Opini
Digitalisasi dan Kerapuhan Sosial
PERUBAHAN sosial yang sedang kita alami dalam dua dekade terakhir telah menghadirkan sebuah generasi yang berbeda secara radikal
Hidayat Isa, Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik, Diskominsa Aceh Barat dan Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Program Magister, FISIP UTU
PERUBAHAN sosial yang sedang kita alami dalam dua dekade terakhir telah menghadirkan sebuah generasi yang berbeda secara radikal dari generasi sebelumnya. Generasi yang tumbuh bersama gawai, internet, dan media sosial kini sering disebut sebagai generasi digital. Mereka terhubung satu sama lain dalam kecepatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Informasi hadir dalam hitungan detik, percakapan berlangsung tanpa batas ruang dan waktu, serta peluang terbuka lebar untuk belajar maupun berkarya. Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, sosiologi memberi peringatan yang mendalam: masyarakat kita justru semakin rapuh. Rapuh secara sosial, psikologis, bahkan kultural. Fenomena ini bukan sekadar anekdot, tetapi sudah menjadi pola yang dapat dibaca dari berbagai gejala sosial.
Media sosial sering dianggap sebagai ruang baru bagi interaksi manusia. Ia menjanjikan keterhubungan yang lebih luas, memperkecil jarak geografis, dan memperluas jaringan sosial. Namun, sosiologi menunjukkan bahwa intensitas komunikasi tidak selalu berarti kualitas hubungan yang lebih baik. Kita sering menemukan paradoks: semakin sering orang berinteraksi secara digital, semakin besar pula rasa kesepian yang mereka rasakan di dunia nyata.
Fenomena ini sejalan dengan konsep alienasi sosial yang pernah dibahas Karl Marx, meskipun dalam konteks berbeda. Kini alienasi tidak hanya hadir dalam relasi kerja, tetapi juga dalam hubungan sosial digital. Generasi muda banyak yang merasa “terhubung tetapi terasing,” karena interaksi yang terjadi bersifat dangkal, cepat, dan terputus dari kedalaman makna. Percakapan di media sosial jarang memberi ruang untuk refleksi, empati, atau pertukaran gagasan yang substansial. Semua bergerak dalam ritme “scroll, like, share” yang menumbuhkan keterhubungan semu.
Krisis identitas
Dalam dunia digital, identitas menjadi sesuatu yang cair. Setiap orang bisa menciptakan versi dirinya yang berbeda di media sosial. Dari perspektif sosiologi, ini bisa dibaca sebagai fenomena presentasi diri ala Erving Goffman. Di panggung digital, individu berusaha menampilkan citra terbaiknya: gaya hidup, pencapaian, atau bahkan rekayasa kebahagiaan.
Masalahnya, realitas sering kali tidak seindah yang ditampilkan. Perbedaan antara kehidupan nyata dan “kehidupan yang dipamerkan” melahirkan tekanan psikologis, rasa tidak cukup, bahkan depresi.
Budaya instan juga tumbuh subur. Generasi digital terbiasa dengan kecepatan: mencari jawaban lewat mesin pencari, menonton video singkat, hingga menikmati hiburan on-demand.
Sosiologi memandang ini sebagai pergeseran nilai: dari etos kesabaran menuju etos instan. Akibatnya, ketahanan sosial menurun. Individu cenderung sulit menghadapi proses panjang, mudah putus asa, dan lebih rentan terhadap stres. Rapuhnya daya tahan inilah yang menjadi salah satu gejala utama masyarakat digital.
Digitalisasi sering disebut sebagai jalan menuju demokratisasi informasi. Namun, kenyataannya tidak semua orang memiliki akses yang sama. Di Indonesia, misalnya, kesenjangan akses internet antara perkotaan dan pedesaan masih sangat lebar. Generasi muda di kota besar tumbuh dengan segala kemudahan teknologi, sementara di banyak pelosok, anak-anak masih berjuang sekadar untuk mendapatkan sinyal.
Dari sudut pandang sosiologi, hal ini menciptakan ketimpangan struktural baru. Jika sebelumnya masyarakat terbelah karena faktor ekonomi, kini pembelahan juga terjadi karena faktor akses digital. Mereka yang “melek digital” memiliki peluang lebih besar dalam pendidikan, pekerjaan, dan mobilitas sosial. Sebaliknya, mereka yang tertinggal akan semakin termarjinalkan. Ketimpangan ini berpotensi memperkuat stratifikasi sosial yang sulit ditembus.
Habermas dalam teorinya tentang ruang publik menekankan pentingnya diskusi rasional sebagai dasar demokrasi.
Namun, di era digital, ruang publik yang dimediasi media sosial sering kali berubah menjadi ruang manipulasi. Informasi palsu, ujaran kebencian, hingga politik identitas berkembang dengan cepat. Generasi digital, yang terbiasa mengonsumsi informasi singkat, sering kali tidak memiliki waktu atau keterampilan untuk memverifikasi kebenaran informasi.
Akibatnya, mereka mudah terjebak dalam arus opini yang diproduksi oleh buzzer, bot, atau propaganda politik. Demokrasi digital yang diharapkan memberi ruang partisipasi justru sering melahirkan polarisasi tajam. Masyarakat rapuh karena kehilangan fondasi bersama dalam membangun konsensus sosial.
Krisis solidaritas
Salah satu indikator rapuhnya masyarakat digital adalah menurunnya solidaritas sosial. Durkheim pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern bisa mengalami anomik, yaitu kondisi di mana norma dan nilai bersama melemah. Kini, fenomena itu semakin terlihat jelas. Solidaritas mekanis yang dulu mengikat masyarakat tradisional telah tergantikan oleh hubungan individualistis di dunia digital.
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hidayat-Isa.jpg)