SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Belajar Menjadi Orang Tua Sejati

INDONESIA merupakan satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Berdasarkan data CIA World Factbook 2016

Belajar Menjadi Orang Tua Sejati
facebook.com
Sebuah keluarga tanpa ayah dan ibu di Aceh Utara 

Oleh Afrili Suyari

INDONESIA merupakan satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Berdasarkan data CIA World Factbook 2016, Indonesia menduduki peringkat 4 terbesar dengan jumlah penduduk 258.316.051 jiwa. Dari 258 juta jumlah penduduk Indonesia, penduduk dengan komposisi usia 19 tahun ke bawah sebesar 37.67% (BPS). Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 1/3 jumlah penduduk Indonesia merupakan anak-anak.

Anak-anak adalah satu modal penting bagi sebuah negara untuk maju dan berkembang, sehingga anak-anak perlu mendapat perhatian khusus dari keluarga, komunitas dan juga pemerintah. Namun sayangnya seringkali kita abai terhadap hak-hak dasar mereka, bahkan perlakuan yang tidak menyenangkan sering mereka terima.

Media massa, beberapa tahun terakhir banyak memberitakan kasus kekerasan terhadap anak. Di antaranya seperti kasus penganiayan Angelina di Bali, kasus pelemparan bayi ke dalam tungku oleh ayah kandung di Sukabumi, kasus pembunuhan batita oleh ayah kandung di Kalimantan, hingga kasus penganiayaan anak oleh ibu kandung yang seringkali kita dengar di berbagai daerah lainnya. Mirisnya pelaku kekerasan pada anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekat, yakni orang tua.

Menjadi pelindung
Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung dan penanggung jawab atas keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan anak sebagaimana yang termaktub dalam amanat UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada masa ini justru menjadi sosok yang memiliki potensi besar melakukan kekerasan terhadap anak.

Hal ini sebetulnya dipicu oleh hal-hal sepele yang tidak disadari oleh kebanyakan orang tua. Banyak orang tua menganggap bahwa kekerasan yang dilakukan adalah bagian dari upaya pendisiplinan anak. Dimulai dari membentak anak dengan kalimat kasar hingga menyakiti anak secara fisik (memukul anak dengan ikat pinggang, rotan, dan lain-lain). Sepertinya orang tua kurang menghayati bahwa keluarga adalah lingkungan pertama anak untuk belajar mengenai nilai dan norma yang berlaku di lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Selayaknya proses pembelajaran pada umumnya anak, tentu pernah melakukan kesalahan atau tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Namun bentuk kesalahan anak langsung dimaknakan sebagai perilaku nakal/bandel oleh orang tua, sehingga anak diberikan hukuman, yang terkadang tanpa disadari merupakan sebuah tindakan kekerasan terhadap anak.

Menurut Azevedo dan Viviane, kekerasan terhadap anak dapat diklasifikaskan ke dalam empat bentuk, yakni: Kekerasan fisik (seperti penyiksaan, pemukulan dan penganiayaan); Kekerasan psikis (seperti penghardikkan, penyampaian kata-kata kasar dan kotor, memperlihatkan buku, gambar atau film pornografi); Kekerasan seksual (melalui kata, sentuhan, gambar visual), dan; Kekerasan secara sosial (seperti penelantaran anak dan eksploitasi anak).

Dari empat bentuk pengelompokan kekerasan diatas seringkali kasus kekerasan terhadap anak yang muncul kepermukaan media adalah bentuk kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Sangat disayangkan masyarakat kita belum begitu concern terhadap bentuk kekerasan lain yang sebetulnya mungkin selama ini dialami oleh anak-anak kita tanpa disadari oleh kita orang tuanya, yakni kekerasan psikis/kekerasan verbal.

Saat menghadapi anak yang berbuat salah, pada umumnya orangtua langsung secara spontan menghardik anak dengan nada suara tinggi atau bahkan ada yang sampai menggunakan kata-kata kotor. Taukah kita setiap hardikan/bentakan yang kita berikan pada anak usia 0-3 tahun dapat membunuh sel otaknya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help