Salam
Sampah, Problem Besar Bagi Kota Banda Aceh
Belakangan ini, Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota (DK3) Banda Aceh bersama dosen
Belakangan ini, Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota (DK3) Banda Aceh bersama dosen Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) rajin menyosialisasikan sistem pengelolaan sampah, terutama kepada ibu-ibu rumah tangga. Program ini bisa menjadi salah satu cara yang efektif mengatasi masalah sampah di ibu kota Provinsi Aceh dan kota-kota lainnya.
Kepala DK3 Banda Aceh, Ir Jalaluddin MT, mengatakan, kegiatan itu dilakukan secara berkelanjutan hingga tiga tahun dan akan terus dievaluasi. “Harapan akhir kami adalah kaum ibu dapat mengelola sampah organik dan anorganik.”
Program itu mengajarkan warga memilah sampah organik yang selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos. Sedangkan sampah anorganik dapat dijadikan kerajinan tangan seperti tas, keranjang, dompet, dan lain-lain. “Tahap awal, semua sampah dikumpulkan pada satu tempat dan dipilah. Tim DK3 dan para dosen akan memberi contoh ke masyarakat, selanjutnya mereka yang melakukan secara mandiri,” katanya.
Kegiatan itu, jika dilihat sebelah mata memang tak banyak artinya. Tapi, ketika banyak pemerintah perkotaan sekarang sudah sesak napas menghadapi tumpukan sampah, tentu program kecil tadi menjadi penting. Yakni untuk mengantisipasi agar sampah tak menjadi masalah besar bagi kota-kota di Aceh.
Selama ini, persoalan sampah ditimbulkan banyak faktor. Pertama, masyarakat belum cukup sadar dalam hal persampahan. Masih suka buang sembarangan. Program-program pengurangan sampah anorganik juga tidak berjalan. Beberapa waktu ada peluncuran program plastik berbayar untuk mengurangi produksi sampah anorganik. Ternyata program ini hanya berjalan beberapa hari, seterusnya kembali tersedia plastik gratis suka-suka saat belanja di manapun.
Lalu, pemerintah juga kesulitan mengangkut sampah lantaran minimnya armada serta kesulitan mengelola pekerja yang umumnya tenaga lepas atau out sourching.
Belum cukup sampai di situ, lokasi pembuangan akhir sampah juga mulai menyempit. Di pinggiran kota banyak warga yang “menyerak” sampah di tepi jalan karena tak tersedianya tempat pembuangan sampah.
Jadi, soal sampah sekarang adalah masalah serius. Dan, bila tak diantisipasi secara tepat mulai sekarang, maka ke depan sampah akan menjadi berat bagi pemerintah di Aceh.
Di kota, persoalan utama warganya adalah sampah menumpuik atau berserak di mana-mana, suplai air bersih sering ngadat, drainase atau parit banyak yang mampet, dan jalanan macet.
Oleh sebab itu, mumpung ini menjelang Pilkada, maka kita berharap setiap calon bupati atau wali kota memiliki tawaran program yang jelas dan konkrit tentang bagaimana mengatasi masalah-masalah warga perkotaan itu. Dan, isu itu kelihatannya jauh lebih “laku dijual” dalam kampanye Pilkada di perkotaan ketimbang para calon mengusung janji-janji kesejateraan, kemakmuran, dan semacamnya yang memang sudah membosankan. Nah!?