KUPI BEUNGOH
Apa Karya Memang Beda!
Apa Karya adalah bagian dari pada sosok sekaligus tokoh Aceh, apapun latar belakang dan tujuan yang ingin ia raih.
“Beungoh hana keunong kupi, perseh lage koran hana berita tentang Apa Karya.
Kureung meukeutam meunan!”.
Apa Karya, begitu sebutan yang akrab kita dapati dari lelaki bernama lengkap Zakaria Saman. Kehadirannya dalam konstelasi dunia perpolitikan Aceh menjadi warna baru, unik, sekaligus menarik.
Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh tahun 2017 nanti, Apa Karya sudah memutuskan untuk ikut berkompetisi didalamnya dengan mengandeng T. Alaidinsyah sebagai wakilnya. [VIDEO Apa Karya Terisak Menangis Saat Serahkan KTP Dukungan Ke KIP]
Saat ini, Apa Karya sedang merajut narasi politik tersendiri dengan warna dan pendekatan yang hanya Apa Karya seorang yang memilikinya.
Sebelum tulisan ini terlalu jauh, perlu saya sampaikan yang bahwa tulisan ini hanyalah sebatas merekam dan mengemukakan pendapat mengenai sosok Apa Karya yang menjadi fenomena di tengah-tengah masyarakat.
Terutama yang kerap membaca koran. Penulis tidak pernah bertemu langsung dengan Apa Karya, dan jelas Apa Karya tidak mengenal saya. Terlebih lagi, saya bukanlah timsesnya.
Hal ini perlu diperjelas demi menjaga kesan mengkampanyekan seseorang ataupun dianggap bagian dari padanya. Sederhananya, mengurangi syakwasangka yang tidak perlu dan demi menjaga netralitas.
Sebagai salah seorang pentolan eks elit GAM, nama besar dan rekam jejak Apa Karya merupakan modal tersendiri yang melekat padanya. [BACA: Apa Karya Lebih Perjuangkan Perut Rakyat Ketimbang Bendera Aceh]
Tetapi, ada hal lain yang membuat Apa Karya beda dan cukup menjual, apa itu? Sikap dan bicaranya yang terkesan ‘lage na aju’.
Dengan kata lain, ceplas-ceplos. Kerap kali komentar Apa Karya menjadi sesuatu yang mengundang gelak tawa sekaligus membuat kita geleng-geleng kepala.
Masih segar dalam ingatan kita manakala salah satu komentar Apa Karya yang menjadi headline di halaman utama harian Serambi tempo hari, Apa Karya berseloroh: “kalau tidak percaya, tanyak saja Telkomsel”.
Tentu, kalimat tersebut membuat masyarakat yang sedang membaca koran sambil minum kopi, menghentikan sejenak tangganya dari mengaduk gula dalam cangkir kopi, guna larut dalam senyum simpul atau gelak tawa.
Bahkan kemarin, tindakan Apa Karya kala mengantarkan KTP sebagai salah satu syarat untuk maju melalui jalur independen ke KIP menggunakan Truk, menjadi tranding di banyak media online juga viral di ranah media sosial.
Juga pernyataanya yang mengatakan bahwa salah satu partai lokal telah menipu rakyat Aceh, membuat banyak orang mengelus dada sekaligus heran, gawat that Apa Karya troeh beuhe geuh.
Hal ini kontroversi lantaran semua orang tau, bahwa partai tersebut adalah partai yang telah membesarkan namanya, juga sebaliknya, partai tersebut besar hingga seperti hari ini tidak terlepas dari kontribusinya yang notabene orang berpengaruh di tubuh partai tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ichsan-maulana-2_20160805_201139.jpg)