SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Seungkak Malam Seulanyan

MELAWAN membutuhkan lagu. Aceh adalah tempat di mana perlawanan pernah dilakukan sekaligus lagu-lagu tentang

Karya Muhajir Abdul Azis

MELAWAN membutuhkan lagu. Aceh adalah tempat di mana perlawanan pernah dilakukan sekaligus lagu-lagu tentang itu dinyanyikan.  Pada Jumat malam (4/4)  saya mendengarkan  Seungkak Malam Seulanyan - sebuah band indie milik Komunitas Kanot Bu - menyanyikan lagu-lagu tentang itu. 

Malam itu, beberapa hari menjelang Pemilu 2014, mendengar lengkingan Fuadi Keulayu, vokalis Seungkak Malam Seulanyan, saya membayangkan beberapa petani di pedalaman Aceh Tamiang yang saya temui Februari lalu. Dikepung ribuan hektar pohon sawit milik perusahaan, para petani hidup melarat. Mereka diupah di atas tanah milik orang lain.

Di tanah tempat pertama kali batang sawit ditanam di Nusantara kebanyakan petani tidak punya tanah sejengkal pun. Dengan selembar surat keramat dari negara perusahaan menguasai ribuan hektar tanah, termasuk dapur dan kamar tidur petani masuk dalam penguasaan tersebut.

“Cut bacut bacut tanoeh Aceh ka disipat, ka jimeukat keudeih u nanggroe luwa. Nyoe tanoh kamoe, nyoe nanggroe kamoe. Dipeulumpoe Aceh nyoe kaya, aneuk muda meui idong, hana meuphom Aceh nyoe digala.”

Mendengar lirik Tanoh Kamoe saya teringat Negeri Melayu Tamiang. Lagu itu bercerita tentang tanah rakyat yang dirampas. Persekutuan di antara perusahaan perkebunan dan pejabat pemerintah yang korup memungkinkan hal seperti ini terjadi.

Kolonialisme adalah aspek sangat penting dalam lirik-lirik Seungkak Malam Seulanyan. Lirik Dialogia Lampoh Jeurat merupakan sebuah dialog dengan sejarah, terutama bagaimana kolonialisme mewariskan kesedihan sekaligus kekalahan. Mengambil tamsilan lampoh jeurat (tanah kuburan), lirik ini ingin mengatakan Aceh bukan untuk dijual kepada pihak asing. Lampoh jeurat dalam tradisi orang Aceh haram dijual atau ditukar dengan apapun, karena “inan meusapat tuleung syedara.”

Sumberdaya alam dalam perut bumi  Aceh harus digununakan oleh pemerintah  untuk kesejahteraan rakyat Aceh. Bukan untuk dibagi kepada pengusaha dari Eropa, Amerika, Jakarta atau dari benua lainnya, apalagi karena alasan balas budi politik.

Dalam lagu ini, Seungkak Malam Seulanyan menyasar langsung masalah utama rakyat Aceh saat ini: rakyat kurang sejahtera, dan kemiskinan merajalela. Pemerintah bisa saja mengundang banyak investor ke Aceh, tapi sejarah mengajarkan: investasi modal asing secara besar-besaran tidak pernah membawa kesejahteraan kepada rakyat Aceh.

Dalam lagu Merupah Tumpok, Seungkak Malam Seulanyan melancarkan kritik kepada elite politik di Aceh, yang mereka sebut saling”merupah tumpok dalam nanggroe.” Tumpok yang dimaksud di sini tentu saja pundi-pundi ekonomi dan politik di Aceh.

Perebutan kekuasaan di di Aceh yang harus mengurbankan nyawa rakyat tidak bisa ditolerir. Politik ada untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kehancuran. Tapi lihatlah, setelah perdamaian 2005, masih saja ada nyawa melayang di Aceh, dan anehnya kekerasan terjadi setiap Pemilu berlangsung. Kalau yang diinginkan adalah penguasaan atas sumber ekonomi, bagi Seungkak Malam Seulanyan, kiranya cukup jelas “Cok laju nanggroe keu gata, asai bek karu, kamoe ka sep jra.” Meskipun lirik ini terdengar agak polos .

Malam itu, Seungkak Malam Seulanyan berbagi panggung kepada penyair Fikar W Eda. Fikar membaca beberapa puisi tentang kopi dan Gayo. Sebelum meninggalkan panggung Fikar menyatakan kepada khalayak bahwa seni di Aceh mempunyai 3 fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menghibur diri si seniman. Kedua, menghibur orang ramai atau penonton. Dan ketiga pencerahan kepada orang ramai.

Saya menafsirkan tekanan “pencerahan” dari Fikar W Eda adalah bentuk lain dari perlawanan. Hari ini, perlawanan itu ada dalam hampir seluruh lirik lagu Seungkak Malam Seulanyan. Ada jeritan si miskin di ujung nafasnya, ada teriakan rakyat kecil dari dalam kerongkongannya.

* Muhajir Abdul Aziz, seorang jurnalis. Tinggal di Banda Aceh. 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help