Opini
Perempuan Aceh Hebat
JIKA melihat geliat perempuan Aceh pada masa lalu, sungguh membanggakan dan patut diacungi dua
Oleh Yelli Sustarina
JIKA melihat geliat perempuan Aceh pada masa lalu, sungguh membanggakan dan patut diacungi dua jempol. Bagaimana tidak, perempuan Aceh pernah memegang kendali pemerintahan, mulai sejak zaman Kerajaan Samudera Pase, hingga masa Kerajaan Aceh Darussalam. Lima orang perempuan Aceh yang berperan dalam pemerintahan, yaitu Sulthanah Rahi Malikah Nihrasiah Rawangsa Khadiyu, memerintah di Kerajaan Samudera Pase (1400-1427 M). Sulthanah Tajul Alam Syafiatuddin Syah, memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam (1641-1676 M). Sulthanah Nurul Alam Zakiyatuddin Syah, memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam (1676-1678 M). Sulthanah Zakiyatuddin Inayat Syah, memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam (1088-1099 M). Sulthanah Kamalat Diatuddin Syah memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam 1688-1699 M (Emtas, 2009, p.122).
Kemudian jika dilihat keterlibatan perempuan dalam membuat undang-undang (qanun), sejak dulu perempuan sudah diberi andil penuh, bahkan ada sebuah ungkapan hadih maja (majas) yang mengatakan Qanun bak Putroe Phang. Maksud dari ungkapan tersebut menyatakan bahwa qanun merupakan sebagai simbol dari Putroe Phang. Sebelum masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, di Kerajaan Aceh Darussalam belum terbentuk Mahkamah Rakyat (parlemen), atau dalam pemerintahan sekarang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Atas saran istri Sulthan Iskandar Muda yaitu Puteri Kamaliyah atau yang biasa disebut Putroe Phang, dibentuklah mahkamah rakyat sebagai lembaga kerajaan dalam bermusyawarah membuat qanun. Dikarenakan beliau yang menggagaskan mahkamah tersebut, maka oleh masyarakat Aceh dibuatlah simbol dari qanun itu Putroe Phang.
Peran perempuan tidak sebatas sebagai seorang penggagas seperti yang dilakukan oleh Putroe Phang, namun ada peran yang lebih penting lagi, yaitu membela bangsa dan negara seperti yang dilakukan oleh Laksamana Keumala Hayati. Beliau memimpin pasukan Inong Balee (perempuan janda) dalam menggalang semangat juang untuk bertempur ke medan perang. Di tangan beliaulah Aceh menjadi satu kerajaan yang sangat disegani. Beliau juga mahir dalam melakukan diplomasi, keprotokolan dan menjunjung tinggi etika. Inilah yang disebut dengan reusam, sehingga tersebutlah ungkapan Reusam bak Laksamana.
Gagal paham
Betapa hebatnya perempuan Aceh pada masa lalu. Apa yang digambarkan di atas hanya beberapa orang saja, masih banyak perempuan Aceh lainnya seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan pejuang perempuan Aceh lainnya yang menginspirasi. Semua sosok perempuan yang disebutkan di atas tidaklah terbentuk secara alamiah, tentu butuh proses sehingga mereka menjadi orang-orang hebat yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh. Lantas bagaimana perempuan Aceh saat ini?
Isu tentang perempuan tidaklah menjadi trending topic pada zaman dulu, namun peran perempuannya jauh lebih baik. Tidak perlu hukum perlindungan perempuan ataupun peraturan tentang ini dan itu mengenai perempuan. Mereka mempunyai pengetahuan tentang hak, kewajiban dan sikap serta perilaku yang baik. Pengetahuan itu didapat dari keluarga, dari para orang tua mereka, sehingga membentuk perempuan yang tangguh, mandiri dan tentunya memberi kontribusi baik untuk daerahnya.
Beda dengan sekarang, walaupun undang-undang dan berbagai aturan yang mengatur soal perlindungan terhadap perempuan sudah dibuat, namun malah kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada perempuan semakin banyak. Dan terkadang perempuan ini malah dijadikan sumber masalah, terutama terkait etika berpakaian. Pelecehan seksual yang marak terjadi, katanya dikarenakan perempuan itu sendiri yang tidak bisa menjaga auratnya dengan berpakaian yang tidak syar’i. Maka di Aceh, dikeluarkanlah peraturan tentang cara berpakaian pada perempuan.
Peraturan ini bukannya dijalani, malah menjadi-jadi bahkan beberapa waktu lalu kecolongan dengan adanya yang mengaku perempuan Aceh lewat kontes kecantikan, namun tidak berpakaian syar’i. Ditambah lagi dengan berita adanya ajang Indonesia Model Hunt 2016 beberapa waktu lalu, yang jelas-jelas melanggar etika berpakaian. Semua itu melibatkan para perempuan Aceh, kegiatan ini dilakukan tidak lain ingin menunjukkan bahwa perempuan Aceh itu hebat, dan ingin dikenal. Kegagalan paham atas arti kehebatan perempuan Aceh, telah menjatuhkan marwah para perempuan Aceh itu sendiri.
Sangat diperlukan
Sebenarnya hal-hal seperti itu tidak perlu terjadi, jika para perempuannya dibekali dengan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan hak, kewajiban, dan sikap perilaku yang harus dimiliki para perempuan. Hal ini mungkin dikarenakan kita lebih disodorkan dengan peraturan dibandingkan pemahaman akan keberadaan perempuan itu sendiri. Beda halnya dengan perempuan Aceh masa lalu yang paham betul tentang arti keberadaannya dan perannya sendiri sebagai perempuan. Maka dari itu sosialisaisi tentang peran dan kehebatan perempuan dalam konteks positif sangat diperlukan supaya tidak terjadi gagal paham.
Bagi segenap elemen masyarakat di bumi Serambi Mekkah tercinta, kami para perempuan Aceh rindu akan sosok pejuang perempuan pada masa lalu. Tentunya mustahil untuk mendatangkan kembali mereka yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun terkubur dalam bumi Aceh. Jika kami tidak bisa bertemu mereka, jadikanlah satu dari kami seperti mereka. Didik kami dengan pendidikan yang bagus, latih kami dengan pembekalan keterampilan khusus, permudahlah fasilitas kami dalam mendapatkan pelayanan publik dan kesehatan.
Lebih dari itu, bentuklah pribadi kami dengan pemebekalan jiwa kepemimpinan, karena sebenarnya yang menentukan baik buruknya nanggroe ini, tentunya, termasuk kami para perempuan. Jadi, ini saatnya fokus untuk membangun perempuan Aceh yang tangguh dan mandiri. Perempuan bukanlah pelengkap dari laki-laki namun mitra dalam melakukan berbagi hal. Oleh karenannya berilah kesempatan kami untuk melakukan yang terbaik demi kemajuan dan kesejahteraan nanggroe Serambi Mekkah ini.
* Yelli Sustarina, Mahasiswi Profesi Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh. Email: yellsaints.paris@gmail.com