Rabu, 6 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

"Rujak Batee Iliek", Netizen, dan Media Sosial: Resep Bupati Nurdin AR untuk Jenderal Maruli

Rujak Batee Iliek bukan sekadar kuliner, tetapi metafora kepemimpinan. Dari sejarah Aceh hingga era post-truth

Tayang:
Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/HO
Mantan Anggota Dewan Pengarah BRR Aceh Nias 2004 dan juga Mantan Anggota Multi Donor Fund - EU, the US, World Bank, Jepang, Australia, dan Kanada untuk pembangunan Aceh Nias Pasca Tsunami. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Di Aceh, rujak bukan sekadar kudapan. Ia adalah peristiwa rasa. Dari pesisir hingga pedalaman, hampir setiap wilayah memiliki rujak andalan dengan karakter masing-masing. Salah satu yang paling dikenal adalah Rujak Batee Iliek.

Rasanya lengkap: gurih, manis, pedas, dan asam, berpadu dengan buah segar yang dipilih tidak sembarangan. Tidak ada rasa yang mendominasi secara kasar. Semua hadir, saling menekan, tetapi akhirnya seimbang.

Batee Iliek: Rasa, Sejarah, dan Perlawanan

Batee Iliek sendiri bukan hanya nama kuliner, melainkan juga nama tempat yang sarat sejarah. Di kawasan inilah, pada masa Perang Aceh, terjadi salah satu perlawanan paling keras dan terorganisir dari ulama dan rakyat Samalanga terhadap kolonial Belanda.

Jenderal Van Heutsz, yang kemudian dikenal sebagai penakluk Aceh, bahkan mengakui bahwa perlawanan di Batee Iliek adalah salah satu yang paling berat dan melelahkan.

Tempat ini menjadi simbol ketahanan, daya juang, dan kemampuan menghadapi tekanan luar biasa tanpa kehilangan martabat.

Metafora Rujak Batee Iliek menjadi relevan ketika kita memandang dinamika ruang publik hari ini: ruang yang penuh rasa, penuh tekanan, penuh benturan emosi.

Terutama di era media sosial, ketika setiap isu dapat berubah menjadi perdebatan massal, setiap kesalahan menjadi bahan ejekan, dan setiap tokoh publik berpotensi menjadi sasaran rujakan kolektif.

Baca juga: Bencana dan Model Kelembagaan R3P Aceh: Mengapa Harus Inklusif dan Partisipatif?

Julukan, Ejekan, dan Amarah di Era Digital

Di era digital, tokoh publik sangat mudah tersulut marah karena ejekan, julukan viral, atau kritik pedas netizen: Julukan “Jenderal Baut” yang sempat viral untuk Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak adalah contoh paling mutakhir.

Julukan itu lahir dari sorotan publik terhadap persoalan baut jembatan bailey darurat pascabencana Siklon Senyar-25 di Aceh.

Isu teknis berubah menjadi simbol, simbol berubah menjadi olok-olok, dan olok-olok kemudian membentuk persepsi.

Belajar dari Nurdin AR: Melawan Fitnah dengan Humor

Namun jauh sebelum media sosial hadir, jauh sebelum meme dan linimasa menjadi penentu opini, Aceh pernah memiliki seorang pemimpin lokal yang memberikan pelajaran penting tentang cara menghadapi ejekan publik: Namanya Nurdin AR, Bupati Pidie pada tahun-tahun 1990-an. 

Di masa itu belum ada Facebook, Twitter, atau TikTok. Namun rumor, fitnah, dan sindiran tetap hidup hanya medium penyebarannya yang berbeda.

Nurdin AR dikenal luas sebagai bupati yang hampir tidak pernah marah di depan publik. Padahal, ia tidak kebal dari gosip.

Justru sebaliknya, ia sering menjadi sasaran rumor politik, fitnah personal, dan bisik-bisik yang kadang sangat kejam. Tetapi alih-alih melawan dengan kemarahan, ia memilih strategi yang tidak lazim: humor dan ironi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved