanan dihidangkan untuk para sukarelawan yang sejak pagi belum sempat beristirahat dengan patut.

Di tengah suasana lelah dan akrab itu, salah seorang ketua IGI berkelakar, “Ini sahur,” memecah keheningan malam. Tawa kecil pun pecah. Momen singkat tersebut menjadi penguat batin, seolah mengingatkan bahwa di tengah misi kemanusiaan yang berat, kebersamaan tetap menjadi sumber energi.

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan. Sekitar pukul 04.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di Aceh Tamiang dan beristirahat di rumah Ketua IGI Daerah Aceh Tamiang.

Waktu tidur sangat terbatas, tetapi tak seorang pun mengeluh. Agenda utama telah menanti pagi hari.

Sekitar pukul 08.00 pagi, rombongan bergerak menuju lokasi pertama, yaitu SMAN 1 Karang Baru. Tepat pukul 08.25 WIB, para sukarelawan tiba di sekolah tersebut.

Begitu turun dari kendaraan, langkah kaki kami seolah tertahan. Pemandangan di hadapan mata sungguh mengguncang perasaan.

Lumpur cokelat pekat menutupi hampir seluruh area sekolah dengan ketebalan sekitar 30 cm. Halaman, lorong, dan ruang-ruang kelas berubah menjadi hamparan lumpur yang mengering perlahan.

Para sukarelawan terdiam sejenak. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuh harapan itu kini seperti kehilangan wajahnya.

Setelah berkoordinasi singkat, sukarelawan sepakat memulai pembersihan dari ruang guru. Saat pintu dibuka, kondisi di dalam ruangan jauh lebih memprihatinkan. Meja-meja telungkup, kaca pecah berserakan, dan buku-buku terendam lumpur.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved