Breaking News
Rabu, 8 April 2026

Opini

Air dan Kampanye Pemilu

PERINGATAN Hari Air Sedunia (World Water Day) yang ditetapkan pada setiap tanggal 22 Maret, diupayakan untuk menarik perhatian publik

Editor: hasyim

Oleh Yelli Sustarina

PERINGATAN Hari Air Sedunia (World Water Day) yang ditetapkan pada setiap tanggal 22 Maret, diupayakan untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Akan tetapi, sepertinya tidak untuk tahun ini, perhatian publik lebih terfokus kepada isu politik menyambut Pemilu 2014.

Jika pada tahun lalu ada kampanye atau pameran tentang peringatan Hari Air Sedunia, tapi sekarang lebih banyak kampanye para calon anggota legislatif (caleg) yang bertarung untuk memperebutkan kursi dewan. Jadi, banyak masalah kesehatan yang tersembunyi akibat tertupnya oleh masalah politik yang semakin hari semakin memanas.

Apalagi di negeri yang namanya syariat ini, masalah nyawa tidak dipermasalahkan lagi. Dengan gampangnya untuk sebuah kekuasan, bunuh-membunuh sudah menjadi sebuah trend. Katanya nanggroe syariat, hukum Islam harus ditegakkan, jika ada yang membunuh tentu harus di-qisas atau pun dibunuh, tapi sampai sekarang belum ada satu orang pun yang di-qisas atas nyawa-nyawa yang telah tebunuh tersebut.

Seperti itulah kurang lebih keadaan Aceh sekarang, berbagai isu politik diekpos, pertikaian antara caleg A dan B dibahas, masalah kampanye partai diutamakan, namun masalah kesehatan termasuk soal ketersediaan air bersih sepertinya agak terlupakan.

Adakah terdengar jeritan rakyat atas masalah-masalah hidup mereka? Masalah kesehatan masih menjadi hal yang utama di Aceh. Selain masih tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta masalah-masalah kesehatan lainnya seperti penyakit menular dan degeneratif, masalah air bersih masih menjadi keluhan bagi masyarakat Aceh.

Air yang merupkan sumber kehidupan dan kebutuhan pokok utama bagi manusia, masih menjadi kendala dalam mendapatkannya. Hal ini sebenarnya penting untuk ditelaah lebih jauh bagi para pemimpin terhadap apa yang dibutuhkan rakyatnya, bukan sibuk mengampanyekan diri supaya terpilih lagi dalam pemilihan tahun ini.

 Krisis air bersih
Hari ini merupakan Hari Air Sedunia. Banyak yang tidak mengetahuinya tentang peringatan ini, atau ada yang tau tapi tidak mau tau karena kurangnya kepedulinya terhadap air yang merupakan sumber kehidupan.

Menurut sejarahnya, Hari Air Sedunia (World Water Day), ditetapkan melalui Resolusi PBB Nomor 147/1993. Inisiatif peringatan ini dibuat untuk menyadarkan kita akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang layak pakai dan aman dikonsumsi.

Melihat kondisi air bersih yang ada di Aceh, sepertinya butuh perhatian lebih jauh mengingat air merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Walaupun Aceh mempunyai banyak sumber mata air, tidaklah menjamin bahwa rakyat Aceh mendapatkan air bersih setiap saat.

Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari kian menjadi keluhan sebagian besar masyarakat di Aceh. Bukan hanya warga perkotaan, tapi juga di desa-desa. Jika diperkotaan masyarakat mengeluhkan layanan perusahaan air minum daerah sering macet, di desa warga kesulitan air karena faktor kemarau atau pencemaran lingkungan.

Seperti diberitakan warga kawasan Lamno di Kecamatan Jaya dan Indra Jaya, Aceh Jaya mengalami krisis air bersih dan menyebabkan kesulitan dalam memperoleh air bersih. Untuk menggantikan kekurangan air bersih tersebut, maka warga harus memanfaatkan air sungai Krueng Lamno untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan konsumsi (Serambi, 15/3/2014). Padahal air sungai belum bisa dijadikan standar untuk dikonsumsi, karena banyak kandungan benda lain yang kemungkinan dapat berbahaya bagi kesehatan.

Pencemaran air sungai bisa saja terjadi karena kelalaian atau pun faktor lain, seperti di Sigli masyarakat Kecamatan Tangse, Pidie mengeluhkan tentang pencemaran sungai Krueng Inong dan Balee terkait tentang adanya kandungan merkuri. Pasalnya mereka yang menggunakan air sungai tersebut mengalami gatal-gatal saat mandi (Serambi, 14/3/2014). Hal ini tentunya dapat membahayakan kesehatan warga tersebut, karena penggunaan air yang tidak layak dikonsusmsi dapat menimbulkan masalah kesehatan sehingga menambah masalah demi masalah.

Permasalahan tentang krisisnya suplai air bersih di Aceh tentunya harus ada tindakan  dalam mengatasi masalah ini. Tapi sayangnya pemimpin kita tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka lupa bahwa rakyat juga membutuhkan perhatian mereka terkait dengan suplai air bersih.

Dalam rangka peringatan Hari Air Sedunia ini, apa wujud perhatian pemerintah dan masyarakat Aceh terhadap upaya pemeliharaan dan suplai air bersih? Tujuan diadakannya peringatan Hari Air Sedunia dengan maksud untuk menarik simpati publik terhadap pentingnya pengelolaan dan penggunaan air bersih, belumlah berarti apa-apa bagi masayarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved