Rabu, 27 Mei 2026

Salam

Tak Boleh Anggap Enteng terhadap Difteri

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartawakan, 15 siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia

Tayang:
Editor: bakri

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartawakan, 15 siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia, Idi Rayuek, Aceh Timur, dirawat di sejumlah rumah sakit karena terjangkit difteri. Dua di antara pasien tersebut, yakni Anggi Bagus Setiawan Lubis dan M Akbar Almukhty, malah harus dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik di Sumatera Utara karena kondisinya mencemaskan.

Difteri ini tak boleh dianggap enteng dan sangat patut diwaspadai karena merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri jenis ini memproduksi racun yang dapat merusak jaringan maupun organ tubuh serta menimbulkan selaput yang menyumbat saluran pernapasan penderitanya, sehingga berakibat pada kematian.

Lebih dari itu, penyakit menular akut ini ditengarai sebagai kasus baru untuk wilayah Aceh Timur, karena sebelumnya kasus difteri tidak ditemukan di Aceh Timur, seperti dikatakan Kepala Dinas Kesehatan setempat, Kamarullah.

Kalau ditelisik data medis dalam 20 tahun terakhir, sesungguhnya kasus difteri ini juga tidak ditemukan, atau paling tidak tak pernah diberitakan, berjangkit di kabupaten/kota lainnya di Aceh. Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa bakteri berbahaya ini masuk dari luar Aceh. Ya, setidaknya dari tetangga kita, Sumatera Utara.

Apalagi siswa-siswi yang sakit itu sebelumnya menikmati liburan panjang di kampungnya masing-masing. Ada yang liburan di Aceh, ada pula yang di wilayah Sumut.

Adalah tugas Dinas Kesehatan Aceh Timur untuk mencari tahu sumber jangkitan ini. Yakni dengan cara mewawancarai dan memeriksa pasien pertama yang terjangkit, yakni salah satu siswa MAN Insan Cendikia yang kemudian dirawat di Rumah Sakit Graha Bunda pada 18 Januari 2017.

Dengan menggali data ke mana saja siswa tersebut melawat dan berinteraksi dengan siapa, atau apa saja yang dia konsumsi dan minum selama liburan, upaya itu akan menjawab dari mana bakteri difteri itu berasal dan menjangkitinya.

Dengan mengetahui sumber jangkitan, kita harapkan langkah penanganan terhadap mata rantai penularan bakteri ini bisa segera diputus dan diblokir. Kita tahu, Aceh Tamiang dan Aceh Timur adalah pintu gerbang bagi masuknya beberapa bibit penyakit dari Sumut ke Aceh, seperti halnya virus flu burung dan HIV/AIDS dulunya. Maka, sebelum daerah lainnya di Aceh dijangkiti wabah difteri ini, langkah preventif sekaligus kuratifnya harus dilakukan dengan sangat serius dan efektif di Aceh Timur.

Jika perlu dengan mendatangkan tim medis dan obat-obatan terandal dari Dinas Kesehatan Aceh agar tak bertambah lagi siswa-siswi MAN di Aceh Timur yang terjangkit. Juga jangan sampai menjangkiti warga dalam lingkup yang lebih luas.

Bagaimanapun, terhadap penyakit menular dan mematikan, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Ini yang harus dilakoni. Semoga.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved