SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Basmi Riba dengan Infak dan Sedekah

PERKEMBANGAN riba semakin marak di pasar yang melibatkan rentenir, koperasi, dan perbankan

Basmi Riba dengan Infak dan Sedekah
Direktur Bank Aceh, Busra Abdullah, bersama Sekda Aceh/Komut Bank Aceh, Drs Dermawan MM dan Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK, Ahmad Soekro Tratmono menandatangani piagam pencanangan program GeraiKu Bank Aceh (Gerakan Inklusi Keuangan Bank Aceh) yang disaksikan Kepala Departemen Regional I Bank Indonesia, Dr Dian Ediana Rae dan Ketua Dewan Pengawas Konversi Bank Aceh, Adnan Ganto pada acara grand launching Bank Aceh dari sistem konvensional ke sistem syariah di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Senin (3/10). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Muhammad Sahar

PERKEMBANGAN riba semakin marak di pasar yang melibatkan rentenir, koperasi, dan perbankan. Tiga pemilik modal ini mengambil keuntungan (riba) berbeda-beda mulai dari 6% hingga 20%. Rentenir dan koperasi mengambil keuntungan berkisar 20% dari modal yang diberikan kepada nasabah. Misalkan Rentenir memberikan modal kepada nasabah Rp 1.000.000, maka nasabah harus mengembalikan sebesar Rp 1.200.000.

Metode pengambilan keuntungan yang dipraktikkan oleh rentenir dan koperasi di pasar dikenal dengan istilah “11-12”. Sementara pihak perbankan mengambil keuntungan sebesar 6% dari jumlah modal yang diberikan kepada nasabah. Misalkan modal yang diberikan sebesar Rp 1.000.000, maka pihak nasabah harus mengembalikan sebesar Rp 1.060.000.

Sistem ribawi yang terjadi di pasar saat ini sangat sulit dihilangkan, hampir 90% pihak nasabah mengambil pinjaman dari rentenir, koperasi dan perbankan. Maraknya perkembangan riba di pasar bukan karena tidak adanya sistem syariah, tapi karena minimnya sistem pengelolaan infak dan sedekah sebagai modal usaha dari kalangan umat muslim.

Sistem ribawi tidak akan musnah di pasar, jika pengelolaan infak dan sedekah tidak hidup dari kalangan umat muslim. Allah Swt berfirman, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. al-Baqarah: 276).

Infak dan sedekah
Infaq (dalam ejaan Bahasa Indonesia ditulis; infak) berasal dari kata anfaqa, yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infak mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk sesuatu kepentingan yang diperintahkan Islam.

Sementara pengertian shadaqah (dalam ejaan Bahasa Indonesia ditulis; sedekah) berasal dari kata shadaqa, yang berarti benar. Secara terminologi syariat, sedekah makna asalnya adalah tahqiqu syai’in bisyai’in (menetapkan/menerapkan sesuatu pada sesuatu).

Pengolaan dana infak dan sedekah sebagai modal usaha, tentunya bukan secara serta-merta diberikan tanpa ada pengawasan secara berkala, yang akhirnya akan menyebabkan kegagalan. Namun sistem pengelolaan dana infak dan sedekah harus tersusun dengan sistematis.

Ada beberapa tahapan dalam mengelola dana infak dan sedekah: Pertama, dalam pengelolaan infak dan sedekah sebagai modal usaha harus ada donatur tetap (infak wajib) dari kaum muslim. Bila sewaktu-waktu donatur tetap tidak mampu menginfakkan, maka diperbolehkan untuk keluar dari kelompok. Di samping itu, adanya donatur tidak tetap, yaitu donatur yang menginfakkan sedekahnya secara bebas tanpa terikat jumlah, waktu dan keadaan.

Kedua, adanya lembaga dan pengelola. Seyogyanya keberadaan lembaga penting dalam mendirikan sebuah badan usaha di bidang jasa keuangan. Dengan adanya lembaga tersebut, maka dana infak dan sedekah akan lebih teratur sistem pengelolaannya. Selain itu, diperlukan pengelola modal dana infak dan sedekah. Mereka memiliki karakter yang dapat dipercaya secara penuh kejujuran dan komitmennya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help