SerambiIndonesia/

Citizen Reporter

Smolna, Saksi Bisu Perdamaian Aceh

SMOLNA Buiding merupakan gedung yang digunakan Pemerintah Finlandia sebagai tempat perjamuan bagi

Smolna, Saksi Bisu Perdamaian Aceh

OLEH MARTHUNIS BUKHARI, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, alumnus Pesantren Misbahul Ulum, kandidat master in Teacher Education, University of Tampere, melaporkan dari Helsinki, Finlandia

SMOLNA Buiding merupakan gedung yang digunakan Pemerintah Finlandia sebagai tempat perjamuan bagi tamu-tamu resmi negara. Gedung yang diarsiteki oleh Carl Ludwig Engel, seorang arsitek berkebangsaan Jerman pada tahun 1820 ini resmi dijadikan sebagai gedung perjamuan bagi kegiatan kenegaraan di tahun 1964.

Gedung yang terletak di distrik Kaartinkaupunki di dekat alun-alun pusat perbelanjaan Kota Helsinki, Finlandia, merupakan saksi bisu tempat penandatanganan nota kesepahahaman (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005. Gedung berwarna kuning muda dengan gaya arsitektur eksterior dan interior khas bangunan kerajaan abad ke-19 ini berlokasi di jantung Kota Helsinki.

Setelah hampir 12 tahun usia damai Aceh, saya bersama 29 guru Sukma Bangsa Aceh lainnya berkesempatan mengunjungi gedung yang sarat sejarah bagi masyarakat Seuramoe Mekkah ini. Gedung yang menjadi titik balik masyarakat Aceh untuk membangun kembali peradabannya setelah sempat terpuruk puluhan tahun di bawah derita konflik yang hampir tidak berkesudahan.

Begitu memasuki Gedung Smolna, kami lansung disambut oleh seorang petugas bernama Youko. Pria paruh baya yang berbadan tegap namun cukup ramah ini merupakan saksi sejarah disepakatinya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) damai Aceh.

Dia terlihat cukup senang dengan kedatangan kami yang diketahuinya berasal dari Aceh. Didampingi beberapa petugas lainnya, kami diajak mengelilingi beberapa ruangan di area gedung. Salah satunya adalah ruangan tempat mantan presiden ke-10 Finlandia, Martti Ahtisaari, sang mediator, menyatukan simpul jabat tangan antara Pemerintah RI yang diwakili Dr Hamid Awaluddin dan Tgk Malik Mahmud dari pihak GAM kala itu.

Di ruangan itu pula kami mendapati foto memorial momen bersejarah itu terjadi. Sebuah foto yang menunjukkan momentum di mana roda pembangunan dan pemberdayaan peningkatan kualitas hidup masyarakat Aceh di pelbagai aspek telah dimulai hingga hari ini.

Meskipun hari ini keadaan ekonomi masyarakat Aceh secara keseluruhan belum tergolong sejahtera, namun dari tahun ke tahun tren angka kemiskinan di Aceh makin menurun. Selama tahun 2012 hingga 2014 persentase tingkat kemiskinan masyarakat Aceh menurun dari 18,58% menjadi 16,98% (BPS Provinsi Aceh, 2015). Setidaknya, angka ini menunjukkan tren positif masyarakat Aceh untuk terus memperbaiki keadaan ekonominya setelah damai terwujud.

Bagi sebagian besar masyarakat Aceh, tahun 2017 merupakan tahun transisi percaturan politik. Gubernur terpilih Irwandi Yusuf bersama pasangannya, Nova Iriansyah, hanya tinggal menunggu saat pelantikan saja. Meskipun mereka belum resmi menjabat, setidaknya masyarakat Aceh telah mengenal dengan baik siapa nahkoda Aceh untuk lima tahun mendatang.

Irwandi Yusuf bukan hanya pelaku sejarah saat konflik bergejolak, tapi ia juga adalah gubernur Aceh pertama yang terpilih secara demokratis pascadamai tahun 2006. Berangkat dari dua pengalaman yang ia miliki, tentu amanah besar akan diembannya kembali untuk membawa masyarakat Aceh menuju kemandirian serta kesejahteraan ekonomi. Di samping itu, tanggung jawab untuk terus memelihara damai Aceh yang hampir genap berusia 12 tahun pada Agustus mendatang tentu harus menjadi salah satu poin utama dalam agenda politik yang akan dijalankannya.

Sehari sebelum mengunjungi Smolna Building, saya beserta teman-teman guru lainnya berkesempatan bertemu dengan Dubes RI untuk Finlandia, Wiwiek Setyawati Firman, yang mengamanahkan langsung kepada kami sebagai warga Aceh agar dapat mengajak seluruh elemen untuk terus berperan aktif dalam memelihara damai Aceh.

Beliau sebagai mantan Direktur HAM Departemen Luar Negeri pada tahun 2009, tahu benar betapa mahal harga yang harus dibayar masyarakat Aceh selama puluhan tahun konflik terjadi. Kerugiannya bukan hanya bersifat materil, tapi juga mengorbankan ribuan nyawa tanpa dosa. Oleh karena itu, dari momen mengunjungi Smolna, saya beserta warga Aceh lainnya saat ini di Finlandia hanya bisa mendoakan dan mengajak seluruh perangkat masyarakat Aceh agar terus memelihara damai yang telah dengan susah payah diwujudkan.

Jikapun terdapat perselisihan dan perbedaan pandangan antara satu kelompok politik dan lainnya, semoga perbedaan tersebut dapat disikapi secara bijak atas dasar kemaslahatan masyarakat Seuramoe Mekkah tercinta ini. Semoga pula Smolna akan terus dikenang generasi mendatang sebagai tempat perdamaian Aceh bersemi dan nota kesepahamannya ditandatangani.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help