SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Peran OKI terhadap Rohingya

MENURUT data resmi yang diakui militer dan pemerintah Myanmar menyatakan, ada 399 orang yang tewas

Peran OKI terhadap Rohingya
ANTARA FOTO/REUTERS/MOHAMMAD PONIR HOSSAIN
Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di jalan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, Jumat (1/9/2017). 

Oleh Mizan Aminuddin

MENURUT data resmi yang diakui militer dan pemerintah Myanmar menyatakan, ada 399 orang yang tewas dalam seminggu ini. Mereka adalah 370 gerilyawan Rohingya, 13 aparat keamanan, dua pejabat pemerintah dan 14 warga sipil. Badan keamanan PBB mencatat sekitar 38.000 warga etnis Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar untuk menghindari operasi militer. Sementara, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sejauh ini belum berkontribusi banyak untuk menyelamatkan komunitas Rohingya di Myanmar.

Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang minoritas Rohingya mengejutkan dunia lagi dengan deskripsi tentang kekejaman yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar. Mulai dari anak-anak yang terpotong sampai mati, perempuan diperkosa hingga desa-desa dibakar. Tindakan brutal ini tidak dapat dibenarkan karena merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Meskipun memiliki banyak bukti tentang pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar, dunia belum melakukan tindakan serius terhadap pemerintah di Naypyidaw, ibu kota Myanmar. Di antara sekian banyak organisasi yang berusaha melindungi Rohingya, ada satu yang jelas harus memimpin inisiatif ini, yaitu OKI. Dari semua entitas internasional, OKI berada pada posisi terbaik untuk melakukan perjuangan komunitas Rohingya.

Tidak hanya secara resmi mewakili negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, namun juga menyambut baik negara-negara kuat dengan minoritas Muslim seperti Amerika Serikat, Cina, dan Rusia untuk memiliki perwakilan mereka sendiri dalam organisasi tersebut.

Ini memiliki pengaruh untuk memimpin tindakan internasional untuk melindungi Rohingya dan di masa lalu telah membela Muslim yang dianiaya di Palestina dan Kashmir.

Melarikan diri
Undang-undang Myanmar 1982 menghapus Rohingya untuk akses kewarganegaraan penuh. Sejak saat itu anggota komunitas Rohingya diusir dari Myanmar. Banyak yang telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, dan dari sana lari lagi ke negara lainnya.

Sulit menentukan berapa banyak warga Rohingya yang bermigrasi, tapi saat ini ada sekitar 400 ribu di Arab Saudi dan sekitar 200 ribu di Pakistan dan sebagian besar melarikan diri melalui Bangladesh. Pemerintah Myanmar telah berusaha untuk menghapus puluhan tahun kekerasan dan penindasan terhadap Rohingya dengan mengutip masalah keamanan untuk membenarkan kampanye brutalnya.

Dalam satu pertemuan luar biasa yang berlangsung di Kuala Lumpur pada 19 Januari 2017, OKI mengkritik Myanmar dalam menangani masalah Rohingya. OKI mendesak pemerintah Myanmar untuk mengizinkannya dan delegasi internasional lainnya mengunjungi wilayah yang dilanda kekerasan tersebut. Sayangnya setiap kali ini terjadi, pihak berwenang Myanmar telah menyiapkan lebih banyak kekuatan dan penganiayaan yang lebih brutal.

Kecaman OKI atas kekerasan terhadap Rohingya kembali ditegaskan dalam laporan Kantor Komisioner Tinggi HAM untuk PBB pada 3 Februari 2017 lalu. Upaya OKI untuk menciptakan tekanan melalui badan-badan PBB lainnya seperti Komisi Hak Asasi Manusia juga telah gagal dan situasi di lapangan terus memburuk. Dalam konteks ini, organisasi internasional seperti OKI memiliki mekanisme yang lemah untuk mengimplementasikan resolusi mereka.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help